LOADING

Type to search

Sebuah Pengalaman Mencerna Pesan Lewat Musik Instrumental Under The Big Bright Yellow Sun

COLUMN FEATURED

Sebuah Pengalaman Mencerna Pesan Lewat Musik Instrumental Under The Big Bright Yellow Sun

INCOTIVE 30/11/2019
Share

Teks dan foto oleh Ari. A. Santosa

Dunia sudah terlanjur menghamburkan kata-kata, tulis seorang sastrawan, kata-kata bisa diganti makna, makna bisa diubah arti. Seseorang di luar sana, mungkin, pernah mandek untuk mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya. Bagaimana mengatasi kemandekan pengungkapan itu? Barangkali bunyi yang ditawarkan musik instrumental bisa menjadi cara alternatif untuk sesuatu yang tak terungkap. 

Melalui musik instrumental kata-kata memang sengaja dinihilkan. Namun, ajaibnya pesan dari musik instrumental itu masih sanggup dicerna dengan atau tanpa sadar. Itulah yang saya pikirkan saat menonton band post-rock asal Bandung, Under The Big Bright Yellow Sun yang kala itu sedang manggung di salah satu gigs di Bandung (22/11).

Malam itu udara terasa dingin. Beragam warna lampu silih berganti seperti menari-nari seiring dengan musik yang berkelindan. Di area panggung sederet pohon tegak berdiri. Para penonton terlihat menikmati suasana itu. Alunan gitar tipis distorsi, suara bass yang tebal, ketukan pedal dan percikan dari simbal menggiring animo pada kehangatan. 

Pada pagelaran kali itu Under The Big Bright Yellow Sun (Selanjutnya ditulis: UTBBYS) menjalin sebuah kolaborasi apik dengan Zam-zam seorang lighting designer. Di sela-sela setelah memainkan beberapa lagu Didi (Bassist) UTBBYS mengungkapkan apresiasinya pada buah karya Zam-zam. “Tata cahaya ini sungguh membantu musik instrumental menjadi lebih hidup. Mempertebal pesan yang ingin kami sampaikan lewat musik tanpa lirik. Dalam istilah Harry Koi (Drum) Ini seperti struktur dramatikal.”

Konsep panggung kerap kali dimasak matang-matang oleh sejumlah musisi lokal. Ada yang memainkan visualisasi untuk memanjakan mata lewat backscreen panggung. Bahkan ada juga aksi selengean lempar duit receh ala Teenage Death Star. UTBBYS malam itu memberi pembaharuan dari konsep panggung mereka. Kolaborasi dengan tata cahaya yang dimotori Zam-zam menyuguhkan pengalaman puitis pada penonton.

Didi (bassist) juga sempat menyinggung perihal musik tanpa lirik, ia berterus terang bahwa sesungguhnya para pelaku musik instrumental memiliki visi yang sama. Ingin menyampaikan sebuah pesan. Dalam hal ini, Didi menjelaskan bahwa pesan yang ingin disodorkan oleh bandnya itu berlandaskan judul dari setiap lagu. “Jadi silahkan anda semua merepresentasikan itu sebebas mungkin.” Pungkas Didi.

Malam itu UTBBYS berhasil membius penonton masuk pada cakrawala musiknya. Lagu-lagu dari album Quintessential Turmoil seperti A Life In A Day, Ironic dibawakan dengan apik. Juga lagu-lagu dari album Painting of Life seperti Breath Sympony, Happiness Between Us dimainkan secara elok. Tak hanya itu, lagi-lagi mereka menaruh Treshold sebagai lagu penutup.

Secara subjektif saya sangat menikmati lagu Breath Symphony di album Painting of Life (2012). Entah kenapa, setiap kali mendengar lagu ini saya merasa sedang meditatif. Memikirkan bahwa kehidupan bukan menyoal kekacauan saja. Pada titik tertentu hal-hal menyenangkan, seperti nonton konser misalnya, mampu menangkal beban. 

Di lain kesempatan menonton UTTBYS saya pernah mengajak seorang perempuan yang tidak tahu band seperti apa mereka itu. Pada saat itu UTBBYS satu panggung dengan band pendahulu mereka, Polyster Embassy. Perempuan yang saya ajak tadi sekonyong-konyong menyikut saya sembari tersenyum. Lantas, bilang “Menonton band gini bikin aku memikirkan banyak hal. Di akhir lagu ngerasa lega” 

Sebagai penutup saya ingin bicara bahwa kehidupan ini sukar untuk dirunut secara artifisial. Apalagi melalui kata-kata. Saya bisa memberi jeda untuk tidak berkata-kata selagi mencerna apa yang ingin disampaikan oleh Under The Big Bright Yellow Sun.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *