LOADING

Type to search

Keilahian dan Kemajuan

COLUMN

Keilahian dan Kemajuan

Naufal Malik 24/10/2017
Share

“Demi masa”

“Sungguh kita tersesat”

Belakangan ini saya sedang mengulik lagu-lagu ciptaan suatu band yang menurut saya cukup beda dari yang lain di masa sekarang. Tiap-tiap lagunya seperti memiliki arti yang penting, semacam pesan bagi yang mendengarnya. Salah satu lagu itu berhasil mengajak saya untuk berhenti sejenak dan berpikir lebih dalam. Tapi sebelumnya ini hanya penafsiran pribadi yang mungkin saja si pembuat lagu tidak bermaksud seperti itu.

Mungkin jika kita melihat perkembangan masyarakat, terutama kalangan muda di kota-kota besar, sudah mulai melepas diri dari ikatan religi. Setidaknya ini terjadi di lingkungan saya, kalau mereka-mereka yang mencoba lepas atau mungkin sudah benar-benar meninggalkan peribadatan kebanyakan adalah orang-orang yang cukup kritis dalam menilai sesuatu. Kasarnya orang-orang ini telah membaca banyak buku, berdiskusi dengan orang-orang hebat, berkontemplasi di kesunyian, dan lainnya sehingga mereka berkesimpulan bahwa kemerdekaan pikiran adalah tiada batas. Hal-hal yang menghambat atau melarang untuk berpikir harus hilang dan musnah. Beberapa yang ekstrem bahkan menganggapnya penyakit, candu, dan kebodohan sehingga cenderung menjadikan ajaran religi sebagai kambing hitam setiap ada gejolak.

Saya kira hal tersebut tidaklah benar, karena menggunakan argumen klasik yang berbunyi “yang salah adalah orangnya” sudah tertanam dalam kepala. Tapi begitu banyak agama-agama di muka bumi yang pasti selalu ada pengikutnya yang “tersesat lalu menyesatkan”. Kecenderungan orang-orang yang selalu menggunakan argumen di atas adalah menyalahkan agama lawannya yang dianggap “sesat dan tidak masuk akal”. Ditambah selama pengalaman hidup di lingkungan homogen, saya selalu diajarkan atau lebih tepatnya didoktrin mengapa ajaran saya benar dan yang lain adalah penyimpangan oleh setan. Tempat ibadah saya pun kebanyakan selalu menggaungkan rasa takut dan kecemasan adanya serangan dari luar agar agama saya musnah, yang pada akhirnya menanamkan rasa curiga dan permusuhan terhadap sesama manusia. Lucunya jika sampai pada sesi “agama kami yang paling benar dan masuk akal” para ahli surga ini menyajikan data-data dari kaum yang dianggap sesat. Ada semacam ke-hipokrit-an disini karena di satu sisi mereka dianggap salah tapi di sisi lain temuan mereka bernilai benar. Kalau ajaran saya yang paling benar maka mengapa justru orang kafir yang memberikan dalil pembenarnya?

“Membiaskan yang haram”

“Karena kita manusia”

Mari kita lihat kondisi nyata, coba ambil kasus pembakaran orang yang dituduh maling sound masjid. Coba pikirkan komposisi mereka yang mengeroyoki dan membakar tanpa adanya suatu pembuktian benar atau tidaknya kejadian, ada beberapa dari orang yang sedang di masjid tersebut bukan? Dalam pemahaman saya mereka beribadah dan mencoba mendekatkan diri pada Tuhan lalu tepat setelahnya berbuat dosa besar. Apa gunanya ibadah mereka kalau yang dilarang Tuhan saja mereka lakukan? Belum lagi tentang orang-orang yang nyeleneh dan selalu berijtihad (menggunakan akal apabila tidak ada aturannya dalam Al-qur’an dan As-sunnah) untuk membenarkan perbuatan makruh dan haram. Selalu ada pertanyaan apa yang salah dengan mereka?

Karenanya saya menyesatkan diri. Mungkin beberapa liter alkohol? Jejamuan? Daun-daun terlarang? Hubungan seksual? Mencari-cari jawaban tapi malah kecanduan distraksi duniawi ini. Paling benar adalah mencoba terpisah dulu sejenak dengan doktrin-doktrin masa kecil dan berdiskusi tanpa batas hingga larut malam. Bertemu, berkenalan, lalu berbincang dengan orang-orang yang tidak percaya Tuhan dan agama memberikan saya kesimpulan bahwa setidaknya mereka terdiri dari dua kelompok. Kelompok pertama adalah orang-orang yang ingin memajukan diri atau masyarakat, yang telah bebas terbang dalam kepalanya untuk mencari jawaban setiap masalah duniawi. Kelompok kedua terdiri dari makhluk-makhluk yang meliuk-liuk terbawa arus perubahan sehingga ikut saja karena hal-hal sepele seperti artis favoritnya ateis maka ia ikuti.

“Demi masa”

“Sungguh kita terhisap”

“Ke dalam lubang hitam”

“Karena kita manusia”

Lihat beberapa negara maju di dunia. Populasi orang-orang yang tak beragama di sana tumbuh subur, sebanding dengan peningkatan pelayanan publik dan taraf hidup warganya. “Jika ingin maju maka tinggalkanlah agama” pernyataan berbau sekuler ini dianggap sebagai kebenaran. Teori pemisahan kuasa raja dengan gereja dan semangat zaman pencerahan di Eropa dulu dijadikan panduan untuk intelektual muda negeri ini agar dapat berjaya. Cara berpikir saintifik selalu digunakan agar setiap tindakan memiliki arti. Oleh karenanya Tuhan dan agama selalu disingkirkan karena secara sederhana keduanya dianggap tidak masuk akal. Tidak ada kehidupan setelah mati, hanya ada kekosongan saja. Amal pahala dan dosa adalah alat untuk manusia selalu takut, tepatnya takhayul adalah senjata paling ampuh untuk mereka yang “tidak tercerahkan”.

Tapi bukankah nilai-nilai religius adalah ciri dari masyarakat kita? Bahkan dasar negara, rasa syukur kemerdekaan, putusan hakim, hingga setiap peraturan yang dibuat pemerintah selalu atas nama ketuhanan yang maha esa. Memangnya tidak bisa dalam kemajuan diiringi oleh kepasrahan diri kepada yang maha pencipta?

“Pada saatnya nanti”

“Tak bisa bersembunyi”

“Kita pun menyesali”

“Kita merugi”

Beberapa minggu yang lalu saya datang untuk mendengar orang yang saya anggap hebat dalam berpikir. Dia mengatakan telah terjadi lima revolusi di dunia ini. Pertama di Belanda untuk merdeka dari Imperium Spanyol, kedua di Amerika Serikat untuk memperjuangkan hak asasi manusia, ketiga di Prancis untuk memperjuangkan persamaan antar manusia, yang keempat di Rusia untuk mewujudkan cita-cita masyarakat tanpa kelas, dan yang terakhir kelima di Indonesia untuk menghapuskan penjajahan di dunia sekaligus membawa Tuhan yang maha esa sebagai pembimbingnya. Sifat religius itu yang membawa kita semua menjadi manusia merdeka, bukan masyarakat kelas tiga dalam golongan penduduk hukum kolonial. Melepaskan peran agama dalam kemajuan negara ini menurut saya bukan hal yang tepat, karena unsur agamalah yang memajukan dan menyatukan kita. Setiap agama mengajarkan kebaikan pada sesama dan itu yang mendorong para pendiri negeri ini untuk menghapuskan penjajahan dalam bentuk apapun. Selayaknya perlu ada suatu cara agar agama bukan sebagai pencerai-berai tapi menjadi perekat sehingga para pemecah-belah yang dijadikan musuh bersama, bukannya kaum minoritas.

Terakhir adalah tentang kesombongan manusia yang sebanding dengan kebutuhannya yakni tidak terbatas. Coba jangan berpikir karena tidak dapat dimengerti berarti tidak ada. Contohnya seperti dulu orang tidak percaya matahari adalah pusat tata surya atau bumi itu bulat, kemajuan zaman membuktikan sebaliknya. Tidak mungkin manusia dapat terbang kata orang dulu, dan sekarang setiap harinya selalu ada orang yang di udara. Cobalah lebih mawas diri dan berpikir sejenak, karena itu yang menjadikan kita manusia, adanya akal dan nurani.

 

“Pada siapa mohon perlindungan”

“Debu-debu beterbangan”

 

Ilustrasi oleh Raka Dimas

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *