LOADING

Type to search

Mengevaluasi Secukupnya Pesan Filosofis Lirikal Hindia

FEATURED SELECTION

Mengevaluasi Secukupnya Pesan Filosofis Lirikal Hindia

Ferdin Maulana 14/05/2019
Share

“Baskara sedang melalui masa pasca krisis eksistensial”

Saat membahas suatu karya, saya selalu galau dengan kapabilitas dan kompetensi saya dalam menilai. Bisa kita lihat beberapa waktu lalu Lizzo dan Ariana Grande ngomel di twitter terkait kritik musik. Singkatnya mereka bilang kamu main musik juga tidak, jadi kamu ngerti apa? Kritikus musik dewasa ini harus sadar betapa tidak terpenuhinya hidup mereka, apa yang mereka lakukan sia-sia, tutup Ariana Grande. Lebih jadulnya lagi protes Kurt Cobain terhadap kritik Lester Bangs pada lirikal Nirvana yang dinilai asal, hanya berbasis pengetahuan freudian yang payah.

View this post on Instagram

music journalists should go fuck themselves, Y or N?

A post shared by Stereogum (@stereogum) on

Dalam diskusi soal media musik daring di salah satu radio Bandung, saya dan mas Anto dari Pophariini mengamini satu masalah terkait penilaian musik, yaitu saat melakukan penilaian musik, audience dan musisi terkait akan lihat dulu latarbelakang sang penulis. Setelah itu akan ada penilaian dari mereka yang kurang lebih berbunyi: “Lo siapa?”, “Lo main musik aja gabisa?”, “Yaelah main kritik, band lo aja gabener!”. Lalu Teh Boit dari Omuniumm memberikan pencerahan bahwa menilai musik itu perkara selera, dan siapapun boleh menilai musik, “Dulu media Deathrockstar terkenal karena kritik, mereka juga gabisa main musik kok” Tutup Teh Boit.

Seperti yang tertulis dalam buku “Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya” karya Idhar Resmadi, penulis musik memang seorang amatir dan tidak memiliki kompetensi tertentu. Jurnalis musik adalah “Fans musik yang tercerahkan”. Musik bersifat multidimensional, dan saya yang goblok perkara teknis ini pun sah-sah saja ingin membahas suatu karya musik dengan disiplin ilmu lain.

Begitulah artikel membahas karya musik ini dimulai dengan justifikasi, agar tulisan setelahnya dapat di-“maaf”kan. Lewat tulisan ini saya ingin membahas mahakarya messiah Wordfangs atau Baskara dalam jalur solonya dengan nama Hindia. Maret sampai Mei ini Hindia telah merilis dua single bertajuk “Evaluasi” dan “Secukupnya”. Hindia sangat konsisten dalam produksi sound design dari semua single yang sudah rilis sebelumnya, seperti “Tak Ada Salju di Sini” dan “No One Will Find Me”. Modular atau Plugin-plugin Ebelton kental digunakan untuk membangun ambience, fill in dan merangkai beat, kadang dibalut melodi gitar dengan aksen rock, serta karakter vokal Baskara yang terdengar lebih powerful dibanding dalam Feast yang justru terdengar lemes.

Baskara sedang melalui masa pasca krisis eksistensial. Dalam dua single teranyar ini, lewat lirikal yang disajikan dapat kita rasakan kegelisahan, rebeliusitas, namun bercampur dengan desahan ke-ikhlasan. Konteks utama dalam lirikal Hindia lewat “Evaluasi” dan “Secukupnya” adalah eksistensial. Eksistensial meliputi pemaknaan, kegelisahan, absurditas, dan penerimaan. Lirikal kedua single ini secara filosofis berakar dari pemahaman Heidegger, Nietzsche dan Sartre tentang eksistensialisme yang singkatnya sia-sia dan nirmakna.

“Yang selalu ingin ambil peran, hanya berlomba menjadi lebih sedih dari dirimu”, lewat penggalan lirik “Evaluasi” ini digambarkan sistem kompetisi kehidupan dimana mereka yang mengambil peran lebih besar akan mendapat konsekuensi yang besar pula. Konsekuensi tersebut menurut Sartre merupakan bentuk “tanggungjawab” atau “penyangkalan” atas keputusan pemaknaan tindakan yang inherennya sia-sia. Secara tidak langsung lirik tersebut berkolerasi dengan istilah “ignorance is a bliss”, semakin kamu tidak tahu, maka semakin kamu bebas dari konsekuensi (baca: bahagia). Ingat, tokoh seperti Wiji Thukul dan Munir dibunuh karena “Tahu”, sebelah mata Novel Baswedan juga menjadi tumbal untuk “Tahu”.

“Muak dikesampingkan, disamakan, hatimu terluka sempurna” Lirik tersebut menggambarkan penerimaan yang stoic akan realita yang pahit dengan menyampingkan kemuakan dan kesakitan hati secara individual. Argumen tersebut diamini oleh lirik dalam chorus yang berbunyi,

“Masalah yang mengeruh

Perasaan yang rapuh

Ini belum separuhnya

Biasa saja

Kamu tak apa

Perjalanan yang jauh

Kau bangun untuk bertaruh

Hari belum selesai

Biasa saja Kamu tak apa”

“With great power comes big responsibility” –Alm. Uncle Ben.

Dalam kedua lagu tersebut, jika anda berusia 20 tahun menengah maka anda akan merasakan dua hal. Pertama relatable, pada usia tersebut kita memasuki realita yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Kita menjadi gelisah akan realita yang ternyata dipenuhi pretensiusitan, rutinitas yang memuakan, lingkungan toxic dan pola konsumerisme rat race yang akhirnya berimplikasi pada quarter life crisis tiap individu. Keadaan ini diwakilkan oleh lirik intro “Secukupnya” yang retrospektif:

“Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang?

Tak perlu memikirkan tentang apa yang akan datang di esok hari

Tubuh yg berpatah hati

Bergantung pada gaji

Berlomba jadi asri

Mengais validasi”

Selain itu, lirik tersebut dapat menjadi data primer untuk menganalisa mengapa Sun Eater Coven lahir (Label Hindia). Sebagian besar dari anggota Sun Eater berhenti dari rutinitas kerja mereka untuk mengejar mimpi. Hal tersebut telah disampaikan lewat introduction Sun Eater dimana semua anggota dinasehati lewat voicemail karena mereka akan berhenti dari pekerjaan untuk memulai label rekaman mereka sendiri.

Kedua, “Evaluasi” dan “Secukupnya” dapat dirasakan sebagai tepukan lembut pada lengan, atau suatu pelukan hangat dari Hindia yang mengisyaratkan bahwa kita tidak sendirian menangisi absurditas hidup. Hal tersebut diamini lewat lirik:

“Dan akupun tak hadir seakan paling mahir

Menenangkan dirimu yang merasa terpinggirkan dunia

Tak pernah hadir, Kita semua gagal

Angkat minumanmu bersedih bersama sama

Sia sia (pada akhirnya)

Putus asa (terekam pedih semua)

Masalahnya (lebih dari yang)

Secukupnya”

Selain membuatmu tidak merasa sendirian, tepukan lembut dan pelukan hangat itu mengajakmu untuk mengevaluasi hidup secara pragmatis dan mengajakmu melihat esok hari yang semoga baik-baik saja. Hal ini disampaikan lewat lirik dalam outro  “Evaluasi” yang berbunyi;

“Bilas muka, gosok gigi, evaluasi

Tidur sejenak menemui esok pagi

Walau pedih ku bersamamu kali ini

Ku masih ingin melihatmu esok hari”

Pada akhirnya Hindia tidak berakhir jadi anti-hero dalam universe ini. Hindia mengambil jalur hidup yang lebih positif, yaitu penerimaan. Penerimaan adalah gerbang keluar dari krisis eksistensialisme, oleh karena itu sebelumnya saya berpendapat bahwa Baskara sedang melalui masa pasca krisis eksistensialisme. Hindia mengambil jalur yang bersebrangan dengan Heidegger, Nietzsche, dan Sartre yang hingga akhir hayatnya mengutuk kehidupan. Hindia mengambil jalur eksistensialisme positif, yaitu Absurdisme. Singkatnya filosofi Absurdisme lahir dari buku “The Myth Of Sisyphus” karya Albert Camus sebagai ideologi penerimaan yang ikhlas dalam menghadapi segala tai anjing kehidupan.

“Crown made out of thorns again

Body on the cross again

Dark Knight rises, Mr. Wayne

Messiah Wordfangs, born again”

Ya, Wordfangs/Hindia memang seorang messiah. Pesan yang ia sampaikan secara eksplisit lewat diksi dan rima yang indah dapat kita terima dan juga mempengaruhi pola pikir kita untuk tetap positif menjalani hidup. Great work, cheers Baskara!

Additional notes: Sehari setelah artikel ini naik, Hindia bersama Sun Eater merilis video musik dari “Secukupnya” yang merupakan kumpulan cerita tragis dari orang-orang yang sedang menghadapi hidup. Pesannya sederhana tapi sangat merepresentasikan setiap insan yang tetap kuat menjalani hidup, seperti dikutip dari deskripsi video tersebut:

“Semuanya hanya minta didengarkan, tidak ada yang minta ‘digembala’ melalui permintaan atas solusi. Saya rasa kita semua seperti itu. Kadang-kadang hanya ingin didengarkan, kadang-kadang ingin menghilang. Karena merasa lelah dengan tetek-bengek kehidupan itu wajar, dan merasa sedih juga wajar,”

“Jangan pernah merasa tidak pantas untuk menangis karena masalah yang kalian punya ‘tidak seberat’ masalah orang lain, yang mungkin saat ini sedang dililit hutang, atau nyawanya sedang kritis; tiap orang memiliki pertaruhannya sendiri-sendiri melawan dunia.”

Tags:
Ferdin Maulana

Penulis dan Ketua Geng Incotive. Suka ngurusin isu eksternal di PVL Records, dan Manager dari band Dream Coterie.

  • 1

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *