LOADING

Type to search

Ngapain Berkomitmen Dalam Hubungan?

COLUMN FEATURED

Ngapain Berkomitmen Dalam Hubungan?

INCOTIVE 29/04/2018
Share

Teks: Aufa Yovari
Ilustrasi: Ridho Rakhmatullah

Di era yang woke ini, orientasi seksual, identitas gender, sampai bagaimana tiap individu ingin menjalankan tali hubungan dengan berbagai macam model intimasi adalah sebuah hal yang makin terbuka, tapi ia juga terlihat rumit. Ia bukan lagi ranah logis atau tidak, ia masuk ke perkara hati yang sudah terdukung empiris; berdasarkan data dan pengalaman manusia seiring waktu.

Hubungan monogami yang diisi hanya oleh dua orang masih tetap dirawat oleh peran mayoritas. Tentu disamping itu, pilihan mayoritas ini mulai beresiko bagi sebagian pihak, ia akan menjadi sebuah ketakutan seiring adanya hubungan antar dua orang; entah dalam kita menyikapi pasangan, atau dalam bagaimana kita disikapi oleh pasangan. Sebut saja masalah komitmen yang mudah dilanggar; selingkuh jadi makin wajar, anggapan micro-cheating itu seru dan tidak menyakiti pasangan. Pokoknya inovasi-inovasi hubungan yang ingin melepas dan berinterpretasi ulang terhadap komitmen dan menabrak opsi makin dikenal.

Jatuh cinta bisa bekali-kali, dimana dan kapan saja, adalah hal yang makin jadi umum seiring datangnya opsi sosialisasi manusia yang meningkat di era ini; begitu mudahnya kita mengenal orang lain berkat teknologi, misalnya. Manusia terpogram untuk bisa menjalin hubungan hanya karena tertarik terhadap fisik dan perasaan. Hal ini cuma persoalan siapa yang berada di lingkup kedekatan yang intens, atmosfer-situasional yang mendukung, rasa aman, nyaman, berbagi nilai-nilai daya tarik yang serupa, dan pengalaman-pengalaman romantis yang bisa dikenang antar dua orang. Mau kamu bilang hubunganmu platonic kek, kecendrungan itu tetap bisa hadir. Mau kamu sudah menikah pun, kamu atau pasanganmu masih sanggup untuk jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi kepada orang lain. Mungkin persentase besar-kecilnya berbeda, tapi tetap saja namanya masih jatuh cinta.

Oh ya mungkin kamu bisa saja tidak, tapi itu jika kamu tinggal di gua bersama pasanganmu dan jauh dari manusia, gagap teknologi, seorang pemuka agama yang merasa terpantau 24 jam spiritual kesehariannya oleh Tuhan dan umat, umur yang sudah mulai berlanjut, dan situasi-situasi lain yang memang memaksa untuk tidak menghadirkan opsi untuk selingkuh. Mungkin kamu bisa tidak jatuh hati selain pasangan yang ada di depan matamu sekarang ini.

Percintaan sama dengan jangka waktu temporer. Itu yang sering aku yakini. Sanggup untuk selama-lamanya jatuh hati hanya kepada satu orang saat berpacaran atau menikah? Kamu bukan robot yang bisa memberikan 100% rasa cinta yang abadi tanpa melirik sana-sini. Sudahlah sementara, bahkan ia selalu saja bersifat conditional. Cinta tanpa timbal balik mutualisme dan selalu saja pengorbanan sepihak? Tidak lucu.Yang ada kamu bakal ditinggal –waw najis aku sok rebel abis.

Terus “apakah salah jika perasaan tersebut muncul?” Ya tentu tidak salah, opsi ada dimana-mana. Yang ingin aku tekankan adalah jangan terlalu membohongi diri sendiri, terima saja bahwa itu memang kealamian manusia, ia tidak boleh disalahkan. Yang salah bagiku adalah ketika kamu menerima dan melanjutkan opsi tersebut yang harusnya bisa ditolak dengan dalih simpel, yaitu komitmen.

Oke, sampai sini masalahnya tampak clear ya?

Oh enggak dong.

Mel Schwartz menulis di Psychologytoday, pernyataan “aku sedang berada di suatu hubungan” dan “aku berkomitmen dengan hubungan ini” adalah dua ungkapan yang kadang kita terima sebagai satu ungkapan, dengan kata lain ia sering kali dianggap bermakna sama. Padahal jelas-jelas tidak demikian. Bayangkan jika ada seorang murid yang berkomit untuk mendapatkan nilai A akan tetapi tidak berusaha dengan belajar? Hasilnya adalah komitmen palsu. Komitmen harus terealisasikan dengan sebenar-benarnya. Bahkan ia lebih dibutuhkan lagi saat keadaan hubungan sedang terhantam masalah. “Mudah untuk berkomitmen jika semuanya berjalan dengan baik-baik saja,” ujar Thomas Bradbury, seorang professor psikologi dari Univesity of California (UCLA).

“Mudah untuk berkomitmen jika semuanya berjalan dengan baik-baik saja,”

Nah, sekarang masalahnya sudah clear kan? Kita hanya tinggal mempraktekkan komitmen dengan serius dan sungguh-sungguh demi keberlangsungan hubungan.

Tapi sayangnya aku masih ragu dan kurang puas sampai disitu. Apakah masalah jadi selesai dengan hanya usaha serius berkomitmen? Aku rasa enggak. Kenapa? Kita lanjut ke masalah berikutnya, “apakah ia menjadi cukup tanpa memperdulikan alasan ‘mengapa berkomitmen’ itu sendiri?”

Ketika kamu sudah menikah dan kemudian jatuh hati kepada seseorang –bukan hanya nafsu kenthu doang– maka bisa saja kamu hempas pilihan untuk selingkuh tersebut dengan dalih berkomitmen karena faktor sudah keburu punya anak, ribet ngurus kedua keluargamalas adaptasi lebih lama lagi dengan calon pasangan baru, dsb. Inikah komitmen? Komitmen karena kepaksa keadaan, tanggung jawab, dan opsi yang memang sempit?

Atau dengan alasan komitmen maka kamu jadi berani menutup mata dari berbagai macam kelebihan orang tersebut dibandingkan kekurangan pasanganmu, sehingga kamu hanya legowo saja melihat kekurangan kekasihmu alias yaudah lah yha bersyukur aja?

Dalam salah satu artikel Nytimes yang berjudul, “The Science of a Happy Marriage”. Tara Parker pope menuliskan bahwa ada salah satu riset yang dilakukan oleh seorang psikolog dari Universitas Mcgill bernama John E. Lydon yang menyimpulkan dalam risetnya bahwa ia mengumpulkan sejumlah pasangan, menyuruh mereka untuk menilai foto orang dan seberapa atraktifnya orang tersebut bagi mereka. Hasilnya adalah ketika perasaan ketertarikan itu muncul dan bisa berimbas dalam membahayakan hubungan mereka dengan pasangan, naluri mereka langsung mengatakan bahwa “orang yang ada di foto tersebut tidak sebegitu menarik dibandingkan pasangan mereka.” Semakin kamu berkomitmen, maka kamu akan mendapati seseorang yang bisa mengancam hubungan makin turun nilai atraktifnya.

“orang yang ada di foto tersebut tidak sebegitu menarik dibandingkan pasangan mereka.”

Sampai sini mungkin ada yang sepakat ‘inilah’ komitmen, aku kira. Tapi bukankah alasan berkomitmen seperti ini tampak remeh banget? Apakah semudah itu definisi komitmen? Bukankan ini malah jadi komitmen yang denial atas fakta dan sekedar berangkat dari itikad untuk bermain mindset?

Atau mungkin apakah komitmen adalah ketika kamu menemukan sebuah daya pikat pada seseorang –yang kamu jatuh hati– kemudian kamu berusaha me-replace persona itu pada pasanganmu?

Nah yang ini bisa jadi yang ini adalah komitmen.

Tapi kalau dipikir-pikir ulang, ini pun masih cukup problematik. Kamu merubah dan membentuk pasanganmu hanya agar tidak kecewa –tidak mendapatkannya–sehingga bisa berandai-andai telah berhasil mendapatkan orang itu dan kepribadiannya.

Atau kalau mau jawaban paling standar dan gampangnya adalah kamu melakukan komitmen karena mengingat cintamu saat menemui pasanganmu dulu waktu pertama kali, saat berjanji diawal, dan tentang seberapa besar ia sudah berlabuh di dadamu?

“Lho tapi itu kan hanya karena kamu sudah lebih lama dan kenal aja sama pasanganmu, coba aplikasikan ingatan serta pengalaman yang sama persis dan ganti objeknya, objeknya adalah orang baru yang kamu jatuh hati itu. Bukan si pasanganmu. Ini hanya masalah kenal sama ‘siapa’ duluan, dan ‘adanya’ siapa saat mereka mau menjalin asmara? Tidak ada yang istimewa, toh? Siapapun itu.

Ini terlalu pelik, jawaban yang dianggap murni untuk kembali melihat ‘hati’ saja masih membuat aku sendiri tidak tahu alasan apa yang paling benar jika ingin melakukan komitmen dalam sebuah hubungan dua orang. Disini titik mentoknya, di alasan mengapa ‘berkomitmen’.

Aku tidak tertarik untuk membicarakan hubungan poliamori atau open relationship, bukan karena kedua hubungan tersebut tampak amoral, justru ia adalah hubungan yang sama alami dan normalnya. Walaupun ia melepas beban komitmen kepada satu orang dan terlebih kamu bisa memenuhi kebutuhan emosional dan nafsu kebanyak orang tanpa komitmen harus bersama salah satu orang, fakta ini hanya akan bertabrakan dengan fakta adanya rasa iri di tiap manusia.

Mungkin kamu bisa melihat Simone De Beauvoir –feminis eksistensialis Prancis– dimana ia dan Jean Sartre tidak percaya adanya hak penuh untuk saling setia ke satu orang walau itu ikatan cinta. Tetapi, menjalin hubungan yang berlabel komitmen; dan mempunyai alasan yang benar dibalik itu, adalah sebuah kenikmatan menurut subjektivitas hamba yang dhoif ini.

Mungkin ini terlalu berbelit-belit dan sok berpikir keras, semoga semua ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang salah ketika dibopong oleh resah, insecure, dan ketakutan berlebih jika tidak mendapatkan pasangan dengan standar komitmen yang terlalu aku paksa dan aku mau –yang jelas-jelas salah. Atau mungkin aku sendiri yang sebenarnya takut untuk tidak bisa berkomitmen kepada pasanganku dengan benar?

Semoga semua hal ini hanya semudah adanya perasaan ‘komitmen’ dan perasaan ‘tidak komitmen’ saja, apapun alasan di baliknya. Semoga ia tidak serunyam itu. Tidak usah terlalu dipikirkan terlalu serius. Kuharap ini benar, mylof~.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *