LOADING

Type to search

Mengapa Seks Menjadi Penting Dalam Industri Musik?

COLUMN

Mengapa Seks Menjadi Penting Dalam Industri Musik?

Defta Ananta 18/11/2017
Share

“And when we’re making love

Your cries they can be heard from far and wide

It’s only the two of us

Everything I need’s between those thighs

Every time I look into your eyes I see it

You’re all I need

Every time I get a bit inside I feel it

Ooh, who could’ve thought I’d get you, oh yeah, oh yeah, baby”

 

Apakah kalian cukup familiar dengan kutipan lirik dari lagu Get You milik Daniel Caesar? Secara eksplisit lirik nya sangat menggambarkan hasrat keduniawian dalam dirinya. Terlepas dari cara pengemasan musik, aransemen, hingga post-production seperti mixing dan mastering, konten lirik dalam suatu lagu adalah hal yang paling esensial.

Lirik menjadi sangat penting karena memiliki fungsi sebagai penyampai pesan seorang songwriter untuk para pendengarnya. Lirik juga menjadi hal pertama yang akan diingat dan dimaknai oleh pendengar agar dapat sing along saat mendengar lagu. Maka dari itu kemampuan untuk merangkai kata-kata yang memiliki makna tersendiri menjadi suatu kewajiban bagi para songwriter agar bisa menciptakan kesan “anjir, ini liriknya gue banget!”.

Salah satu hal yang menjadi perhatian saya dalam mengamati perkembangan musik di dunia adalah substansi dan juga konten yang terkadung dalam suatu lagu. Mungkin saya terdengar sedikit pretensius dengan mencoba menganalisa substansi dan juga konten dalam suatu lagu. Namun kebiasaan saya ini telah menuntun pada penemuan fakta yang menarik. Lebih dari 90% lagu yang ada di dalam Top Ten Billboard rata-rata memiliki tema mengenai seks!

Seperti yang kita ketahui tidak sedikit lagu di luar sana yang secara implisit atau eksplisit menyampaikan pesan lirik dan visualisasi yang syarat akan tema seksual. Seakan kita (pendengar) tidak kuasa menahan hasrat kebutuhan sexual. Apakah ini tuntutan pasar? Atau memang berdasar pada keinginan para songwriter untuk mengekspresikan hasrat keduniawiannya?

Pada artikel kami yang berjudul Siapa yang Kau Panggil Pelacur? mungkin bisa sedikit menjelaskan. Ada suatu kencenderungan untuk mengobjektifikasikan gender dalam musik lewat penggunaan lirik yang bersifat degrading dan kental dengan tema seksual.

Hal tersebut memunculkan pertanyaan lain yang lebih luas. Jika diperhatikan, penggunaan tema seksual di negara barat seperti Amerika dan Inggris cenderung lebih banyak. Hal tersebut apabila kita membandingkan dengan negara di Asia seperti Indonesia dan Malaysia.

Masyarakat di negara tersebut masih melihat seks sebagai hal yang tabu dan tidak patut untuk dibicarakan secara publik. Perbedaan kultural dalam melihat hal-hal yang berbau seksual ini lah yang pada akhirnya menggiring pembentukan opini pada penggunaan konten seksual dalam suatu karya musik.

Penggunaan konten / substansi seksual dalam musik mainstream di Amerika juga dipengaruhi oleh kebutuhan marketing para raksasa bisnis dalam industri musik. Mau bukti? Sekarang apabila anda sedang browsing di internet lalu anda menemukan suatu konten yang erat kaitannya dengan seks pasti akan ada kecenderungan untuk mengakses hal tersebut. Entah itu sebuah artikel, gambar, video, atau mungkin website. Nah, perilaku tersebut juga berlaku bagi pemasaran dalam musik karena pada faktanya memang banyak musik mainstream yang bertengger di chart billboard pada dasarnya menggunakan seksual sebagai daya tarik terhadap para konsumen.

Banyak sekali klip musik dengan lirik seksual mendapatkkan banyak viewer. Apakah karena seks adalah hal yang paling mudah digunakan untuk mendonkrak penjualan? Apabila saya menyuruh Anda untuk menyebutkan lagu mainstream yang memiliki konten seksual didalamnya pasti akan banyak judul lagu yang terlintas di kepala anda.

Dengan demikian kita bisa menyimpulkan bahwa adanya kecenderungan pemakaian tema seksual ini karena di dorong oleh perilaku konsumen. Seperti yang dikatakan oleh seorang psikologis terkenal, Maslow;

Sex adalah salah satu kebutuhan mendasar manusia.

Pada akhirnya pengunaan tema seksual dalam konten lirik ataupun visualisasinya adalah hal yang paling masuk akal. Tentunya untuk meningkatkan penjualan dari suatu lagu.

Tidak ada yang salah dalam penggunaan tema seksual dalam suatu karya musik. Namun yang menjadi masalah ketika musik dengan konten seksual tersebut justru membuat pendangkalan sudut pandang. Bukankah lebih baik jika dalam suatu karya memiliki atau mengandung makna yang mendalam. Yang membuat para pendengarnya bisa dengan leluasa menginterpretasikan makna tersebut secara masing-masing. Maka tujuan pembuatan suatu karya agar bisa relate-able dengan pendengarnya akan lebih nyata dampaknya. Namun tetap semuanya berbalik pada diri kita masing-masing apakah kita menilai musik dengan konten seksual tersebut hanya sebatas amusement atau justru sebagai hal recehan yang sebenarnya tidak layak untuk diperdengarkan.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *