LOADING

Type to search

Kisah Singkat Sang Revolusioner

DAILY

Kisah Singkat Sang Revolusioner

Naufal Malik 26/11/2016
Share

Kemarin, tepatnya tanggal 25 November 2016, dunia berduka. Ah, berlebihan kalau dunia yang berduka, karena banyak juga yang tidak menyukainya. Saya akan persempit lagi menjadi barisan sayap kiri yang berduka, atau rakyat Kuba yang berduka, atau mereka yang menjadikannya inspirasi sedang berduka. Mungkin juga hanya saya yang berduka, mengingat saya sangat menghargai perjuangannya dan memberi saya motivasi kalau musuh sekuat apapun dapat tumbang juga. Castro telah tiada di dunia ini, dan saya sangat berduka. Rasanya seperti kehilangan sebuah simbol, harapan, atau apalah itu. Kalau anda rasa saya berlebihan, anggap saja ketika para fans The Beatles mendengar kabar kematian John Lennon, walaupun Lennon mati tertembak. Maksudnya bagaimana ketika sosok yang kalian idolakan meninggalkan dunia ini? Itu yang saya rasakan. Untuk mengenang beliau maka saya akan memberi biografi singkat, bahkan terlewat singkat, tentang perjalanan hidupnya dari seorang biasa hingga menjadi simbol revolusi pada masa perang dingin.

Fidel Alejandro Castro Ruz lahir pada tanggal 13 Agustus 1926 merupakan putra seorang imigran Spanyol yang tinggal di Kuba. Ayahnya adalah petani gula yang sukses dan Castro pun mendapat kehidupan masa kecil yang berkecukupan. Umur 8 tahun dia dibaptis untuk mengikuti Gereja Katolik Roma dan menempuh pendidikan di sekolah-sekolah Katolik. Prestasi akademisnya tidak terlalu bagus sehingga dia lebih banyak menghabiskan waktunya di bidang olahraga. Tahun 1945 dia masuk ke Universitas Havana dan mengambil jurusan hukum. Pada masa dia menjadi mahasiswa, Castro muda sadar dia tidak paham betul mengenai politik sehingga dia mulai belajar menjadi aktivis, terlibat organisasi non-formal seperti gang di kampusnya, hingga mencoba maju menjadi Presiden Federasi Mahasiswa yang sayangnya gagal. Menjadi kritikus tetap terhadap pemerintahan Presiden Ramon Grau membuat nyawanya terancam. Tetapi dia tetap bersikukuh dengan rasa anti-imperialisme, anti-kolonialisme, dan kerap kali mengeluarkan kritik keras terhadap intervensi Amerika di wilayah Karibia. Tahun 1947-1950 kehidupan Castro diwarnai oleh politik radikal. Dia bergabung dengan Partai Rakyat Kuba (Partido Ortodoxo), terlibat dalam ekspedisi penggulingan pemerintahan Republik Dominica dan juga aktif dalam melakukan aksi yang kebanyakan berakhir bentrok. Luka-luka yang dia dapat dari aparat hingga kawan-kawan seperjuangannya yang kebanyakan merupakan orang kiri mulai membentuk orasi-orasi Castro berbau Marxist. Dia menikah dengan Mirta Diaz Balart, seorang yang berasal dari keluarga kaya pada tahun 1948 walaupun keluarga dari kedua belah pihak tidak setuju. Memiliki anak tidak menghentikan perjuangannya, walau setelah dia membeberkan kejelekan pemerintahan Grau pada publik Kuba yang membuatnya bersembunyi, dia memilih untuk mencoba rehat sejenak dari perpolitikan hingga dia lulus pada tahun 1950 dengan gelar Doktor.

Mencoba untuk hidup di bidang legal, firma hukum Castro malah bangkrut karena ketidak peduliannya terhadap uang. Ditambah dengan kematian ketua partai yang dia ikuti membawanya masuk ke politik praktis. Dia berhasil menjadi representatif di pemerintahan Presiden Carlos Prio Socarras. Jabatan tersebut tidak berlangsung lama karena Jendral Fulgencio Batista melakukan kudeta dan memperkenalkan sistem “demokrasi yang disiplin” yang kebanyakan aktivis melihatnya sebagai kediktatoran. Kedekatan Batista dengan Amerika semakin memotivasi Castro untuk menyerang pemerintah dengan cara yang legal. Akan tetapi, cara legal ternyata terbukti tidak ampuh sehingga dia akan mencoba jalan yang keras. Sepanjang tahun 1952-1953 Castro berinisiatif untuk menyerbu Barak Mocanda di Santiago de Cuba. Dia berhasil mengumpulkan 165 revolusioner dan melakukan penyerbuan yang berujung kegagalan. Lebih dari 20 orang yang terlibat dieksekusi mati tanpa pengadilan sementara sisanya, termasuk Castro, dibawa ke pengadilan. Fidel Castro beserta adiknya Raul Castro divonis penjara, khusus untuk Fidel 15 tahun. Pemilu Kuba 1954 memenangkan Batista sebagai pemegang kekuasaan eksekutif yang sah. Untuk membuktikan itikad baiknya kepada publik Kuba, dia memberikan amnesti kepada Castro dan kawan-kawannya karena dia sudah menganggap mereka bukan ancaman. Castro bersaudara kemudian pergi ke Amerika dan Meksiko untuk menggalang bantuan. Di Meksiko, pertemuan bersejarah itu terjadi. Fidel Castro berkenalan dengan Ernesto “Che” Guevara, seorang dokter sekaligus revolusioner dari Argentina. Castro menyebutnya sebagai “revolusioner yang lebih maju dibanding saya”. Castro juga berkenalan dengan Alberto Boya, seorang perwira militer Spanyol yang setuju mengajarinya dan pengikutnya untuk berlatih perang gerilya.

25 November 1956, Castro memimpin 81 revolusioner kembali ke Kuba dengan sebuah kapal. Berlayar seminggu dari Meksiko ke Kuba dengan suplai yang sangat sedikit, pasukannya langsung ditembaki seketika menginjakkan kaki di Kuba. Castro kemudian memerintahkan tentaranya lari ke Pegunungan Sierra Maestra, hanya untuk menyadari bahwa pasukannya kini hanya berjumlah 19 orang. Mendirikan kemah dan memulai gerilya, Castro mulai melancarkan serangan balik kepada tentara Batista di pedesaan. Mendapat dukungan dari warga lokal yang sudah muak dengan pemerintahan Kuba, pasukannya mendapatkan suplai tetap. Menyadari bahwa banyak warga desa yang ingin bergabung dengannya tetapi masih buta huruf, Castro kemudian memerintahkan mereka untuk mengikuti pelajaran membaca yang dibuat oleh gerilyawannya sebelum mengangkat senjata. Prinsip yang dia pegang sama dengan Che yaitu pendidikan adalah senjata yang paling kuat. 2 tahun bergerilya di Sierra Maestra membuahkan hasil. Kelompok-kelompok anti Batista bergabung dengan kelompok Castro dan bahkan pasukannya berhasil mengusir militer Kuba dari wilayah Sierra Maestra. Castro menjadi sangat popular setelah media-media asing seperti The New York Times meliputnya. Semakin berkurangnya dukungan publik dan Amerika membuat Batista mencoba melakukan serangan besar-besaran ke Sierra Maestra dengan jumlah tentara mencapai 10.000 personil. Serangan ini gagal karena kebanyakan personil ini justru membelot ke pihak Castro. Musim panas 1958, untuk pertama kalinya kelompok Castro melakukan serangan. Tentaranya dibagi menjadi 3 kolom yang masing-masing dipimpin oleh dirinya, adiknya Raul, dan Che. Sementara dia dan adiknya melakukan serangan ke Santiago de Cuba, Che ditugaskan untuk menyerang Havana. Pasukan Che kemudian mendapat perlawanan sepanjang perjalanan dan yang paling hebat ada di Santa Clara. Berhari-hari Che berusaha merebut kota tersebut karena militer Kuba juga terfokus di situ. Pada akhirnya Santa Clara berhasil dikuasai dan militer Kuba kalah telak. Hal ini membuat Batista kemudian kabur dan Castro pun menduduki posisi orang nomor satu di Kuba.

Dibentuknya Republik Sosialis Kuba dengan sistem satu partai tentu mendapatkan reaksi keras dari rakyat Kuba dan Amerika beserta sekutunya yang sangat membenci komunisme. Maka awal-awal pemerintahan Castro harus berjalan dengan darah dan air mata. Posisi Kuba yang sangat dekat dengan Amerika tentu membuat pemerintah Amerika cemas sehingga misi-misi untuk membunuh Castro dan menggulingkan kekuasaannya selalu dilancarkan. Serangan Teluk Babi pada tahun 1961 oleh Front Demokrat Revolusi (Democratic Revolutionary Front) yang disenjatai oleh CIA melakukan pemberontakan. Hal ini makin mempertegang hubungan Kuba dengan Amerika dimana Kuba melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan Amerika dan sekutunya sementara Amerika melakukan embargo terhadap Kuba. Puncaknya adalah “Krisis Misil Kuba” tahun 1963 dimana Uni Soviet berniat menaruh misil nuklir di Kuba sebagai respon Amerika yang menaruh misil nuklir di Turki. Kejadian ini hampir saja menciptakan perang dunia ke-3 yang akhirnya Uni Soviet membatalkan niatnya dan Amerika menarik misilnya dari Turki. Selama perang dingin ekonomi Kuba tidak terlalu baik dengan harga gula yang fluktuatif, pengangguran, hingga eksodus lebih dari 100.000 rakyat Kuba. Namun selama itu pemerintahan tetap stabil dan perekonomian tetap lanjut tumbuh. Kuba menjadi sedikit dari negara penganut sosialis yang bertahan setelah kejatuhan Uni Soviet di tahun 1991. Dengan kapitalisme yang akhirnya menjadi penguasa dunia, Castro memutar otaknya karena perekonomian Kuba sangat merosot pada periode ini. Dia mulai melunakkan sifat kirinya dan menjadi lebih moderat. Dia mulai belajar beradaptasi dengan dunia ini dengan belajar dari pemerintahan Britania Raya. Castro juga mendapatkan aliansi baru seperti Hugo Chavez si penguasa Venezuela dan mulai aktif dalam kegiatan dunia seperti pemanasan global.

Tahun 2006, Castro jatuh sakit dan memberikan kekuasaannya sementara ke tangan adiknya Raul. Barulah pada tahun 2008 dia mundur secara penuh dari kursi diktaturnya dan Raul menggantikannya. Tahun 2011 dia juga mundur dari kursi kepemimpinan Komite Partai Komunis yang kemudian dilanjutkan oleh Raul. Tahun 2015 hubungan Kuba-Amerika diperbaiki walaupun Castro masih sedikit waspada terhadap Amerika dengan menolak bantuan dari Amerika. April 2016, Castro dalam kurun waktu yang lama kembali muncul di publik dan memberikan pidato yang berisi bahwa dirinya sudah menua akan tetapi aliran komunis Kuba masih akan tetap relevan dengan perkembangan dunia dan meminta rakyat Kuba untuk tetap percaya terhadap pemerintahan komunis. Sampai kisah ini akhirnya berakhir kemarin dan kalau sesuai jadwal maka hari ini jenazahnya akan dikremasi.

Kisah Fidel Castro akan menjadi legenda revolusi. Bagaikan Raja Arthur dengan meja bundarnya memperkenalkan persamaan, Castro mengajarkan kita bahwa revolusi adalah hal yang mungkin dan bagaimana pun kaum Borjuis berkuasa, Proletar suatu saat akan menggulingkannya dan menciptakan masyarakat tanpa kelas. Selamat tinggal Fidel. Api revolusimu akan terus membara dibenak para revolusioner.

Viva la Revolucion!

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *