LOADING

Type to search

Lika–Liku Perempuan Dalam Seni Rupa Indonesia

COLUMN

Lika–Liku Perempuan Dalam Seni Rupa Indonesia

INCOTIVE 04/12/2017
Share

Teks oleh Ekalaya
Ilustrasi oleh Marco Hanif Samudro

Perempuan seperti halnya laki-laki adalah manusia. Sebagai manusia, perempuan memiliki anatomi biologi berupa jenis kelamin atau seks yang berbeda secara kodrati dengan laki-laki. Perbedaan tersebut terletak pada fungsi reproduksi (melahirkan) pada diri manusia perempuan yang memiliki alat-alat seperti rahim, saluran untuk melahirkan, memproduksi telur, memiliki vagina, dan mempunyai alat menyusui. Kemampuan mereproduksi merupakan satu-satunya hak yang mencirikan keperempuanan.

Jadi, yang dimaksud dengan kodrat perempuan adalah memproduksi telur, menstruasi, mengandung, melahirkan, dan menyusui. Sedangkan mengenai sifat atau ciri lemah, lembut, emosional, keibuan, peran atau pekerjaan mengasuh anak, mengurus rumah tangga dan suami, memasak, mencuci serta peran-peran lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan domestik yang dilekatkan pada perempuan bukan merupakan kodrat atau ketentuan Tuhan bagi perempuan. Melainkan hasil konstruksi sosial maupun budaya dalam suatu masyarakat tertentu yang disebut dengan istilah gender. Namun realita yang terjadi dalam masyarakat adalah pemutar balikan makna antara konsep kodrat dan gender tersebut. Jika seorang perempuan menolak mengerjakan hal-hal rumah tangga dan bertindak diluar nilai-nilai yang telah dikonstruksi maka bagi sebagian besar masyarakat akan dianggap menyalahi kodrat dan dinilai tercela.

Perempuan yang memilih berada dalam jalur kesenian atau setidaknya dalam habitus pergerakan untuk kaumnya (feminisme) tentu akan meyakini bahwa perbedaan penafsiran konsep jenis kelamin dan gender ini akan membunuh potensi mereka sebagai individu. Di Bali khususnya dapat diamati bahwa tidak banyak perempuan Bali yang menggeluti profesi perupa sebagai jalan hidupnya.

Ketika seorang perempuan Bali memutuskan untuk berada dalam arena seni rupa, maka bukan hanya persoalan eksistensi yang dipertaruhkan dalam pergulatan keras dunia seni rupa yang masih didominasi oleh para laki-laki perupa. Namun, seorang perempuan perupa Bali mesti dibekali insting “survival” yang cukup tinggi.  Karena bukan hanya berada dalam lingkungan yang salah, mereka tidak cukup beruntung untuk tinggal dan hidup dalam lingkungan masyarakat yang terbiasa menerima perempuan berprofesi sebagai perupa seperti di Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. Dengan pemikiran terbuka menerima modernitas dan dinamika wacana yang progresif dengan iklim diskusi yang juga layak. Di sisi lain peran media dan lembaga terkait untuk menunjukan eksistensi dan keterlibatan perempuan perupa pun sangat minim.

Periode tahun 1990-an, mulai tumbuh kesadaran dalam diri perempuan perupa untuk memanfaatkan karya seni rupa sebagai media ekspresi mengungkapkan berbagai persoalan gender yang mereka rasakan. Kemungkinan besar keberanian tersebut muncul sejalan dengan maraknya pembahasan feminisme dan persoalan gender dalam ilmu sosial.

Pada akhir tahun 1990, Universitas Indonesia membuka Program Magister Kajian Wanita. Dengan demikian semakin memperkuat asumsi bahwa pada tahun 1990 merupakan titik awal kesadaran dunia akademis di Indonesia untuk mengembangkan pengetahuan tentang perempuan. Secara tidak langsung memperkokoh fenomena memahami persoalan perempuan dari sudut pandang perempuan itu sendiri. Dampak kesadaran bahwa perempuan selama ini menjadi warga negara kelas dua berdampak pula pada dunia kesenirupaan Indonesia. Selain itu jika memperhatikan proses kemunculan posmodern, isu gender adalah salah satu tema yang diusung. Tidak mengherankan jika dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia, perempuan perupa tersadarkan untuk mengangkat persoalan gender dalam karya seni mereka.

Yustiono dalam tulisannya memaparkan bahwa pada aspek ide, seni rupa kontemporer menampakkan sosok penentang arus dominasi modernisme, hal ini dapat dipandang sebagai hadirnya asas ganda. Pada aspek ide ini, kecenderungan untuk menyerap pikiran-pikiran posmodernisme juga nampak kuat. Hal itu nampak misalnya pada idiom-idiom yang sering dipakai seperti plural, etnik, multikulturalisme, gender, marginal, dan lain-lain. Idiom gender tampak nyata sebagai tema pada perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia.

Perempuan perupa seperti Lucia Hartini, Arahmaiani, Astari Rasjid, Iriantine Karnaya, Dolorosa Sinaga, Marida Nasution, hingga perupa yang lebih muda seperti Bunga Jeruk dan Laksmi Sitoresmi mengangkat tema tersebut. Arahmaiani secara tegas menyatakan bahwa karya-karyanya merupakan bentuk kesadarannya akan ketidakadilan gender yang dirasakan oleh perempuan. ”Sesuai dengan kapasitasku sebagai perempuan, demikian juga dalam memahami aspek kehidupan yang akan saya angkat dalam seni rupa, saya mencoba menyuarakan permasalahan dari golongan tertindas. Maka dari itu permasalahan tersebut saya tampilkan dengan memakai metafor gender”. Menurutnya pola penindasan antara penguasa dan rakyat yang tertindas atau antara yang kuat dan yang lemah, sama dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan yang selalu tersubordinasi.

Berbeda dengan Dolorosa Sinaga, menurutnya medium seni rupa belum dilihat oleh perempuan perupa di Indonesia sebagai alat ekspresi untuk tujuan tertentu kecuali sebagai medium ekspresi pribadi. Hal ini menunjukkan tidak ditemukannya kehadiran wacana seni rupa berbasis identitas ekspresi perempuan perupa. Wacana yang tampak lebih kuat dalam ekspresi perempuan perupa di Indonesia adalah wacana kemanusiaan ketimbang wacana yang spesifik seperti wacana gender, emansipasi, atau pembebasan. Dalam pengamatannya, permasalahan perempuan dalam dunia seni rupa masih terbatas pada gagasan visual saja, belum berakar pada tujuan atau pembentukan pemikiran yang disampaikan melalui bahasa visual. Meski ditemukan kecenderungan-kecenderungan ekspresi yang sangat kuat mengungkapkan aspek permasalahan perempuan, dunia seni rupa di Indonesia belum memiliki paradigma konsep ekspresi seni perempuan. Persoalannya adalah terletak pada penyampaian permasalahan perempuan belum bisa dilihat sebagai pengalaman obyektif, karena peranan subyek masih merupakan faktor penting dalam berkarya.

Pernyataan Dolorosa Sinaga diperkuat oleh penelitian yang dilakukan Alvi Luviani. Menurut Alvi, eksistensi perupa perempuan sudah mulai menampakkan dirinya dan hadir di antara perupa laki-laki walau baru dalam jumlah yang sangat kecil. Salah satu faktor penyebabnya adalah keterbatasan ekspose dan publikasi yang dilakukan oleh media atau lembaga terkait tentang eksistensi perupa perempuan dalam percaturan dunia seni rupa di Indonesia. Kemudian Alvi juga menjelaskan bahwa karya seni seorang perupa perempuan biasanya lahir dari latar belakang kehidupan pribadi, pengalaman sosial, seperti keadaan dilecehkan, mengalami kekerasan fisik, mental dan banyak lagi hal lainnya.

Alvi juga mengemukakan bahwa di sisi lain ada banyak juga perempuan yang dapat bergerak dengan bebas ke mana saja, dapat berbuat apa yang diinginkan tanpa harus terikat oleh aturan-aturan tertentu. Perempuan tersebut adalah perempuan yang hidup terlepas atau jauh dari kehidupan kelompok “perempuan priyayi atau perempuan religius”. Menurut Alvi, perempuan yang terbebas dari aturan-aturan yang membelenggu kaum perempuan tersebut adalah perempuan yang memiliki peluang untuk dapat bekerja di luar rumah dan menjadi perupa serta mempunyai ruang berekspresi yang lebih terbuka lebar. Kemudian, Alvi juga mengemukakan bahwa perupa perempuan yang senior dalam penjelajahan ekspresinya lebih pada pengolahan dan penguasaan prinsip-prinsip estetika dalam berkarya. Sedangkan perupa perempuan yang lebih junior dalam usia dan pengalaman terlihat berbicara lebih lantang pada karya-karyanya dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Keadaan ini semakin parah karena jarangnya perempuan bekerja menjadi pemerhati atau kritikus/kurator. Padahal posisi ini sangat penting mengingat kurator mempunyai posisi yang kuat dalam menentukan atau memilih peserta pameran sekaligus menentukan kriteria pada suatu event penyelenggaraan suatu pameran.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *