LOADING

Type to search

Kita yang Selalu Melihat ke Belakang Untuk Merasa Senang

COLUMN

Kita yang Selalu Melihat ke Belakang Untuk Merasa Senang

Naufal Malik 30/06/2018
Share

Ilustrasi oleh Marco Hanif Samudro

Persetan dengan maaf-memaafkan karena akan diulangi juga di kemudian hari. Kata seorang teman kepada saya, “opor ayam tuh biasa aja” maka dapat disimpulkan perayaan lebaran hanya menjadi ritual adat semata, hilang sudah apa yang terkandung di dalamnya. Kata seorang teman pula dia berkata, “Idul Fitri adalah kemenangan bagi para setan, karena mereka dapat terbebas kembali setelah dikurung satu bulan.” Hari kemenangan yang dirayakan tiap tahunnya tidak lagi terasa sebagai suatu kemenangan. Lalu, bagaimana dengan kita yang selalu melihat ke belakang?

Banyak yang akan berkata, terutama dari kalangan orang tua, bercerita tentang bagaimana dulu saat mereka seusia kita merayakan lebaran. Masa-masa yang sangat indah karena dapat bercengkrama dengan tetangga, saudara, dan kerabat. Pemuda-pemudi sekarang hanya sibuk memamerkan pakaian barunya, makanan di rumahnya, perjalanan mudiknya, atau mempublikasikan ucapan selamat hari raya yang unik dan trendi di jejaring sosial. Kemenangan yang hakiki hanya terjadi di masa lalu.

Keberlakuan bahwa “dulu itu lebih keren dari sekarang” terjadi di berbagai perbincangan sekitar kita. Contoh paling dekat adalah olahraga ekstrim yang dapat menyebabkan seseorang meninggal dunia, sepak bola. Rivalitas antara klub atau pemain sekarang dianggap monoton. Tipikal komentarnya adalah “paling yang menang itu lagi itu lagi” kemudian dilanjutkan dengan pernyataan bahwa persaingan yang ketat adalah ciri pertandingan yang baik. Bidang musik juga demikian, aliran-aliran musik hingga awal tahun 2000an lebih digandrungi masyarakat ketimbang musik elektronik. Mereka bilang bahwa lagu-lagu di masa lalu lebih puitis dan memiliki makna daripada musik sekarang yang hanya membicarakan kenakalan, seks, narkoba, dan cinta pergaulan bebas.

Apabila diperluas lagi, sesungguhnya bangsa kita pun juga hidup di masa lalu. Pastinya istilah “Macan Asia” pernah masuk ke kuping setiap orang Indonesia. Pembesar-pembesar negara ini kebanyakan menyebut istilah tersebut untuk menandakan bahwa kita akan kembali ke jalur kejayaan yang telah dirancang dahulu. Pembangunan yang terjadi hingga sekarang dianggap belum mumpuni untuk menjadikan negara ini berjaya. Lebih lanjut, tokoh perjuangan dan kemerdekaan dianggap sudah melebihi manusia, derajatnya sudah setengah dewa. Namun, apakah di masa kini tidak ada yang pantas disebut pahlawan?

Rosy Retrospection, istilah yang saya temukan sewaktu mencari jawaban atas romantisme terhadap masa yang telah berlalu. Dia adalah sebuah bias akan suatu kejadian dimana kejadian itu akan dikenang lebih baik daripada ketika terjadi. Seperti ketika tahun 1990 yang selalu dipuja sebagai dekade terbaik seakan-akan menutup kenyataan bahwa situasi politik dan ekonomi negara sedang hanyut dalam aliran flush kakus. Detilnya ada 3 tahap terjadinya bias ini. Tahap pertama, Rosy Projection, yaitu mengharap hal-hal positif pada kejadian yang akan datang. Tahap kedua, Dampening, meminimalisir kenikmatan akan kejadian tersebut. Tahap ketiga, Rosy Retrospection, adalah terjadinya bias ini dengan menilai baik kejadian yang telah lalu melebihi yang dirasakan.

Penyebab paling besar dari bias ini adalah suatu fakta bahwa tidak banyak orang yang mengingat bagian buruk atau pun bagian biasa saja. Ingatan selalu condong ke yang lebih menarik dan berkesan. Bayangkan saja untuk membuat sebuah cerita pasti awal dan akhirnya mudah untuk dibuat, tetapi bagaimana dengan bagian tengahnya? Proses dari awal cerita menuju kesimpulan akhir adalah bagian tersulitnya. Bagian tengah ini yang sering orang-orang lupakan ketika mengenang era, karena yang dikenang hanya awal yang biasa saja menuju akhir yang luar biasa. Semua lupa akan apa yang terjadi pada pertengahannya, tentang perjuangan dan kerja keras yang diupayakan, serta berbagai kesedihan dan kekacauan yang terselip pada halaman tengah lembaran ingatan. Maka sudah tentu, masa dimana kita yang sedang berada pada pertengahan ‘cerita’ dianggap lebih rendah dari masa yang telah berakhir.

Mengerikannya, ini adalah semacam lingkaran setan. Suatu saat, generasi pemuda sekarang akan menjadi tua lalu kemudian membanggakan eranya. Suatu keniscayaan yang mengabuti kepala akan perbandingan zaman. Akibatnya bangsa ini selalu terjebak akan masa lalu penuh keindahan dan romansa. Akan tetapi, kepuasan manusia adalah tak terhingga dan selalu membuat perbandingan mana yang lebih baik menjadi naluri alamiahnya. Mungkin saja bias ini suatu saat akan hilang, ketika sudah ada teknologi untuk mengetahui masa depan. Sampai itu khayalan itu terealisasikan, nikmati saja lagu-lagu Vina Panduwinata yang penuh dengan gairah pada tiap nafasnya.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *