LOADING

Type to search

Make America Great Again

COLUMN

Make America Great Again

INCOTIVE 09/11/2016
Share

Oleh: Angga Fahmi (Twitter: @anggafd)

Donald Trump. Seorang yang rasis, anti imigran, pelaku pelecahan terhadap perempuan, akhirnya terpilih sebagai presiden Amerika ke 45. Semua ini didapatnya tanpa dukungan dari selebriti Amerika seperti halnya Hillary Clinton. Bahkan dipartainya sendiri, Republik, Trump tidak populer karena kerap melontarkan pernyataan yang kontroversial dan mengandung kebencian. Namun hal itu tidak dapat menghentikannya untuk menjadi presiden Amerika Serikat.

Trump adalah seorang pengusaha propeti dan tv star yang dua tahun lalu, tidak seorang pun menyangka Ia akan serius maju menjadi seorang presiden. Semenjak pengumumannya menjadi calon presiden dari Republik, Trump sangat sering memberi pernyataan yang kontroversial dan mengandung kebencian. Trump mengungkapkan akan membangun tembok sepanjang perbatasan Amerika dengan Meksiko untuk membendung masuknya imigran asal Meksiko ke Amerika yang sudah menumpuk. Trump menganggap bahwa imigran-imigran ini adalah masalah bagi Amerika. Selain itu, Trump juga mengungkapkan akan mengusir semua warga Muslim dari Amerika dan juga melarangnya masuk ke Amerika. Trump menganggap semua Muslim adalah teroris dan mengancam keamanan Amerika. Trump juga beberapa kali melontarkan hinaan terhadap lawan politiknya, Hillary.

Sebenarnya semenjak dua partai terbesar di Amerika: Demokrat dan Republik meresmikan calon mereka yaitu Hillary Clinton dan Donald Trump, keduanya sangat jarang berdebat dan menjatuhkan mengenai program yang mereka miliki. Keduanya lebih sering memberikan serangan yang bersifat personal, seperti serangan Trump terhadap Hillary mengenai skandal pengunaan e-mail pribadinya semasa menjadi menteri luar negeri Amerika. Hillary juga menyerang Trump mengenai masalah besaran pajak yang Trump bayar dan tuduhan pelecehan Trump terhadap perempuan. Dalam debat presiden hal yang mereka bahas pun sama. Bahkan Trump pernah mengomentari keraguannya terhadap stamina dari Hillary Clinton, yang memang beberapa kali membatalkan kampanye karena sakit. Ia juga pernah mengungkapkan dalam debat, bahwa Ia akan memenjarakan Hillary jika menjadi presiden nanti karena skandal e-mail pribadi Hillary. Trump juga lebih sering mengungkap slogannya Make America Great Again tanpa menjelaskan secara detail apa yang akan Ia lakukan.

Ketika Trump berhasil menjadi seorang Presiden, keraguan sangat mencuat. Di media sosial, televisi, dan koran-koran di Amerika lebih sering menyerang Trump. Survei-survei juga tidak ada yang mengunggulkannya. Trump hanya populer dikalangan kulit putih garis keras,kaum pekerja keras, dan kalangan orang yang berpendidikan rendah. Orang-orang ini yang merasa bahwa Trump memberikan solusi atas nafsu-nafsu mereka. Nafsu mereka untuk menjadi penguasa dunia dan menutup mata terhadap sekitarnya. Mereka ini berpikiran bahwa mereka tidak membutuhkan imigran, karena imigran hanyalah masalah bagi mereka, dan Trump segendang penarian dengan orang-orang seperti ini.

Nampaknya orang-orang yang frustasi terhadap Amerika merasa Trump adalah solusi bagi mereka, ketimbang Hillary yang lebih condong akan meneruskan Obama. Ditambah skandal pengunaan e-mail pribadinya yang dianggap mengancam keamanan Amerika, membuat Trump unggul. Walaupun dalam berbagai survei Hillary selalu menang, kenyataannya sekarang semua itu salah total. Hillary gagal meyakinkan para swing voters untuk memilihnya. Kaum-kaum pekerja dibeberapa negara bagian yang biasanya menjadi pemilih demokrat, kali ini beralih kepada Trump. Serangan yang mengenai pelecehan Trump terhadap perempuan tidak bisa menggugurkan keyakinan para pemilih Trump. Mereka merasa bahwa Trump menawarkan sesuatu yang baru dan luar biasa dan belum pernah ditawarkan sebelumnya. Trump juga berhasil meyakinkan warga Amerika bahwa pemerintahan sebelumnya telah salah ambil tindakan terhadap pertumbuhan ekonomi mereka yang stagnan. Trump dirasa mampu memberi solusi. Janji-janji yang Trump berikan memang sulit ditiru oleh calon lainnya. Siapa yang bisa berpikiran untuk membangun tembok sepanjang perbatasan Amerika-Meksiko, hanya Trump bisa bepikiran seperti itu.

Presiden Amerika bukan hanya jabatan politik semata, Amerika sebagai negara adidaya, Presidennya bisa dianggap sebagai orang terkuat didunia. Maka melihat orang terkuat didunia sekarang adalah Trump, ini bisa dianggap sebagai bencana. Trump yang menganggap bahwa Putin adalah sahabat, bisa membuat Putin dengan mudah kembali menyerang negara-negara baltik seperti yang Ia lakukan kepada Ukraina dan akan berakhir pada pujian Trump kepada Putin. Trump yang mengatakan bahwa perubahan iklim hanyalah hoax dan karangan Tiongkok, jelas mengacau. Semua itu ditambah dengan pembangunan tembok dan larangan masuk bagi muslim ke Amerika, maka sosok Trump adalah sosok yang fasis dalam versi yang komplit.

Namun dalam pidato kemenangan Trump setelah berhasil melampui 270 electoral college, ada perbedaan dengan pidato sebelum-belumnya. Kali ini Trump tidak sedikitpun memberikan komentar yang kontroversial dan lebih banyak ucapan terima kasih kepada segelintir orang dibelakangnya. Memberikan pujian kepada Hillary Clinton dan juga mengatakan akan menjadi pemimpin untuk seluruh warga Amerika, akan mengembangkan semua potensi yang dimiliki oleh warganya dan akan merangkul semua kalangan. Tidak ada hal-hal negatif dalam pidato kemenangannya. Mari saja kita berharap bahwa apa yang Trump janjikan selama ini hanyalah sekedar retorika belaka. Karena kalau memang benar Trump fasis yang komplit, maka bencana adalah keniscayaan.

Foto: Reuters

*) Tulisan ini adalah murni pendapat kolumnis.

Tags:

You Might also Like

2 Comments

  1. Holot 20/12/2016

    Jesus christ dude, do some research before writing an artice you stupid moron.

    Reply
  2. Holot 20/12/2016

    This is some of the most unresearched shit ever written.

    Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *