LOADING

Type to search

Menilik Penghuni Tong Setan dan Kulit dari Pasar Malam

DAILY

Menilik Penghuni Tong Setan dan Kulit dari Pasar Malam

INCOTIVE 05/07/2017
Share

1 Juli 2017. Pasar Malam Puri Beta 2, Ciledug.

Sabtu, 1 Juli kemarin setiap televisi menayangkan betapa ‘horor’ jalan-jalan arteri di Utara dan Selatan Pulau Jawa. Situasi yang berkebalikan dengan perumahan-perumahan kalangan kelas menengah di Ibu kota dan sekitarnya, sunyi tentram yang mulai terusik dengan kedatangan penghuninya. Mengisi akhir minggu yang terlalu damai, kami menemukan kabar adanya tempat hiburan sementara yang dapat dinikmati segala kalangan. Sebuah pasar malam sedang diadakan di Barat Kota Jakarta, tepatnya di Daerah Ciledug.

Berangkat di waktu petang ternyata membuahkan hasil yang baik. Keramaian khas pasar malam sudah terdengar di tempat parkir kendaraan. Komidi putar dengan lampu warna-warni berdiri menjulang, lapak para pedagang tumpah ruah di pinggiran, beberapa wahana lain yang kami duga pasti ada seperti Rumah Hantu, Kicir-Kicir juga terlihat ramai dikelilingi pengunjung.

Processed with VSCO with  preset

Menilik lebih dalam, giliran telinga yang terganggu. Suara bising knalpot sepeda motor berulang kali menimbulkan suara gaduh, tidak salah lagi ini adalah wahana primadona di pasar malam ini. Tong Setan namanya, padahal nama aslinya adalah Tong Stand atau Roda Gila. Yaa apa boleh buat, namanya juga Negara penghasil slang words nomor satu di dunia.

Processed with VSCO with  preset

Dari balik tong setan raksasa dua pria beraksi dengan motornya. Tanpa mengenakan helm dan pelindung tubuh mereka memperagakan atraksi ekstrim dengan nyawa sebagai taruhannya. Dalam kamus mereka kata takut sudah hilang, justru penontonlah yang dibuat takut dan tegang.

Mulai dari ibu-ibu, bapak-anak, muda mudi, pria maupun wanita, semua seakan terpukau oleh aksi akrobatik motor yang diperagakan. Bangun vertikal menjadi landasan roda-rodanya. Jarot dan Kipli, yang menjadi aktor laga kala itu. Dua pria ini menjadi magnet puluhan pasang mata dalam pertunjukan malam itu. Apabila aksi kedua pria itu dirasa kurang sangar dan berbahaya, penonton spontan memberikan saweran bagi sang pengendara motor agar beraksi lebih ekstrim dan menantang maut.

Processed with VSCO with  preset

Sembari memacu kuda besinya mereka juga bergaya saat menaiki motor. Ada yang sambil melepaskan tangan, duduk, tiduran, bahkan banyak atraksi ekstrim lainnya. Konon, kecepatan yang konstan adalah kunci untuk mengendalikan motor agar tetap stabil. Dari Sudut pandang lain, adapula gosip beredar kalau kunci atraksi ini menggunakan jin atau magic. Kadang mereka berputar dengan beriringan. Kadang salah satu lebih cepat. Waktu latihan dan jam terbang mereka tampak bekerja dengan baik hingga mampu menciptakan hiburan atau mungkin kengerian bagi yang melihatnya.

Menyaksikan atraksi pemotor di Tong Setan memberi rasa penasaran di benak kami. Jadi kami menyempatkan diri untuk mendekat dan mendengar cerita dari ‘atlet-atlet’ ini. Wawancara diadakan di dasar tong dan tiga orang dari pihak penyelenggara memberi waktu untuk kami bertanya-tanya.

Processed with VSCO with  preset

Tiga orang ini beranama Jarot (27 tahun), Kipli (25 tahun), dan Yusuf Maulana (23 tahun). Mereka mengaku sudah cukup lama berkecimpung di dunia ini, hampir satu dekade. Menariknya keseluruhan dari penyelenggara Tong Setan ini adalah satu keluarga. Awal mereka menekuni profesi ini adalah dari hobi sepeda motor. Bosan dengan balapan-balapan liar, mereka ingin sesuatu yang lebih menantang dan berakhir di Tong Setan.

Ketika ditanya bagaimana bisa menjadi mahir melakukan atraksi-atraksi menyeramkan, jawabannya hanya singkat yakni berlatih. Mereka terlihat tidak ingin memberi tahu porsi latihan yang mereka jalani. Soal cedera, mereka mengaku tidak pernah mengalami kecelakaan saat pertunjukan. Bahkan mengenai bahaya kematian saat bekerja tak terlalu mereka ambil pusing. Hebatnya ketiga ‘penghibur’ ini mengaku memiliki banyak penggemar, terutama kalangan wanita. Tetapi karena jadwal pertunjukan yang padat membuat mereka lebih mengutamakan pekerjaan.

Processed with VSCO with  preset

Pertunjukan Tong Setan dimulai jam tujuh hingga sepuluh malam. Ketiganya hanya diberi waktu sekitar 15-30 menit untuk beristirahat di antara sesi pertunjukan. Penghasilan yang didapat pun cukup banyak. Kira-kira Tiga Juta Rupiah setiap diadakannya pasar malam. Jika sedang siang atau tidak ada pasar malam mereka berkegiatan menjadi pekerja serabutan atau tidur-tiduran saja. Yang penting uang itu diperoleh dengan cara yang halal.

Tong setan memang bukan wisata kelas satu. Dia hanya hiburan rakyat di malam keramaian kota kecil, sedikit demi sedikit mulai tergadaikan dengan hiburan yang lebih mevvah di pusat kota. Tetapi kepercayaan akan apa yang mereka lakukan, cerita dibaliknya seharusnya bisa menghidupkan roda-roda gila terus berputar dengan kantong mereka yang juga mungkin saja menjadi tebal.

Processed with VSCO with  preset

Puas mendengar cerita para penunggu ‘tong setan’, kami berkeliling untuk menyaksikan wahana lainnya. Cukup unik ketika kami melihat seorang berpenampilan layaknya paranormal menantang para pengunjung untuk mengalahkannya pada permainan catur dalam tiga langkah. Lalu ada semacam istana bermain untuk anak-anak yang dipenuhi dengan boneka raksasa berbentuk karikatur di televisi. Lagu-lagu dangdut remix menemani kami selama berkeliling. Andai saja pasar malam dikembangkan lebih baik lagi sebagai hiburan yang mencakup segala kalangan dan dapat menarik pengunjung dari luar kampung ataupun menjadi agenda wisata, maka tidak ada yang dinamakan krisis hiburan yang pada akhirnya mengurangi kekacauan yang ada. Siapa tau nanti ada Pacific Park Santa Monica versi Ciledug. Andai saja.

Artikel oleh: Ridho Rakhmatullah & Naufal Malik

Foto oleh: Ariandi Setiawan

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *