LOADING

Type to search

Melihat Media Sosial dari Kacamata Pecundang Lokal

COLUMN

Melihat Media Sosial dari Kacamata Pecundang Lokal

INCOTIVE 28/01/2018
Share

Teks: Arbha Witarsa
Ilustrasi: Mutiara Fakhrani

Informasi begitu cepat didapat, dan jumlah informasi yang menyebar dan dapat diakses jumlahnya sangat banyak sekali sehingga sekarang kita sangat kebingungan mana informasi yang valid. Pada akhirnya kita mengasumsikan bahasa dalam setiap informasi hanyalah sekedar opini dari orang yang menulisnya saja. Seperti tulisan ini, dengan lantang saya katakan bahwa ini adalah sebuah opini saya sebagai manusia yang jenuh dengan hiruk-pikuk dunia digital.

Jujur dunia nyata tidak membuat saya jenuh, tapi entah dengan dunia digital. Di dunia nyata kita tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, saat saya melihat dunia digital melalui smartphone saya, “God damn it” dunia seakan akan sedang kiamat. Hal yang tidak penting memicu konflik nasional, kucing-kucingan politikus dengan lembaga pemerintah, gosip penyebab bencana alam yang disebabkan oleh akhlak seseorang, hingga perseteruan mantan presiden dengan mantan rakyatnya. Semuanya diperkeruh di dunia digital.

Selain itu media sosial telah membuat kehidupan selebriti menjadi sangat penting. Seolah-olah telah lahir banyak nabi-nabi baru yang diukur dari seberapa banyak pengikutnya di media sosial. Sebegitu pentingnya kehidupan selebriti untuk masyarakat, seakan kita perlu tahu apa warna celana dalam seorang selebriti. Padahal, apakah mereka benar benar selebriti? Atau hanya orang-orang yang berpengikut lebih dari ratusan ribu saja? Atau hanya pria atau wanita yang berparas elok, tetapi buah pikirannya selalu dianggap benar tanpa tau kenyataannya?

Untuk orang-orang yang beranggapan kiamat sudah dekat, saya yakinkan kiamat memang sudah sangat dekat. Tidak perlu saya bawa kata-kata dari Alkitab. Jika dilihat dari fakta sekarang, sosial medialah yang akan membuat dunia ini kiamat. Media sosial merubah cara hidup masyarakat. Ini bukan isu nasional saja namun telah menjadi isu global. Dimana media internasional terus menginformasikan seberapa bahayanya perpaduan antara smartphone dan anak-anak. Selain itu banyak juga mantan petinggi perusahaan teknologi digital yang berpendapat bagaimana platform yang telah mereka bangun menjadi berbahaya untuk masyarakat. Salah satunya adalah Sean Parker mantan Presiden Direktur Facebook. Hanya tinggal menunggu generasi-generasi “yucuber” memegang kendali dunia dan kita bisa mengucapkan selamat datang kepada kiamat.

Mengapa saya sangat membesar-besarkan hal ini? Pertama coba anda buka smartphone Anda, lalu buka Line Today dan lihat berita-berita populer disana. 80% dari berita disana benar-benar tidak penting dan tidak perlu diberitakan. Kedua, buka Instagram kalian, lihat explore kalian, 70% isi explore berisi wanita atau pria berparas elok dan berpengikut 10.000 orang keatas yang menyombongkan apa yang mereka punya dengan caption seakan akan itu adalah hal paling bijak yang perlu dilakukan banyak orang. Ketiga, dengan banyaknya penguna instagram dan line di Indonesia, persebaran informasi menjadi sangat cepat. Jika informasi yang menyebar adalah informasi yang bermanfaat, mendidik, dan menjadi insight baru bagi orang yang melihatnya, it’s ok. Tapi, apakah kenyataannya seperti itu? Menurut saya tidak, kita masih sering melihat berita keluarga Rafi Nagita, Awkarin, Tatan, Gempita, dll, dibandingkan dengan berita berita yang bermanfaat.

Hal ini menjadi sangat miris ketika banyaknya anak-anak dibawah umur yang menjadi korban berita berita tersebut. Lihat anak SMA sekarang, siswi siswi sudah menggunakan pensil alis, make up seperti akan datang ke undangan pernikahan, dan rajin menonton vlog tentang make up.

Siswa-siswa juga ingin membawa kendaraan roda 4 atau roda 2, padahal mereka belum memiliki surat izin mengemudi. Yang lebih miris lagi ketika banyak anak-anak SD, dan SMP sudah melihat vlog vlog kehidupan sosialita di sosial media, yang akhirnya menghancurkan cita-cita mereka. Kenapa menghancurkan? Karena ”yucuber” bukanlah cita-cita! Jika tidak ada youtube apa yang akan dilakukan youtuber sekarang? Apa akan menjadi ahli psikologi? Ahli pariwisata? Ahli sosiologi? Atau selebriti lah sesuai fungsinya sekarang. Saya rasa tidak, kecuali mereka yang memang memiliki kemampuan disitu. Memang sekarang itu “yucub yucub yucub lebih dari BUMN, BOOM!”. Ingat youtuber itu dewa ya, jangan lupa. Mereka hampir setara dengan Zeus dan Poseidon lah. Mungkin lima puluh tahun lagi akan ada seseorang yang memasang gambar salah satu youtuber seperti “hey yo wassap” di dinding kamarnya dan diberi dupa dan sesajen mungkin ya.

Kita sedikit menjauh dulu dari pesan-pesan moral sebelumnya ya. Selain sosial media menurunkan moral bangsa, sosial media juga berperan dalam penyebaran hoax atau berita palsu. Walaupun hoax tersebut tidak dibuat oleh pembuat platform sosial media tersebut, namun platform mereka menjadi sarana distribusi bagi para pembuat berita palsu.

Para pembuat berita palsu ini sudah ada dari zaman dahulu kala, namun mereka juga oportunis, melihat sosial media sebagai peluang. Berita seperti musim kering panjang 2019 – 2022, hoax begal vs polisi, hoax nasionalis keagamaan, dll. Sudah banyak hoax yang beredar dan hampir tak ingat lagi apa saja. Namun, mengapa hoax sangat berbahaya? Karena itu dapat mempengaruhi kehidupan seseorang. Sebagai contoh, beberapa minggu lalu saya bertemu pemilik warung kopi langganan saya dan dia menangis curhat karena membaca hoax musim kering panjang. Mentalnya langsung jatuh, dan memikirkan hal yang tidak-tidak. Bagaimana kalo dia berfikir terlalu berlebihan? Hal terburuk sekalipun bisa terjadi.

Itu masih isu-isu yang kita anggap biasa lah dianggap hoax, apalagi isu isu politik? Seperti yang  Anda tau juga banyak sekali hoax terkait isu politik. Berita palsu ini dikemas sedemikian mungkin agar tampak seperti berita yang valid, hampir sama kaya flat earth lah, sangat meyakinkan, bukan? Akan tetapi ini adalah isu politik. Seberapa bahayanya hal tersebut untuk negara ini? Di saat masyarakat malas untuk mencari referensi lain, dan melakukan penilaian terhadap satu informasi, hal ini dapat menimbulkan perpecahan jangka panjang.

Contoh kasus Ahok dan anti Ahok, siapa yang benar dan salah saya kembalikan kepada pembaca. Dan banyak kasus lainnya hingga gosip-gosip program kerja presiden. Bisa pecah negara ini kalo terus kaya gini. Saya heran, siapa yang bikin hoax ini ya? Ada yang bilang ada yang bayar, tetapi saya yakin yang buat ini pasti ga dibayar, mereka base on passion aja. Kaya “Lebah Ganteng” lah yang setia membuat subtitle buat kita semua, dia kan gaji cuman Rp 300.000,-/bulan katanya, kenapa mau? ya based on passion. Ingat kerja harus sesuai passion, biarin laper juga, yang penting passion, quotes by yucuber.

Tags:

You Might also Like

2 Comments

  1. Sagitta 30/01/2018

    Artikel ini terbilang cukup sinikal menurut saya. Sosial media membawa dampak berbeda untuk tiap individu tp munafik rasanya kalau harus merendahkan cita-cita individu menjadi “youtuber” hanya karena penulis tidak menyukai konten yang ia konsumsi. Sosial media bekerja berdasarkan algoritma, ingat? Ayolah jd seorang pengguna yang bijak, msh banyak tmn2 kreatif kita yg cari makan lewat sosial media

    Reply
    1. INCOTIVE 30/01/2018

      Sebelumnya, terimakasih banyak telah berkomentar.

      Sebenarnya artikel ini memang bersifat sinikal, karena artikel ini murni opini saya pribadi. Artikel ini saya buat untuk membagikan pandangan saya mengenai kondisi mayoritas dunia digital yang saya lihat saat ini. Namun apabila lebih lanjut, artikel ini saya tujukan langsung untuk para content creator, agar menjadi sebuah alat bantu introspeksi, apakah konten yang mereka buat dapat bermanfaat? apa dampaknya kepada masyarakat? Bermanfaat untuk siapa dan kenapa? Mungkin banyak konten yang sebenarnya baik namun masih berdampak tidak baik karena tidak tepat sasaran.

      Saya akui masih banyak para pelaku kreatif yg mencari nafkah dari sosial media. Namun dalam suatu pekerjaan terdapat pula tanggung jawab. Para pelaku kreatif pun diharapkan dapat memikirkan secara sadar segala dampak sosial yang dapat ditimbulkan dari pekerjaan yang mereka lakukan.

      Dikarenakan internet sudah sangat mudah digunakan oleh segala kalangan, maka dari itu saya anggap sangat penting untuk mengutarakan pendapat saya melalui artikel ini. Untuk menjadi kritik yang mungkin sudah bosan didengar oleh masyarakat sendiri.

      Terimakasih.

      -Arbha Witarsa

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *