LOADING

Type to search

Keuken 10: Festival Kuliner di atas Pusat Perbelanjaan yang Sekarat

EVENT FEATURED

Keuken 10: Festival Kuliner di atas Pusat Perbelanjaan yang Sekarat

INCOTIVE 10/08/2019
Share

Reporter: Alfan Ahmad Atharik

Festival Kuliner sembari melihat langit Bandung yang mendung serta rumah-rumah di sekitar yang sedang mati lampu. Riuh ramai yang hangat tetapi disejukkan oleh angin sepoi-sepoi. Suasana yang jarang ditawarkan oleh event manapun. Panitia dan pihak yang terlibat telah berhasil menyampaikan visi dari Keuken yang ke 10, “Addressing the issues of public space utilizations with wisdom of street-inspired culture”.

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang diadakan Yonkav 4. Kali ini Keuken dengan beraninya mengadakan acara di pusat perbelanjaan yang sekarat, yaitu Bandung Trade Mall! Terdengar asing? Sebelum ada acara Keuken 10, saya juga tidak tahu gedung di daerah Kiaracondong tersebut.

Aliran listrik di rumah yang masih mati mengakibatkan saya bergegas untuk berangkat menuju Bandung Trade Mall. Sekitar jam 4 sore, saya tiba di Bandung Trade Mall. Antrian kendaraan roda empat sudah mengekor, sekitar belasan mobil di depan kami. Karena sudah kelaparan saya mencoba menyerobot antrian dari lajur kanan, Maaf ya yang keserobot hehe.

Ketika saya hendak mengambil tiket masuk, petugas parkir menyampaikan bahwa tempat parkirnya sudah penuh. Karma. Akhirnya saya parkir cukup jauh di Lucky Square. Animo masyarakat Bandung sangat besar untuk acara ini, impresi awal yang baik.

Saat masuk kawasan Bandung Trade Mall, saya mengamati fenomena menarik. Mall yang kurang terawat dan agak gelap ini dipenuhi anak muda yang menggunakan busana ala-ala We The Fest, generasi Z banget deh, kelihatannya busana yang mereka pakai tidak ada yang dibeli dari Bandung Trade Mall.

Alinea baru dan saya masih membahas Bandung Trade Mall, karena memang yang saya salutkan adalah cara Kekeun mentransformasi tempat yang cocok digunakan untuk Shooting film The Raid menjadi festival yang menyenangkan. Setengah dari ruko sudah tutup, setengahnya lagi bahkan tidak ada pembeli.

Saat naik ke lantai 2, pemandangan yang sama terlihat. Setengah ruko yang buka menjual perlengkapan komputer, seperti Pasar Glodok yang terlihat muram. Hal yang meyakinkan bahwa mall ini sekarat adalah adanya eskalator yang tidak menuju kemana-mana. Saya bukan lulusan SAPPK ITB, tapi menurut saya ini sangat ngaco.

Setelah melewati tempat yang absurd secara desain tersebut, kami akhirnya berhasil tiba ke rooftop dari Bandung Trade Mall. Mantap sekali acara ini, di depan disambut dengan sirkuit mini-bike dan turnamen  bola basket 3 on 3. Suasana yang langsung mengundang rasa ceria.

Puluhan tenant dari tempat-tempat kenamaan di Bandung seakan memanggil saya untuk segera menghabiskan uang bulanan demi kenikmatan sementara. Saat pertama kali masuk area makanan saja kami disambut dengan sosis sebesar Ular Sanca.

Demografis pengunjung pun sangat variatif. Selain didominasi generasi Z, banyak pula papa dan mama muda yang membawa anaknya yang masih seumuran dengan Xabiru. Sebenarnya tempat ini kurang family friendly dikarenakan asap rokok, angin kencang dan anak muda yang bahasanya  “Anjeeng sia kamana wae euy?” Bahaya kan kalo anak kecil ikut ngomong kasar? Belum lagi ditambah masuk angin.

Fenomena mengasyikan di Keukeun ketika saya melihat banyaknya orang yang berbincang dengan teman lama yang sudah lama tidak berjumpa, kalimat seperti “Anjeeng sia kamana wae euy?” sering terdengar. Jaringan sosial Bandung yang memang tidak luas-luas amat membuat rooftop BTM yang luas ini menjadi intim.

Tidak hanya bazaar makanan, Keuken Bandung juga menampilkan berbagai macam pertunjukan. Ada Trampolin dan Istana balon yang tidak diperuntukan untuk generasi Z. Untuk pecinta musik akan dimanjakan dengan DJ Booth di sisi barat dan penampilan band syahdu di sisi timur. Untuk mama muda bisa nangkring di area demo masak. Semua kalangan dimanjakan di sini.

Setelah melewati hiruk pikuk harumnya Cumi Bakar, Salmon Mentai dan puluhan aroma lezat lainnya, di ujung tenant ada area kopi yang sangat adem untuk menanti senja. Karena tidak ada lirik lagu yang menunjukkan jika senja cocok dinikmati dengan Cumi Bakar. Setelah ngopi dan basa basi, kalian dapat melihat area pameran bandcraft yang menarik. Layout acara ini cukup baik dan tidak memusingkan.

Artikel tentang festival kuliner tapi saya belum bahas tentang kulinernya ya? Tenant-tenant di sini sebetulnya sudah tidak asing lagi, mulai dari Arromanis dan Dianty Daily sebagai penguasa Wira Angun menyajikan signature dish masing-masing. Lalu, Mangkok Manis dan Lets Go Gelato saling berebut segmen pasar yang sama. Tenant-tenant yang sering dijumpai di event bazaar seperti Squidimor dan Carne pun tidak ingin kelewatan untuk meramaikan acara yang media partnernya seabreg ini.

 

Yang mencuri perhatian di acara ini di antaranya adalah Los Tropis, kedai jus buah yang memang sedang populer ini. Los Tropis saat itu tidak pernah kehabisan antrian seperti level Hard Diner Dash, ini serius! Tidak ketinggalan gelas dan ornamen serba putih langsung di unggah ke media sosial oleh konsumennya. Menjelang malam, Marase ramai dengan antrian, sei sapi memang tidak pernah salah dalam kondisi apapun.

Selain antrian, ada variable lain yang membuat suatu tenant saya sebut menarik. Brother Jonn & Sons yang membawa mobil van besar tentu membuat pengunjung tertarik, di samping fakta bahwa Burger mereka memang sangat mantap. Seandainya Jonn & Sons berafiliasi dengan Gofar Hilman mungkin antriannya akan mengekor sampai lantai bawah. Sekut cuy!

Berbagai tenant menarik, tetapi uang bulanan saya yang terbatas mengakibatkan saya hanya dapat mencoba Mister Seafood, Mangkok Manis, Salmon Mentai dan Lungo Pottatoe. Beberapa makanannya enak, beberapa lagi tidak terlalu.

Kesampingkan keasyikan dan kelezatan tenant-tenant, acara ini masih ada kekurangannya juga kok. Hal kecilnya adalah Musholla dan toilet yang terbatas, tapi puji yang sebesar-besarnya untuk pegawai kebersihan BTM. Walaupun mereka tidak well dressed tetapi pelayanan yang saya terima tidak jauh dari hotel bintang 5. Mukena yang tidak tersedia pun sempat mereka carikan dahulu. Great Service makes people come back! Semoga panita Keuken memberi tip yang layak bagi para pegawai kebersihan.

Keterbatasan tempat duduk sudah menjadi masalah klasik untuk festival kuliner seperti ini. Tidak adanya sistem antrian membuat beberapa orang sradak-sruduk saat memesan. Bukan pengalaman menyenangkan saat mengantri 15 menit, lalu ada orang tidak tahu norma menyerobot antrian kita. Bad experience!

Berbagai kelebihan dan kekurangan dari Keuken 10 akan menjadi bahan evaluasi untuk Keuken berikutnya yang saya yakini akan lebih baik lagi. Terima kasih banyak kepada seluruh pihak yang terlibat dalam acara ini. Sukses dan menyenangkan! Tips dari saya coba undang RM Ampera, laper banget soalnya saya, porsinya pada unyu-unyu di sini hehe.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *