LOADING

Type to search

May Day 2018: Upah, Tanah, Kerja

FEATURED SELECTION

May Day 2018: Upah, Tanah, Kerja

Naufal Malik 02/05/2018
Share

Kemarin hari suci pekerja seluruh dunia berlangsung seperti biasanya, demonstrasi besar-besaran di kawasan ring 1 republik ini. Sudah menjadi semacam ritual sakral, setidaknya di Indonesia, bahwa 1 Mei berarti berkumpulnya pekerja dari berbagai wilayah, berbondong-bondong ke pusat ibukota dengan niat unjuk rasa mencari hak-haknya yang tak kunjung didapat.

Sialnya, pemerintah seakan sudah bosan melihat kerumunan yang berteriak di Jalan Merdeka. Diciptakan lah suatu propaganda yang menggelikan di media massa karena kebetulan di negeri ini semua orang adalah pengguna media sosial. Bisa dilihat dari berbagai poster yang merendahkan makna dari massa aksi kaum buruh. Dimulai dari ajakan memancing, bermain tenis meja, hingga pengajian massal. Semuanya berdalih daripada kalian lelah berpanas-panasan di jalan, lebih baik ikuti ajakan kami yang penuh dengan hura-hura dan melemahkan ajaran perjuangan. Bukan buruh namanya bila hanya menuruti perintah pemodal maupun pengusaha. Aksi May Day tetap ada dan akan terus ada setiap tahunnya sampai pemerintah tidak lagi lupa kewajibannya menyejahterakan rakyat.

Komposisi massa aksi masih berada pada umumnya yakni mayoritas pekerja yang mencari nafkah di wilayah JaBoDeTaBek dan sebagian kecil mahasiswa dan simpatisan. Masyarakat umum pun terlihat memenuhi rute yang dilalu massa aksi seperti semacam hiburan tahunan yang tidak boleh dilewatkan. Teriakan dari atas mobil komando masih menjadi tipikal suara dari tahun-tahun yang sudah lalu. Contohnya adalah tuntutan penghapusan peraturan pemerintah yang dianggap merugikan buruh, menghilangkan status pekerja kontrak, presiden dan wakil presiden hanya boneka dari negara adikuasa, sampai tuntutan yang secara tidak langsung berhubungan dengan hari buruh seperti penolakan RKUHP da UU MD3.

Menariknya ada slogan yang sering terdengar sepanjang siang itu, yakni “Upah, Tanah, dan Kerja.” Dapat disimpulkan ini inti seluruh tuntutan kemarin. Pertama adalah upah yang masih dibawah standar kemakmuran itu diubah, kedua adalah berikan sertifikat tanah bagi buruh yang belum punya, dan ketiga perlindungan dari pemutusan hubungan kerja.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *