LOADING

Type to search

Lokatara Project II Bandung: Malam yang Magis, Menghibur, dan Hangat

EVENT FEATURED

Lokatara Project II Bandung: Malam yang Magis, Menghibur, dan Hangat

Defta Ananta 04/10/2018
Share

Foto oleh Raditya Wiryawan

29 September 2018 jadi salah satu hari yang cukup membuat saya banyak mengumpat di dalam kemacetan. Pada hari itu, saya menemukan fakta bahwa tingkat kemacetan di Bandung akan berbanding lurus dengan banyaknya acara konser musik yang digelar. Kebetulan pada hari itu saya mendapatkan tugas untuk meliput salah satu acara yang diadakan di Teater Terbuka Dago Tea House, Lokatara Project yang kedua. Namun, apadaya karena terjebak kemacetan saya terlambat datang tepat waktu untuk meliput.

Singkat cerita akhirnya saya berhasil menerjang kemacetan kota dan sukses memasuki venue dengan selamat sentosa. Sedikit cerita, Lokatara Project edisi kedua ini merupakan salah satu rangkaian acara untuk menyambut Lokatara Festival  — yang nantinya akan digelar dengan mengundang salah satu musisi youtube dan idola para remaja sidestream nanggung, Boy Pablo. Ada hal yang sedikit mengundang tanya perihal line-up pengisi acara pada acara Lokatara Project. Mereka memasukan dua band beraliran cukup “keras” dan “bising” (Noirless & Grrrl Gang) di tengah jajaran pengisi acara dengan mayoritas mengusung musik yang identik dengan nuansa senja, kopi, hujan, dan hal melankolis lainnya. Ibaratnya memberikan rasa pedas di tengah kue yang manis.

Acara dibuka dengan penampilan dari Rasukma dan Littlelute. Belum ada suatu hal yang menarik perhatian saya secara khusus. Singkat cerita acara dilanjutkan oleh penampilan band asal Yogyakarta, Grrrl Gang. Mereka juga membawakan single terbarunya “Pop Princess”, penonton terlihat antusias dengan bergerumul di depan stage demi menyaksikan mereka. Namun, ketika Noirless mendapat giliran untuk tampil, penonton terlihat menjauh dari depan panggung serta memilih menonton dari kejauhan. Keputusan penonton tersebut menyisakan ruang kosong yang besar. Suatu hal yang agak mengganggu bagi saya untuk melihat suatu band dengan energi yang besar, namun tidak mendapatkan respon positif dari penonton. Respon kurang positif dari penonton ada kaitannya dengan proses kurasi line-up tadi, penonton yang mengharapkan musik folk dipaksa untuk mendengarkan musik yang tidak masuk ke dalam radar selera musik mereka.

Kemudian setelah jeda maghrib giliran unit folk asal Bandung untuk tampil, Amigdala, penonton pun terlihat mulai mengisi ruang kosong yang tadi mereka tinggalkan. Mereka tampil dengan membawa gimmick pembacaan puisi di tengah lagu dan menyuguhkan penari latar. Saya melihat sebuah upaya yang cukup keras dari Amigdala untuk memberikan penampilan yang maksimal. Lalu, kali ini giliran Heidi yang melejit dengan single “Soon Finland”, jujur saya tidak familiar dengan lagu-lagu yang ia bawakan selain lagu “Soon Finland”. Setelah sukses mengajak penonton bernyanyi “Soon Finland”, Oscar Lolang mengambil spotlight panggung. Seperti biasanya Oscar ditemani oleh pemain biola kesayangannya, Estu Hning. Flow acara terkesan menurun karena set yang dibawakan oleh Oscar dan Heidi sangatlah minimalis.

Saya baru memberikan perhatian khusus ketika Jason Ranti naik ke atas stage. Sajian musik minimalis dengan lirik satir khas Bang Jeje memberikan hiburan menarik bagi penonton. Ledekan Jeje kepada ketum PSSI, Bobotoh fanatik, serta Banda Neira membuat penonton susah berhenti cekikikan. Tiba acara mendekati puncaknya, kali ini giliran Rara Sekar. Kehadiran Rara Sekar menjadi obat untuk kerinduan para penggemar Banda Neira. Rara tampil dengan dalam balutan efek reverb yang menurut saya cukup berlebihan. Setting tersebut membuat suara merdu mba Rara tenggelam dan tidak jelas. Mungkin, tujuan dari awal Rara memakai efek reverb yang terkesan “banjir” memang untuk menimbulkan sensasi “ngawang”. Secara keseluruhan musik yang disajikan oleh Rara Sekar bisa dibilang enak dan eksotis, namun saya harus berjuang melawan rasa kantuk akibat sensasi “ngawang” permainan soundscape dari set minimalis Rara Sekar.

Ketika mencapai puncaknya, Rara memanggil composer Gardika Gigih untuk menemani dirinya. Kehadiran Gardika Gigih seakan-akan memberikan nyawa baru pada musik yang disajikan oleh Rara. Magis, mungkin kata tersebut cocok untuk mendeskripsikan sentuhan jemari Gardika pada grand pianonya. Seketika saya teringat kapada Ryuichi Sakamoto, komposer asal Jepang yang sangat mahir memainkan emosi melankolis para pendengarnya. Sajian musik dengan melodi-melodi “haunting” dari Rara Sekar serta harmonisasi Gardika Gigih membuat para penonton terdiam dan menyerahkan emosi mereka untuk dieksploitasi. Penampilan musik yang begitu mudah untuk didengar dan dicerna, namun begitu kompleks emosi yang mereka tawarkan. Sungguh sebuah pengalaman baru, duduk di sebuah amphitheater terbuka sambil menonton penampilan yang khidmat membuat dinginnya udara Bandung saat itu semakin menusuk.

Secara keseluruhan Lokatara Project berjalan dengan sukses. Dilihat dari jumlah penonton yang banyak di tengah banyaknya acara malam itu. Lokatara sukses membaca demografi penikmat musik di Bandung yang masih subur terhadap musik folk. Sukses terus Lokatara untuk program-program selanjutnya!

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *