LOADING

Type to search

Mencari Makna dalam Kebisingan Musik Noise

COLUMN FEATURED

Mencari Makna dalam Kebisingan Musik Noise

Defta Ananta 15/02/2019
Share

Ilustrasi oleh Rafii Mulya

“Dari mulai awal abad ke-20 hingga sekarang hubungan musik dengan manusia kian hari semakin memasuki sendi-sendi terdalam kehidupan kita, seolah-olah manusia tidak mampu menghindar dari kebutuhan akan kehadiran musik untuk membebaskan dan mengatasi keterkungkungan jiwa dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari. Kemudian menurut kedudukannya dalam masyarakat, keberadaan musik memang ditujukan untuk hiburan. Namun, tidak sebatas hanya sebagai hiburan saja, ia juga memiliki nilai kesenian yang luhur dan berbeda sebagai suatu kreasi dari manusia juga sebagai simbol ekspresi kehidupan.”

Kurang lebih seperti itu lah dalil yang keluar dari seorang antropolog, HT. Silaen. Di tengah perkembangan zaman serta pergeseran zeitgeist dalam tren musik, fungsi musik memang kerap dipertanyakan kembali. Apakah musik sekarang tidak lebih hanya sekedar komoditas komersil belaka? (biasanya disini orang-orang cenderung mulai mengkerdilkan musik pop), atau sebenarnya musik sekarang memiliki makna lebih dari itu? Jawabannya tak ada yang pasti dan tergantung dari konteks pertanyaan.

Terdengar sangat filosofis dan berat? Tenang, kesempatan kali ini saya tidak akan bercerita panjang lebar mengenai hakikat dari musik, yang mungkin bisa membuat kepala kita meledak. Di artikel pembuka tahun ini saya mencoba menelusuri nilai lain yang terkandung dalam suatu genre musik. Pada buku Lanskap: Mosaik Musik dalam Masyarakat, dikatakan bahwa genre musik bukan sekedar pelabelan jenis musik saja. Secara tidak langsung setiap genre juga menawarkan komprehensi nilai-nilai tertentu yang juga berbeda dengan yang lainnya. Sebagai contoh, jika kita berbicara tentang musik punk secara umum, dengan tidak langsung kita juga berbicara tentang perlawanan atas hegemoni (biasanya dalam konteks sosio-politik), kemudian musik reggae dengan gagasan tentang hidup bebas atau mungkin musik dangdut yang sekarang kerap diidentikan dengan kondisi kehidupan masyarakat kelas bawah. Apapun itu musik selalu memiliki konteks yang mencerminkan relasi kompleks dari realitas.

Bising

Kira-kira di tahun pertama saya berkuliah saya dikenalkan oleh salah satu genre musik yang saya sendiri pun dibuat bingung olehnya, tidak lain dan tidak bukan adalah noise music. Timbul pertanyaan paling mendasar, “bagaimana bisa suara – suara yang terdengar seperti blender rusak  dan cenderung chaotic bisa dikatakan sebagai suatu musik?”. Terlebih ketika saya menyaksikan musisi noise asal Jepang, Merzbow yang menawarkan suara – suara kasar nan agresif atau bahkan Ryosuke Kiyasu yang hanya bermodalkan snare drum yang kemudian dipukuli dengan sangat keras hingga rusak. Jangankan untuk mengerti, bahkan sekedar untuk bisa menikmati pun saya memiliki kesulitan. Ada yang bilang kalau musik noise itu memiliki keterkaitan erat dengan bentuk sound art bahkan hingga ke ranah performing art. Ya, secara genealogis memang keduanya memang memiliki bagian – bagian yang saling beririsan tapi saya tidak akan membicarakan hal tersebut.

Saya memiliki suatu anggapan bahwa musik noise adalah suatu bentuk ekspresi yang tidak “terperangkap” oleh aturan baku dari musik yang menuntut adanya sistematisasi nada atau bebunyian. Saya melihat musik – musik noise hadir dengan menawarkan suatu konsep yang melawan kaidah / kemapanan estetik yang sudah familiar di telinga penikmat musik dengan menghadirkan unsur bebunyian yang terdengar “unpleasant”. Saya pernah berbincang dengan kawan saya yang menggeluti scene underground di Surabaya, Ia berkata; “kalau lo datang ke acara noise dan suara-suara yang lo dengar bisa membuat lo pusing, mual-mual dan lainnya, berarti musik noise itu bisa dikatakan berhasil”. Walaupun argumen yang kawan saya katakan mungkin hanya benar secara parsial, namun dari argumen tersebut saya bisa menyimpulkan bahwa pada akhirnya jargon “anti-musical” memang menjadi dogma yang kemudian banyak dianut oleh sebagian musisi noise.

Kembali lagi pada gagasan tentang musik sebagai suatu sarana “pembebas jiwa”. Ketika bermusik mewajibkan musisi untuk “tunduk” kedalam suatu pakem-pakem teori hingga struktur yang wajib terkandung dalam suatu lagu. Musisi noise justru memiliki semacam kebebasan untuk mengeksplotasi segala jenis bebunyian tanpa harus terperangkap dalam pakem-pakem tersebut. Dan jika kita berbicara mengenai konteks perlawanan, terkadang kita juga secara tidak langsung berbicara tentang substansi politis yang terkandung di dalamnya. Nilai tentang perlawanan terletak pada konteks musik noise sebagai suatu manifestasi dari bagaimana cara manusia berekspresi tanpa harus memiliki kewajiban untuk melahirkan suara indah dan pleasant, dan hal tersebut menjadi kacamata utama dalam melihat fenomena ini.

Pertemuan

Namun bagi saya pribadi masih belum mendapatkan pemahaman yang utuh tentang musik noise. Beruntung, pada akhirnya rasa ingin tahu saya mengantarkan saya untuk bertemu dengan Bandung Null Emergence (BNE), sebuah kolektif asal Bandung yang terbilang cukup aktif dalam scene musik noise. Kami berbincang cukup panjang dan dari hasil rekaman suara saya tercatat hampir dua jam penuh kita berdiskusi tentang musik noise. Ada sebuah statement yang dikatakan oleh kawan – kawan (BNE) yang menjadi titik temu awal saya untuk bisa mengerti musik noise, Jika berbicara bagaimana musik-musik noise bisa lahir ke dunia, sebenarnya kita juga tidak bisa mengabaikan relasi kompleks yang melatarbelakangi karya tersebut.

Sumber: Bandung Null Emergence

Untuk bisa mengerti musik noise itu tidak bisa sembarangan menurut Esoy dari BNE, sebenarnya penggiat sampai pendengar harus mengerti anatomi bunyi itu sendiri yang kemudian dipadukan dengan kemampuan literasi yang mempuni. Pada akhirnya hal tersebut lah yang membangun keunikan dan makna dari musik noise itu sendiri.

Saya bertanya pada mereka apa yang menjadi daya tarik hingga pada akhirnya memustuskan terjun mendalami musik noise. Jawabannya pun beragam, ada yang menganggap noise sebagai bentuk dari performing art, ada yang mencoba merespon fenomena disekitar dengan cara yang tidak konvensional, dan ada yang mengatakan sekedar penasaran. Namun ada satu jawaban yang kemudian membuka pemahaman baru tentang musik noise, kira-kira begini jawabannya; “noise itu bisa memantik adanya ruang dialog alternative yang memungkinkan menjembatani kebingungan audiens yang menyaksikan dengan maksud dari musisi tersebut  dialognya memang tidak terjadi saat sedang tampil, tapi setelahnya kita bisa berinteraksi  atau berdiskusi dengan tujuan memberikan kedalaman konteks. Hal tersebut tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya, karena mungkin kita terbiasa mengkonsumsi musik – musik populer yang didalamnya sudah memiliki pesan atau makna yang disampaikan secara eksplisit sehingga kita tidak perlu bersusah payah untuk bertanya langsung kepada sang musisi.

Kemudian ketika saya bertanya apa yang membedakan musik noise dengan suara-suara bising lainnya? Esoy dan Iqbal dari BNE mengatakan hal yang kurang lebih senada; “suara yang digunakan untuk musik noise sebenarnya bisa berasal dari apa saja bahkan kalau mau pakai batu pun sah-sah saja namun hal tersebut harus dibarengi dengan alasan dan konteks yang lebih dalam agar tidak terkesan ngasal.”

Dari jawaban tersebut saya menyimpulkan bahwa pemakaian properti – properti materil dalam musik noise menciptakan struktur baru yang lebih kontekstual, substantif, dan abstrak. Seperti Iqbal dalam setiap penampilannya bersama BNE, ia selalu menggunakan properti materil tambahan seperti teriakan ibu-ibu  karena katanya hampir di setiap penampilannya ia berusaha merespon titik-titik konflik agraria / HAM yang kerap mengorbankan kaum ibu di Indonesia.

Pertanyaan Terakhir

Noise memiliki dasar yang sama dari suatu gerakan kesenian, yaitu dadaisme. Sebuah gerakan kesenian yang lahir dari suatu social outburst (ledakan sosial). Singkatnya dadaisme hadir dengan kritik yang mengatakan “art could be anything and everything” dan secara langsung melawan pemahaman tradisional kesenian yang “stereotipikal”. Spirit tersebut pun tersirat dalam dalam musik noise yang tidak memperdulikan adanya aturan estetik yang menghalangi.

Saya berkesempatan bertanya kepada teman saya yang kebetulan beberapa kali berkecimpung baik dalam acara ataupun pembuatan musik noise. Ketika saya bertanya tentang apa yang Ia rasakan, Ia berkata bahwa alasan dirinya memutuskan terlibat karena Ia ingin “me-musik-an” musik noise. Tapi seiring berjalannya waktu, ia mengerti dan menerima bahwa musik noise memang begitu adanya. Walaupun terdapat suatu ketidakutuhan menurut pandangan dirinya terhadap musik noise, namun penilaian tersebut justru melahirkan perspektif baru dalam bagaimana memaknai ketidaksempurnaan.

Ada makna yang lebih mendalam pada bagaimana suatu gagasan / ekspresi disampaikan dengan mendobrak  segala bentuk hegemoni struktur dan teori dalam suatu musik / lagu. Akhirnya yang tercipta adalah suatu ledakan ekspresi yang murni tanpa ada batasan atau keharusan untuk bisa dinikmati oleh orang banyak. Pada akhirnya menuntun saya pada pertanyaan berikutnya tentang musik noise, musik yang melawan atau perlawanan dalam musik?

Tags:
Defta Ananta

Terkadang jadi musisi dan terkadang jadi penulis di Incotive. Tapi yang pasti, masih jadi pemuda yang sering mempertanyakan banyak hal.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *