LOADING

Type to search

Masyarakat Pendendam yang Disatukan Kebohongan

COLUMN FEATURED

Masyarakat Pendendam yang Disatukan Kebohongan

Naufal Malik 10/11/2018
Share

Ilustrasi oleh Pininta Taruli

Saya bukan orang yang mudah marah, tetapi kalau misalnya ada sekawanan bedegul dengan mulutnya yang sotoy nan kampungan berada dalam satu lift di apartment dengan saya, baru saya berimajinasi untuk menginjak-injak batang leher mereka. Dapatkah berarti saya dikatakan orang yang mudah marah? Bukankah saya hanya mengikuti tren negara dunia modern dengan menamai angkatan bersenjatanya sebagai “Pertahanan” (contoh: Israel Defensive Force) dan menyebut serbuan ganasnya sebagai misi perdamaian (Lihat tindakan Sekutu di Libya). Pula ini berlaku bagi kalangan masyarakat yang sering membenarkan aksinya sebagai “melindungi keutuhan umat” dan yang paling sering ingin membuat saya tertawa adalah “kami adalah damai, hanya menyerang ketika diserang” saat kondisi sebenarnya tidak ada peperangan.

Memang betul, bangsa kita adalah remeh temeh, ­cooli nation and cooli among nations. Persoalannya masih berkutat dalam perut dan selangkangan. Coba kita lihat orang europeanen yang mulai menata diri sebagai negara yang relevan (padahal tidak) dalam abad ini, dimana adidaya masih dipegang oleh United States; dengan membuat sistem keadilan yang merata dalam bidang ekonomi, politik, administrasi, dan lain-lain bagi warga negaranya. Padahal sebelumnya mereka adalah para biadab yang memeras keringat bangsa kuli ini. Tapi dari orang-orang kulit putih ini, takdir bangsa Nusa di Antara (Nusantara) terbentuk tapi tidak terbentur.

Siapa bilang kita adalah bangsa yang satu? Penggolongan penduduk masih ada bung! Sah-sah saja kita sebut orang itu cina, orang itu pribumi, dan orang itu utusan Ilahi dari Kerajaan Tuhan pada pesisir pantai ­Levant. INGAT! Aturan peralihan dalam Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan peraturan sebelumnya dianggap berlaku sepanjang belum ada ketentuan yang baru. Berarti masih berlakulah staatsblad (lembaran negara zaman kolonial) no. 1925-447 memuat Indische Staatsregeling (quasi konstitusi Hinda-Belanda), khususnya pada pasal 163 tentang penggolongan penduduk yang dibagi menjadi Europeanen (S. 1849-25), Vreemde Oosterlingen (Timur Asing S. 1917-130), Inlander non-Kristen (S. 1920-751), dan Inlander Kristen (S. 1923-75). Apa buktinya? Coba bung dan sarinah sekalian lihat akta kelahiran anda lalu temukan dasar hukum atas kelahiran tersebut. Seharusnya Stbl yang ada pada akta kelahiran itu dapat dirujuk ke tulisan ini untuk mengetahui golongan manakah anda.

Lalu apa maksud semua ini? Jawabannya kepentingan politik hukum penjajah yang membelah penduduk menjadi berbeda-beda hukumnya. Idealnya adalah pembagian segaris namun nyatanya nampak seperti kasta di India. Mereka yang tunduk dengan hukum eropa; yaitu Orang Eropa, orang Jepang, Orang Thailand, Orang Turki, Orang Timur Asing Tionghoa, dan Pribumi Kristen, adalah penduduk kelas atas. Lain halnya dengan Orang Timur Asing non-Tionghoa (misalnya arab) dan Pribumi non-Kristen yang menggunakan hukum adatnya sendiri sehingga dianggap inferior. Kemerdekaan Indonesia memang dianggap menghapus maksud dari penggolongan ini, namun living law-nya tidak sepertinya.

Sistem penggolongan penduduk kolonial memang dirancang sedemikian rupa agar Orang Eropa duduk nyaman di atas piramida penduduk Hinda-Belanda dengan mengorbankan Orang Tionghoa maupun Pribumi Kristen apabila masyarakat muslim yang mayoritas itu mengamuk. Kebebasan atas penjajah menimbulkan dendam kepada golongan penduduk kelas atas, dan itu masih terjadi pada hari ini dengan adanya politik ras dan agama.

Para pemilik kepentingan memimpin bangsa kuli Pribumi Muslim beserta kroni timur asingnya (biasanya arab) menyebarkan kebencian dengan menghilangkan peran Orang Cina dan Orang Kristen dalam perjuangan kemerdekaan, dan membuat Istilah asing dan aseng yang merujuk kalau golongan penduduk ini tak lebih dari agen penjajah karena menikmati kejayaan kolonial. Inilah dendam antar waktu yang masih terjangkit di kalangan mayoritas sehingga sah saja kalau Bangsa Indonesia adalah masyarakat yang dendam dengan kompeni beserta sekutunya.

Orang Inlander sejatinya adalah masyarakat oral, percaya dengan “katanya si ini” atau karena kebiasaan nenek moyang maka pasti baik dan benar. Sebetulnya peradaban kita ini mirip seperti Bangsa Anglo-Saxon yang mendasarkan hukumnya dari kebiasaan, bukan seperti Eropa Kontinental yang segalanya tertulis layaknya peradaban Romawi.

Sumber literatur sejarah Orang Indonesia kebanyakan dari penulis-penulis asing, hanya sedikit sekali tulisan yang dibuat oleh Orang Indonesia sendiri. Maka rentan sudah kepastian akan informasi, terutama apabila info tersebut diumumkan oleh orang yang dituakan. Pada zaman sekarang di mana grup Whatsapp bapak-bapak begitu sengitnya bersaing memberi kabar, maka syarat orang yang dituakan diganti dengan dua suku kata “info valid”.

“Dijajah oleh Belanda selama 350 tahun” adalah propaganda mainstream yang sering diutarakan oleh para sepuh. Coba kita telaah, Indonesia mengklaim merdeka pada tahun 1945 kemudian dikurangi 350 sehingga hasilnya adalah Indonesia dijajah sejak tahun 1595. Padahal kenyataan pada catatan-catatan kuno bahwa pada tahun-tahun sekitar itu armada dagang Belanda mencapai pelabuhan Kesultanan Banten. Tidak ada niat melakukan penjajahan, hanya berdagang seperti bangsa asing lainnya yang berlayar ke Nusantara.

Kedatangan perusahaan dagang dari Belanda selanjutnya, Vereenigde Oostindische Compagnie (VoC) memang mewakili tindakan kolonialisme dari pemerintahan Direksi Belanda¸ Heeren Zeventien, namun baru benar-benar bisa dikatakan dijajah pada tahun 1800an ketika VoC dibubarkan berdasarkan perintah Tuan dari Prancis yang kemudian diambil alih langsung kekuasaan di Hindia Timur oleh pemerintahan Kerajaan Belanda. Semangat menyebarkan ajaran kodifikasi yang terinspirasi oleh Code Napoleon atau Code Civil des Francais yang menjadi contoh nyata atas penggeseran sistem adat asli Indonesia dengan hukum asing.

Selain propaganda kebohongan waktu penjajahan, dapat ditemukan semangat kemerdekaan dengan cerita-cerita legenda yang amat digandrungi oleh para pribumi. Majapahit selalu menjadi contoh bahwa dahulu nusantara adalah satu. Teritorinya pun dilebih-lebihkan, seluruh Nusantara dan Semenanjung Melayu, padahal hanya pesisir-pesisirnya saja yang dikuasai, tidak sampai ke pedalaman pulau-pulau. Bahkan, dengan mengagungkan Majapahit berarti merayakan tindakan penjajahan Orang Jawa terhadap Orang-Orang non-Jawa. Ironis sekali, semangat melawan penjajahan didoktrin oleh kejayaan penjajah dari masa lalu.

Lantaran dendam akan tekanan penjajah dan juga dengan cerita-cerita heroik, maka orang-orang Hinda-Belanda merasa satu kesatuan. Bangsa Indonesia disatukan oleh kesamaan riwayat dan niat, yaitu sama-sama diperlakukan seperti kuli oleh orang kulit putih. Diagungkanlah Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya Bangsa Indonesia. Inilah mahakarya leluhur kita yang berhasil menemukan aanknopingspunten dari orang Nusantara, yang merupakan masyarakat pendendam yang disatukan kebohongan.

Residu negatif atas “eksperimen” ini masih berlanjut hingga sekarang. Namun kita-lah, pemuda awal abad 21 yang kecanduan gadget yang seharusnya mengulang tindakan pemuda awal abad 20, menemukan kembali apa makna revolusi kemerdekaan. Kita-lah yang membawa beban sejarah dan peradaban untuk merobah kata “pendendam” menjadi “pejuang” dan “kebohongan” menjadi “kesamaan”. Berdoa saja beberapa tahun lagi akan diadakan Kongres Pemuda ke-3 yang menjadi awal zaman keemasan bangsa ini. AMIN!

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *