LOADING

Type to search

Menonton Konser The Adams Sebagai Terapi Diri 

EVENT FEATURED SELECTION

Menonton Konser The Adams Sebagai Terapi Diri 

INCOTIVE 20/12/2019
Share

Teks dan foto oleh Ari A. Santosa

Mendengarkan album baru dari band favorit kalian adalah pekara mudah. Tak usah mempedulikan bacotan apapun. Saat tombol play diketuk di situ adalah titik paling menentukan apakah musiknya lebih baik dari sebelumnya atau berpotensi menghancurkan imajinasi.

Yang kedua itu terbantahkan saat saya mendengar penuh album Agterplaas. Malah, tanpa bertele-tele kita bisa secara impulsif menasbihkan Agterplaas sebagai album top markotop di tahun 2019.

Setelah penantian ratusan purnama seperti kisah asmara Cinta dan Rangga akhirnya secara kolektif kita sepakat bahwa album Agterplaas adalah proses penantian tak sia-sia. Maafkan bila saya terlalu meninggikan ungkapan itu, tapi begitulah kenyataannya.

The Adams, band asal Jakarta itu kembali menyongsong dunia musik lokal dengan elok, mangkus dan berani. Dengan album Agterplaas mereka seperti menghidangkan resep hidup yang tak melulu manis. Kali ini, mereka meramu lirik bahasa Indonesia dengan sederhana dan filosofis.

Dalam album Agterplaas terbubuh wacana kompleks yang justru tak berjarak dari kesehari-harian. Di sana ada harapan terhadap perubahan (Esok), kenangan remaja kencur (Masa-Masa), kesepian yang merobek (Sendiri Sepi), kemacetan ibu kota (Lingkar Luar), gairah pada sosok (Pesona Pesona), satir pada orang-orang bigot (Pelantur) dan sebagainya.

            “Luangkan waktu tuk berpikir/Jangan mudah tersindir/Nanti engkau akan tersingkir” dalam lirik Pelantur.

Sabtu malam kemarin band dengan warna musik power pop itu menggelar showcase bertajuk Agterplaas Concert untuk kali pertamanya di Bandung (14/12). Tiket yang cukup terbatas habis terjual seperti kilat. Tentu, ini merupakan simbol bahwa eksitensi mereka tetap menyala.

Para muda mudi berjejalan di sekitar auditorium IFI, Bandung menanti band yang bisa dihitung jari menjejakan kaki di sana. Pukul 21.30 para personil The Adams on stage dengan kemeja nyentrik seragaman berwarna biru laut langsung memainkan nomor Agterplaas sebagai pembuka.

Nomor Pelantur dibawakan setelahnya, lagu ini mendongkrak semangat penonton saling berjingkrak dan bernyanyi serentak. Sahut-sahutan suara gitar Ale dan Ario terasa padat. Di akhir lagu para penoton terbakar seraya bersorak-sorai.

Saleh Husain yang akrab dipanggil Ale berbicara bahwa band ini merupakan band yang hampir mitos. Saya pikir itu benar dan selama empat belas tahun lamanya – entah moksa atau apa, mereka nongol lagi. Hasilnya, meminjam istilah Mael Lee – bukan kaleng-kaleng.

Nomor Lingkar Luar disimpan pada set ketiga, lagu ini diawali oleh suara Pandu (bassist/vokal) yang berbicara tentang semrawutnya lalu lintas ibu kota. Eksotiknya band ini termasuk demokratis dalam hal pembagian vokal. Tak perlu ribet mencari siapa vokalis utama dari band yang sempat mengisi OST film Janji Joni itu, sebab dari hampir semua lagu karakter vokalnya memakai formula harmonisasi.

Sepanjang yang saya perhatikan Ale begitu terlihat energik ketika memainkan nomor Pesona-Pesona dengan vokalnya yang tinggi. Apalagi ketika ia mengisi bagian melodi, seakan melebur dengan gitar Gibson SG merahnya.

Belakangan sebelum acara ini digelar ada peristiwa duka yang menimpa warga Tamansari menyoal penggusuran lahan. Massa yang ada di sana ditindak secara keji oleh aparat. Dalam hal ini, Ale merasa turut prihatin. Patut diapresiasi mereka menyelipkan lagu Dalam Doa sebagai dukungan tak langsung pada warga Tamansari. Meski udara begitu pengap saat lagu ini mengalun disertai bunyi gitar merintih suasana pun terasa menggetarkan hati.

Dari total sebelas lagu yang paling menghebohkan penonton adalah nomor Timur dan Masa-Masa yang strategis disimpan pada akhir setlist. Yang paling saya sukai dari lagu Masa-Masa adalah intonasi vokal bagian reff. “se-iya-se-kata ber-sama-sama/ se-iya se-kata ha-da-pi duka”. Dalam hal ini The Adams sadar bahwa kata bukan hanya sekedar deretan huruf namun juga ada bunyinya.

Seorang kawan saya tampak gembira saat lagu Timur dimainkan. Sepulangnya dari gigs ini, ia memberi pengakuan aneh “Belum pernah saya merasa sesenang ini nonton konser. Dan kau tahu?” Katanya ”Saya tidak malu bertepuk tangan di tengah lagu. Ini seperti terapi diri.” Ia memang pemalu, namun rasa senangnya melampaui rasa malunya.

Malam kian larut, para penoton bersimbah keringat, setelah album Agterplaas habis mereka memainkan lagu-lagu dari album lama. Seperti Waiting, Juwita, Just, Konservatif berhasil menuntaskan kerinduan penoton.

Jika ada pertanyaan lagu apa yang mampu membikin saya cengar-cengir saat mengendarai motor dari rumah ke kampus pada masa perkuliahan, jawabannya adalah Hanya Kau. Sebab kata pengganti “kau” dalam lirik lagunya bisa saya bentangkan menjadi apa dan siapa saja. Dan simaklah penggalan awal liriknya;

“Ku berjalan tiada henti tuk memastikan diri/ mencari apa yang terbaik di dalam hati ini”

Bukankah itu terdengar sangat optimistik?

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *