LOADING

Type to search

Menjadi Gay Bukanlah Perkara Kebanggaan

COLUMN

Menjadi Gay Bukanlah Perkara Kebanggaan

Adam 30/11/2017
Share

Cinta memang gila, gak kenal permisi, bila disengatnya, say no to kompromi

Penggalan lirik dari lagu Cinta Gila milik NTRL (lebih dahulu dikenal sebagai Netral) ini, bisa saja menjadi kalimat yang mewakilkan bagaimana cinta terkadang tidak masuk akal, sama sekali. Manusia diciptakan dengan berbagai keragaman dan perbedaannya. Nyatanya, cinta juga diciptakan dengan bentuk yang berbeda-beda. Cara berekspresi dalam cinta tidak hanya sebatas ungkapan “I love you sayang,” kepada pacar anda, anak anda, ataupun orang tua anda. Cinta tidak sesempit celana dalam anda. Binatang yang tidak mengerti ucapan anda juga berhak mendapatkan apa yang namanya rasa cinta. Tapi tidak dengan dicekoki anggur merah ya kawan-kawan, karena Whiskas dan Orang Tua tentu saja berbeda jenderal!

Masyarakat Indonesia yang kental dengan kultur dan nilai-nilai ketimuran yang terkesan kolot, buktinya sulit menerima bagaimana beragamnya rasa cinta dan Indomie. Kita mulai dengan salah satu survei; dari total 1.520 responden, sebanyak 59,9% memiliki kelompok yang dibenci. Dari jumlah 59,9% tersebut, 92,2% nya tidak setuju kalau kelompok yang dibencinya itu menjadi pejabat pemerintah di Indonesia (diambil dari Kompas.com tanggal 1 Agustus 2016).

Keterbatasan akses pendidikan, sempitnya referensi, budaya kolonialisme asing baik pra-kemerdekaan maupun modern, tayangan bokep yang meraja lela, banyaknya taburan mecin dan ikatan agama yang begitu kuat, menjadi faktor-faktor yang sedikitnya menjelaskan bagaimana Indonesia menjadi negara dengan tingkat intoleransi yang tinggi. Mari kita bahas salah satu dari kelompok yang katanya dibenci masyarakat Indonesia tersebut; kaum homoseksual.

Kenyataan yang menunjukan bahwa diskusi publik tentang homoseksualitas di Indonesia itu dipersulit, disebabkan oleh karena seksualitas merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan, walau nyatanya gurauan tentang esek-esek masih menjadi komoditas utama sebuah tongkorongan. Menurut penelitian WHO (World Health Organization) pada tahun 1992, menunjukan bahwa homoseksual bukan sebuah gangguan jiwa, namun hanyalah sebatas variasi orientasi seks. Jadi, apa yang salah dengan homoseksual?

Seorang teman pernah berbicara tentang keresahannya mengenai hal yang dianggap tabu ini. Baginya, menjadi seorang gay adalah bentuk kejujurannya terhadap dirinya sendiri. Buat saya pribadi, menjadi gay atau homoseksual adalah salah satu hal paling berani di Indonesia. Konstruksi sosial yang membentuk pandangan bahwa laki-laki mesti menikah dengan perempuan, begitu juga sebaliknya, membuat masyarakat cenderung menghindari sikap-sikap affirmative bahkan melakukan penolakan ekstrem terhadap orang-orang homoseksual. Teman saya menganggap, apa yang membuat dirinya berani hanyalah keyakinan yang ia dapat sejak kecil bahwa dirinya memang memilih jalan yang berbeda. Anda tahu kenapa? Karena dia anak hipster hehe…

Sosok Ayah yang ia anggap paling berpengaruh terhadap keyakinannya itu semakin membuat dirinya mantap untuk menjadi gay, walau ia sempat bercerita bahwa Ayahnya menghilang sejak ia berumur 8 tahun karena perceraian dan baru menghubunginya kembali saat dirinya memasuki bangku perkuliahan.

He’s my father, he’s never been my daddy, but since that point, he’s my friend. Menjadi gay tidak membuat lo lebih feminim dari yang lainnya, tapi justru itu yang membuat lo lebih berani dibanding pria lainnya. Intinya, bokap gue aja menerima gue apa adanya, jadi bodo amat sama orang lain. Dari situ gue memutuskan untuk berani aja.

Eksposure mengenai gay di media sosial miliknya bukanlah sesuatu yang spesial, dia hanya mengekspresikan apa yang ada pada dirinya.

Sebetulnya being gay is very normal. We’re just expressing love like other people. Cuman, keadaan sosial di Indonesia bikin gay people enggak berani ekspos hal itu, karena pasti diliatin. Tampil beda bukan sesuatu yang baru, dan normal di Indonesia.

Kalangan muda-mudi jaman sekarang terasa lebih terbuka dengan perbedaan. Mereka lebih menerima dan mengerti bagaimana rasanya memiliki sesuatu yang berbeda. Generasi Z, seperti yang disampaikan pada artikel milik Tirto, menjelaskan bahwa orang-orang yang lahir di rentang tahun 1996 hingga 2010 cenderung memiliki karakteristik menghargai keberagaman, menjadi agen perubahan, berorientasi pada target dan senang berbagi sebatang rokok.

Gue ngeliatnya ada pengaruh baru, yaitu influencer-influencer muda. Mereka bener-bener gerak. Menurut gue itu penting, kita lihat aja YouTube. Kontennya mulai menyentuh lapisan sosial. Udah banyak yang menyebarkan hal-hal yang baru dan berbeda di internet. Itu bisa jadi salah satu penggerak untuk perubahan sosial kita, mengingat orang-orang yang terpengaruh itu mulai beragam lapisan usiannya.

Sebelum percakapan kita berakhir, saya sempat meminta penegasan dia tentang kebanggaannya mengenai gay, mengingat postingan Instagram miliknya penuh dengan konten tentang gay proud.

I’m proud of being my self, not being gay. Memangnya lo bangga menjadi straight? Itu hanya bagian kecil dari diri lo, bukan suatu achievement. I’m keeping my relationship and whatever to my self. This is my life, this is me.

Begitu sederhana kutipannya, sementara orang-orang diluar sana berteriak dengan liar bagaimana kaum-kaum homoseksual ini hanya akan berujung di neraka.

PS: Buat kalian para cowok, jangan dulu geer saat lo kenal dengan gay. Gay juga pilih-pilih se666an!

 

Ilustrasi oleh Nadhif Ilyasa

Tags:

1 Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *