LOADING

Type to search

Krisis Hiburan di Indonesia

COLUMN

Krisis Hiburan di Indonesia

Naufal Malik 14/01/2017
Share

Pada tahun 2016, publik Indonesia disuguhkan berbagai berita yang tidak menyenangkan. Sebetulnya biasa saja karena memang setiap tahun selalu ada berita yang buruk dan memang sudah tugas media untuk menyampaikan berita yang baik atau pun buruk ke masyarakat. Hanya saja, saya merasa dewasa ini kelakuan masyarakat Indonesia semakin menjadi-jadi. Bisa kita lihat di jejaring media sosial, forum-forum di dunia maya, kolom komentar di portal berita, hingga kenyataan yang terjadi di sekitar kita. Dari situ saya akan mencoba menerka-nerka penyebab dari kegilaan yang terjadi belakangan ini dengan “kesotoyan” dan ilmu-ilmu cocoklogi ala Indonesia.

Tentu kita masih ingat kasus Yuyun yang terjadi sekitar setengah tahun yang lalu. Publik dibuat kaget bagaimana gadis usia SMP secara brutal dan menjijikkan disetubuhi secara paksa oleh sekitar 14 lelaki remaja tanggung. Kemudian tidak butuh waktu lama banyak bermunculan kasus pemerkosaan yang setipe dengan kasus Yuyun, yakni melibatkan lebih dari satu orang laki-laki, ada tersangka yang dibawah umur, dan ada beberapa kasus diselesaikan oleh suatu benda tumpul yang dipaksa masuk ke dalam kemaluan si korban. Perbuatan bejat nan laknat tersebut ternyata setelah diselidiki disebabkan oleh salah satunya adalah video porno. Sontak masyarakat Indonesia langsung merasa paling benar dengan sumpah serapah kutukan terhadap para tersangka agar mati saja. Tak tahukah mereka persoalan salah dan benar itu hanya Tuhan yang memutuskan dan oleh manusia direpresentasikan oleh hakim yang idealnya adalah wakil Tuhan di bumi? Begitulah masyarakat Indonesia, semut di sebrang laut terlihat namun gajah di depan mata tidak.

Atau contoh lainnya adalah demo di ibukota beberapa bulan yang lalu. Bukan isi dari demo tersebut yang dibahas melainkan hanya pertanyaan “iseng” saja yaitu kenapa orang-orang ini mau saja berbondong-bondong ke ibukota? Demi agamakah? Saya sangsi dengan jawaban itu karena kenyataannya beberapa dari partisipan demonstrasi yang saya kenal masih saja meninggalkan ibadahnya. Lantas lalu demi apa? Di sinilah “kesotoyan” saya akan saya tunjukan.

Tanpa kita sadari, semakin hari dunia hiburan Indonesia agak kurang kreatif sepengetahuan saya. Hiburan-hiburan untuk bocah TK hingga SMP mulai punah sehingga mereka menonton acara yang isinya kumpulan orang ganteng dan cantik serta motor-motor keren milik mereka, siaran sinetron masih didominasi oleh alur cerita “si miskin yang baik menderita karena si kaya yang jahat suka nyiksa tapi akhirnya entah kenapa si miskin selalu menang dan tetap baik dan si kaya tetap jahat walaupun udah kalah melulu”, kembalinya era dangdut it’s the music of my country, invasi Bollywood di siang hari, dan puncaknya iklan yang berisi mars suatu partai yang saking seringnya saya lihat menyebabkan mars tersebut terngiang-ngiang di kepala saya. Khusus anak-anak yang merasa dirinya “keren” maka mereka tidak akan menonton televisi dan sebagai gantinya malah menonton di situs Youtube (dan video yang mereka buka tidak jauh-jauh dari rapper muka berminyak, gamers yang mulutnya tidak pernah sekolah, vlog-vlog anak eksis, dan lainnnya).

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa betapa turunnya kualitas hiburan di Indonesia dan hubungannya dengan banyaknya tindakan vandalis masyarakat Indonesia. Lebih jelasnya akan saya jabarkan apa pengaruhnya. Sinetron yang dominan tadi akan membentuk pola pikir masyarakat bahwa orang miskin itu benar dan orang kaya itu salah. Contohnya adalah bagaimana jika terjadi tabrakan antara motor dan mobil selalu si pengemudi mobil yang disalahkan meskipun sebenarnya pengendara motor yang salah, karena motor melambangkan miskin dan mobil melambangkan kaya. Bocah-bocah yang kehilangan hiburan dan menonton acara motor keren akan meminta ke orang tuanya motor keren tersebut dan tingkahnya dijalan akan mengikuti karakter pada acara tersebut. Anak-anak keren penonton Youtube akan merasa paling hebat dan pintar dengan derasnya arus informasi ke kepala mereka walaupun di usia mereka tersebut alam pikir mereka belum memiliki kemampuan berpikir kritis sehingga rentan diserang oleh hoax. Hal ini juga dialami oleh kebanyakan generasi tua yang kaget teknologi sehingga mereka punya pemikiran “if it’s on the internet, it must be true”. Bisa kita lihat di media sosial mereka yang umurnya kepala tiga atau empat atau lima yang masih aktif, tidak jarang menjadi korban tipu daya berita palsu.

Saya langsung teringat oleh peradaban Romawi pada masa kekaisaran. Pada saat itu korupsi di kalangan pejabat, nepotisme keluarga kaisar, keadaan finansial negara yang buruk, serta maraknya pemberontakan di beberapa wilayah justru tidak mengkhawatirkan orang Roma. Mereka terlalu sibuk untuk berbagai macam perayaan. Festival dan upacara ritual memang sudah menjadi tradisi masyarakat Roma pada saat itu. Inovasi pun ditambah ketika Colosseum dibuat dan menjadi teater megah untuk menyaksikan berbagai macam hiburan, walau kebanyakan hanya pembunuhan para Gladiator. Dengan hiburan yang sangat seru tersebut, masyarakat Kota Roma tetap stabil walaupun negara sudah diujung kehancuran.

Seharusnya hal ini diperhatikan pemerintah sebagai salah satu upaya untuk menghentikan kegilaan yang semakin merajalela. Yang paling baru adalah kasus pemukulan di STIP. Coba semisalnya hari itu ada acara musik, mungkin saja para tersangka tersebut memilih menyaksikan acara itu dibanding memukuli juniornya (ya, memang terlalu dipaksakan argumen ini). Atau tengok ketika mendekati akhir tahun dimana Piala AFF menjadi ajang persatuan masyarakat Indonesia meskipun sebenarnya sedang terjadi perpecahan. Itu sebabnya Agama Sepak Bola adalah agama yang paling cocok di Indonesia. Lalu juga fenomena “om telolet om” maka seketika masyarakat Indonesia bersuka cita hanya karena klakson bus (yang pada akhirnya akan menjadi ilegal).

Akhir kata, tulisan ini merupakan kritik terhadap hiburan tanah air yang karena kurang kreatif maka membiarkan penontonnya berbuat hal yang tidak baik. Bagi kalian anak-anak millennial yang ingin bernostalgia, coba dengarkan playlist nostalgia dari kami untuk mengenang masa lalu dimana hiburan masih sangat bagus. Maju terus industri kreatif Indonesia!

Tags:

You Might also Like

1 Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *