LOADING

Type to search

Manusia: Spesies yang Dicerdaskan?

COLUMN

Manusia: Spesies yang Dicerdaskan?

Naufal Malik 28/03/2017
Share

Inspirasi itu seperti cinta, datang tiba-tiba lalu hilang ketika diminta. Dengan banyaknya kegiatan menyebabkan waktu luang makin menipis. Ingin mencoba membuat suatu tulisan, hasilnya malah nihil akibat kurang inspirasi. Saat pikiran sudah terasa “mumet”, tiada disangka dengan bermodalkan kopi hitam agar dapat duduk dan menonton televisi di suatu warkop inspirasi datang juga.

Singkatnya pada malam itu televisi warkop menyiarkan film berjudul “Rise of the Planet of the Apes”. Film keluaran tahun 2011 ini cukup terkenal untuk dikategorikan sebagai film mainstream menurut saya. Bagi kalian yang belum nonton akan saya ceritakan isinya. Bagi kalian yang sudah, anda dapat skip tiga paragraf setelah paragraf ini.

Singkat cerita seorang ilmuwan mencoba membuat obat untuk menyembuhkan penyakit Alzheimer. Subjek penelitian tersebut dilakukan pada simpanse liar yang ditangkap sewaktu masih sangat belia. Dari sekian banyak subjek tes, seekor simpanse betina dinyatakan berhasil. Namun celakanya karena suatu keadaan si simpanse betina ini dimatikan. Si ilmuwan yang penasaran lalu memeriksa ke kandang si simpanse dan kemudian menemukan seeokor bayi simpanse. Bayi simpanse itu pun diadopsi oleh si ilmuwan dan diberi nama Caesar. Seiring berjalannya waktu, Caesar menunjukan kecerdasan yang luar biasa. Dapat berkomunikasi dengan manusia menggunakan bahasa tubuh, berhitung, berseni, dan lain-lain yang melebihi kecerdasan simpanse pada umumnya. Si ilmuwan tetap mengamati perkembangan Caesar sambil tetap meneruskan penelitiannya untuk obat Alzheimer. Obat akhirnya berhasil dibuat dan berhasil dengan sembuhnya ayah si ilmuwan yang telah mengidap Alzheimer.

Akan tetapi lambat laun Caesar mulai menyadari kalau dirinya yang sejak kecil hidup di lingkungan manusia ternyata sangat berbeda dengan manusia. Si ilmuwan pun akhirnya memberi tahu Caesar bahwa dia adalah simpanse yang dilahirkan di laboratorium lalu kemudian diadopsi. Stres dengan kenyataan yang baru ia ketahui, suatu kejadian pun terjadi yang oleh Caesar direspon dengan menganiaya tetangga si ilmuwan. Tentu saja dampak dari perbuatannya ialah Caesar dikirim ke tempat penangkaran para kera. Hari pertamanya pun berakhir buruk karena kera di sana masih menggunakan hukum rimba yang tentu tidak beradab dalam pandangan Caesar yang terbiasa hidup dengan manusia. Tempat yang bagaikan penjara itu membuat hidup Caesar menderita sehingga dia ingin cepat keluar dari sana, tetapi nihil karena si ilmuwan suatu waktu datang, tapi karena hukum tidak bisa membawanya keluar.

Frustasi, Caesar mulai melupakan masa lalunya dan menjadi dewasa. Dia menyatukan seluruh kera di penangkaran dengan menjinakkan seekor gorila dan memberi mereka biskuit. Kekerasan yang diterima para kera oleh penjaga penangkaran membangkitkan semangat memberontaknya melawan manusia. Dengan menggunakan obat hasil eksperimen si ilmuwan yang dia curi, Caesar menginfeksikannya pada seluruh kera di penangkaran dan berhasil membuat pasukan kera pintar. Hari itu pun tiba. Caesar dan pasukannya kabur dari penangkaran, membebaskan kera-kera di kebun binatang dan laboratorium, lalu memulai kekacauan. Kota San Francisco yang menjadi latar belakang film seketika berubah menjadi medan perang antara Caesar dan pengikutnya melawan aparat keamanan setempat. Dapat dikatakan pihak Caesar memenangkan pertempuran tersebut dan kemudian lari ke hutan terdekat. Akhir film menayangkan bahwa kera yang terinfeksi ternyata menyebarkan virus yang mematikan dan mudah tersebar sehingga menjadi awal dari kepunahan manusia.

Tulisan ini terlihat seperti sebuah review film, tetapi bukan itu intinya. Setelah menonton saya teringat ada sebuah teori “ngasal” yang pernah saya baca di internet tentang asal mula spesies manusia. Teori ini sebenarnya juga banyak cabangnya, tapi memilik kesamaan yaitu “bahwa sebenarnya ada makhluk sebelum manusia yang memiliki peradaban yang sangat maju sehingga dia menciptakan manusia untuk menjadi pelayannya”. Teori ini banyak berkembang di kalangan mereka yang percaya alien atau yang mencoba “melogiskan” Tuhan. Salah satu dalil mereka adalah dengan melihat silsilah penguasa Peradaban Sumeria dimana penguasa awal memiliki umur puluhan ribu tahun dan setelah beberapa generasi, usia penguasa selanjutnya langsung turun secara signifikan menjadi puluhan tahun. Selain itu di kisah-kisah awal mula manusia pada beberapa agama dan kepercayaan juga menyebutkan bahwa Tuhan atau para Dewa menciptakan manusia. Beberapa orang meyakini bahwa “sang pencipta” yang telah disebutkan tidak lain hanyalah makhluk-makhluk yang sudah sangat maju sehingga dapat membuat makhluk hidup lain untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Jika anda pernah bermain franchise game “Assassins Creed”, maka anda pasti tahu “Those who came before” yang menciptakan manusia. Namun pada akhirnya manusia yang dipelihara oleh ‘Dewa’ memberontak dan mencuri peralatan mereka sebagai senjata. Pemberontakan pun berhasil yang membuat manusia sebagai spesies paling mendominasi di bumi. Sama juga dengan kisah mitologi Yunani tentang dewa-dewi berhasil menumbangkan kekuasaan para Titan dan menguasai dunia. Padahal dewa-dewi ini sebenarnya adalah keturunan para Titan sehingga dapat dikatakan mereka memberontak melawan “penciptanya”. Gambaran sederhananya kira-kira seperti itu.

Jadi pertanyaan bagi saya sendiri bahwa apakah benar kita hanya spesies yang dicerdaskan? Dan kalau iya, siapakah dia sang “pencipta” kita? Benarkah Tuhan yang maha dari segala maha atau justru makhluk yang kita tidak ketahui saat ini? Yang pasti jangan terlalu serius menanggapi teori ini mengingat hanya sekedar hal-hal aneh yang bisa kita temukan di internet. Akan tetapi jadikan saja sebagai semangat untuk mencari jawaban-jawaban yang masih misteri di dunia fana ini. Karena salah satu hal yang menjadikan kita manusia adalah keinginan untuk selalu mencari tahu.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *