LOADING

Type to search

Kita Semua Didikan Televisi

COLUMN

Kita Semua Didikan Televisi

Adam 31/01/2018
Share

Ilustrasi oleh Marco Hanif Samudro

Ah fak! Sebetulnya aku cuman mau curhat lewat tulisan ini. Maaf saja kalau tidak bersubstansi, karena biasanya juga tidak pernah. Sekarang kita lupakan dulu teknik menulis super serius ala situs tetangga. Kalau kamu juga merasa terganggu dengan tayangan hiper-realitas sebagai produk buatan orang-orang di televisi, maka yang akan kamu baca kali ini boleh dianggap sebagai sebuah sindiran atau representasi dari kekeasalan klean! Hahaha. Tetapi, sepertinya terdengar naif juga jika kita menyalahkan konten televisi secara keseluruhan. Kalimat barusan ditulis sebagai bentuk pertahanan awal kalau-kalau pihak televisi tiba-tiba memboikot Incotive. Well, fak it.

Sekali waktu dosenku pernah bicara soal logika dan imajinasi. Keduanya berada pada lapisan yang berbeda, walaupun berada pada wadah yang sama. Logika dan imajinasi yang dihasilkan oleh proses-proses kimiawi maupun biologi di dalam otak kita, bekerja secara misterius, menghasilkan buah-buah pikiran yang dapat kita utarakan melalui berbagai media. Nah, kalau bicara soal filsafat macam ini, nilaiku juga tidak menyentuh “D” atau “E” sekalipun. Nanti dianggap sotoy ah sama warganet! Jadi kita lupakan teori-teori itu. Berat “bet”! Tetapi, ada satu  hal yang aku tangkap. Logika akan menuntun kita sebagai manusia sehat untuk berpikir dengan baik, teratur, dan pada tempatnya. Sedang imajinasi, adalah soal interpretasi, atau juga persepsi yang kemudian dibangun kembali sebagai reaksi terhadap persepsi utuh yang diterima dari setiap indra yang kita miliki. Cukup jelas, lur? Kalau kalian ngarti, mari kita lanjut diskusi satu arah ini.

Nah, satu waktu, saat aku sudah mulai berpikir secara utuh sebagai manusia, kira-kira umur anak SMP. Aku melihat fenomena yang ternyata cukup rancu, bias, dan menggunggah reaksi kritis yang sebetulnya juga jarang-jarang muncul. Bisa dibayangkan tidak, saat kamu adalah seorang pangeran di sebuah kerajaan terdahulu di Indonesia, yang ingin bersiap untuk berperang atau sekedar mengunjungi kerajaan tetangga, lalu berpamitan kepada istrimu di istana, setelah itu kamu naik burung elang besar yang siap sedia mengantarkanmu kemana saja tanpa harus mengkhawatirkan berapa mahal argo yang harus kamu bayar. Animasinya pun seadanya yang mungkin saja dibuat tanpa kesadaran penuh instead of kamu naik kereta kuda yang nyatanya lebih masuk akal.

Mari ambil contoh lain. Saat kamu ternyata hendak menyebrang jalanan secara buru-buru karena ngejar pacarmu yang lagi ngambek, tiba-tiba ada mobil berkecepatan tinggi menghampirimu dan siap menabrakmu. Tetapi, sebetulnya kamu masih punya banyak kesempatan untuk menyelamatkan diri. Namun, kamu lebih memilih untuk menengok kearah mobil tersebut. Bahkan memandang tajam mata supirnya hanya untuk berteriak kegirangan. Lalu kamu pun sadar kalau itu momen yang tepat untuk masuk rumah sakit sehingga pacarmu menjadi iba. Jika kita pikirkan kembali hal tersebut sebetulnya adalah pilihan yang betul-betul tidak bijak. Sebenarnya masih banyak contoh-contoh adegan buatan si kampret-kampret ini yang juga sering dijadikan bahan gurauan seorang stand up comedian. Kamu jangan bahas, berat. Biar aku saja. Karena Dilan adalah tren, jenderal!

Beribu maaf aku sampaikan kepada kamu sebagai penikmat, ibu-ibu diseluruh pelosok Indonesia, atau bahkan kepada animator, sutradara, produser dan aktor/ aktris yang merasa pernah berkarya seperti itu. Bukan maksudku untuk menyakiti kalian, tapi, are you sure? Bukan juga bermaksud menjadi kritikus film dan sinematografi kawakan, atau bahkan menjadi insan indie yang merasa selera tontonannya lebih baik jika dibandingkan dengan Anda. Serta mengagung-agungkan Netflix karena akan dianggap keren, tidak sama sekali. Karena aku seutuhnya adalah insan cendekia! HAHAHA.

Sekali lagi, aku bukannya mau mencela begitu saja. Maksudku, sebagai pemuda yang peduli akan kelangsungan peradaban manusia cerdas di Indonesia hanya ingin menyampaikan bahwa realitas konsumsi hiburan masyarakat Indonesia adalah seperti yang telah disebutkan diatas. Yang ternyata kalau dipikir secara logis, juga enggak masuk-masuk amat. Ya, relevan lah dengan keadaan manusia Indonesia di lapangan. Gila! Aku bukan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), yang mengerti bagaimana regulasi tayangan per-televisian seharusnya dijalankan, seperti menyensor bikini tupai sandy. Aku bukan dokter jiwa yang dengan mudah menyimpulkan masyarakat Indonesia sebagai manusia gila. Aku juga bukan Dilan, yang sangat mahir membuat hati Milea dibolak-balik; namun sesungguhnya hanya Tuhan-lah yang Maha membolak-balikan perasaan manusia. Mari kita perbaiki selera masyarakat dan bakar televisimu!

Tertanda,

Polisi Moral Indonesia

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *