LOADING

Type to search

Gores Warna Akses Sosialita: Kisah di balik Kanvas Jalanan

FEATURED SELECTION

Gores Warna Akses Sosialita: Kisah di balik Kanvas Jalanan

INCOTIVE 20/06/2019
Share

Teks dan foto oleh Irmaa Purnama

Hiruk pikuk hari itu, tepat pada pukul 5 sore jalanan Braga sudah mulai penuh dipadati lalu lalang kendaraan maupun wisatawan yang sedang ngabuburit untuk bersiap berbuka puasa. Tak sedikit kursi-kursi di pinggir jalan penuh dengan anak-anak muda yang asik duduk bercengkrama ataupun sekedar mengambil foto.

Saya berjalan menyusuri jalanan sepanjang Braga, kemudian mata saya tertuju kepada sesosok pria berumur sekitar 40 tahunan. Ia duduk di kursi jalanan sambil melihat orang-orang yang berjalan melaluinya. Sesekali terlihat ia menawarkan karyanya kepada orang yang melintas, “Lukisannya Neng, Pak, mangga  dilihat dulu”.

Ada yang hanya sekedar menengok ke arahnya, ada pula yang berhenti sejenak untuk melihat beberapa pajangan lukisan yang tepat berada di belakang beliau. Tak sedikit pula anak muda bergaya ootd lengkap dengan kamera SLR sedang berpose cantik bak model. Sesekali mereka bersandar pada lukisan yang berada di belakang bapak tersebut. Tak lama kemudian bapak itu menuju ke lukisan yang tertata apik di belakangnya sembari ia mengatur kembali posisi lukisan-lukisan yang miring karena tersentuh dengan model yang berpose tadi.

Seketika saya tertarik untuk mendekatinya. Tak lama setelah berkenalan dan berbasa-basi, Pak Iin Solihin atau yang sering disapa Iin ini menjawab dengan antusias, “Iya neng, dari ujung sana sampai titik sini barang dagangan saya semua, beberapa yang di sana lukisan punya kawan-kawan saya juga”

“Nah itu yang di depan, toko saya dan kawan-kawan saya juga Neng” sambil menunjuk bangunan kecil dengan arsitektur tua di depannya.

Ya, Iin Solihin merupakan salah satu dari sekian banyak pelukis yang berada di Braga, ia sudah menjalankan bisnis lukisan ini sejak 30 tahun lalu  tepat di jalanan Braga saat ini.

Pastinya kalian sudah tidak asing dengan lukisan-lukisan yang dari ujung hingga ke ujung jalanan Braga tampak terlihat serupa. Mulai dari lukisan  ikan mas koki, harimau, bahkan sampai yang sangat  familiar yaitu lukisan pemandangan lengkap dengan sungai dan pegunungan diatasnya. Selain menjadi barang oleh-oleh khas Braga mirisnya lukisan-lukisan tersebut kadang pula menjadi background foto sebagian anak muda bahkan fotographer handal.

“Karena spot foto di Braga dominan bangunan-bangunan putih, kadang sudah terlalu mainstream juga. Jadi ya background lukisan oke juga sih karena bervariasi dan berwarna.” Tutur salah satu fotographer yang pada siang itu sedang asik mengutak-atik kameranya.

Walaupun sudah berkepala empat Pak Iin  tetap semangat menjalankan bisnis lukisan ini, bukan hanya sekedar hobi melainkan juga sebagai passion bagi dirinya. Mulai pukul 8 pagi hingga larut malam ia berjualan tiap harinya di pinggiran jalan Braga. Cuaca yang kadang tak menentu juga menjadi masalah yang serius untuk menjaga nilai guna dari lukisan tersebut.

Seketika Pak Iin mencurahkan keluh kesahnya. “Kadang ada yang ga permisi, tiba-tiba langsung main foto-foto saja padahal saat itu saya sedang melayani pembeli yang sedang menawar. Saya mah ngebolehin saja neng kalo ada yang mau foto sok manga.” Sebagai seniman yang menjajakan lukisannya di pinggir jalan Braga, Pak Iin tidak berberat hati jika lukisan-lukisannya di zaman sekarang bergeser kegunaannya sebagai spot foto.

Beliau cenderung pasrah melihat kenyataan tersebut. Ia melanjutkannya sambil menyantap takjil yang ia pegang sejak tadi “Saya juga tidak pernah memungut biaya dari mereka yang menjadikan lukisan saya sebagai background foto, asalkan yang terpenting meminta ijin saja itu sudah lebih dari cukup Neng, setidaknya jika tidak membeli  cara itu bagi saya merupakan sikap untuk menghargai karya saya” tuturnya.

Maraknya perdebatan mengenai pengunjung yang ber-selfie ria di galeri pameran sepertinya juga dialami oleh beberapa seniman jalanan seperti Pak Iin. Mengenai hal ini seorang kurator sekaligus pengamat seni Argus FS pun ikut memberikan pendapatnya;

“Sebetulnya hal-hal seperti destinasi wisata manapun juga (kecuali destinasi wisata religi atau tempat peribadatan) sudah menjadi konsekuensi sosial untuk digunakan oleh khalayak seperti berswafoto, background prewed fotografis, dan bahkan shooting film. Selama berada di ruang publik, saya pikir publik boleh menggunakannya. Seperti halnya karya seni yang di-setting untuk jadi public art, ya itu karya memang untuk konsumsi publik, mau diapain juga boleh – sejauh tidak merusak karya itu dan tidak lupa untuk mencantumkan nama lokasi, nama pelukis di dalam credit title produksi video atau foto komersial mereka.”  Ujar kurator Artspace.id.

Dewasa ini persoalan menghargai sebuah karya memang sudah seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Terlebih lagi di zaman teknologi yang serba cepat ini, berbagai karya dapat dilihat hanya dengan mengunduh melalui telepon genggam dan sambungan internet. Sering pula tanpa mengetahui nama pencipta karya tersebut. Maka dari itu etika perlu diciptakan.

Menurut seniman asal Bekasi yang dikenal dengan nama panggung “The Popo”, keadaan tersebut dapat pula dimanfaatkan untuk memopulerkan ke dalam dunia maya bagi para seniman yang karyanya kurang terekspos. Seperti pelukis-pelukis yang berada di pinggiran Jalan Braga salah satunya ialah Pak Iin.

“Menurut gue sih hal seperti itu pasti ada sisi positifnya ya, bagaimana pun lukisan di pinggiran Jalan Braga sudah seharusnya menjadi konsumsi publik, kegunaanya pun bisa dibilang tergeser karena zaman juga sudah semakin tergeser.  Kalo dipikir-pikir bisa saja si pelukis kenakan tarif kalo mau ada yang foto. Dan ga menutup kemungkinan juga bisa menjadi peluang bisnis baru bagi pelukis.”  Ungkap seniman yang identik dengan gambar alpukat di dalam karyanya,

“Siapa tau aja dengan banyak yang jadiin tempat jualan pelukis-pelukis itu sebagai background, orang-orang malah semakin tahu kalo ternyata di Jalan Braga ada yang jual karya lukisan seperti itu.” pungkasnya.

Fenomena di pinggiran Jalan Braga tersebut semakin membuka wawasan kita seputar dunia seni. Terutama mengenai etika dan apresiasi dalam menanggapi karya seni rupa. Karya sekecil apapun patut diberi penghargaan. Publik yang terlibat juga harus mendapat cukup pengetahuan dari sebuah karya seni baik secara langsung dari pelukis maupun melalui sumber tulisan terpercaya.

Ketika membuat sebuah konten, mencantumkan sumber di tiap karya baik foto atau pun video menjadi etika dasar dalam menghargai karya seni. Semakin cerdas dalam menyikapi teknologi yang semakin  maju semakin cerdas pula seharusnya etika yang tumbuh di dalam tiap pribadi.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *