LOADING

Type to search

Babangbin Review: Mind’s Eye Album by White Lemon Delirium

SELECTION

Babangbin Review: Mind’s Eye Album by White Lemon Delirium

Share

Kapan terakhir kali kalian melakukan sebuah perjalanan? Bukan sekedar perjalanan foya-foya untuk meramaikan feed Instagram, bukan. Tapi sebuah perjalanan yang lebih dalam. Tidak perlu jauh, tidak perlu ke tempat yang asri. Terkadang perjalanan kaki malam hari dari kosan ke warung terdekat untuk sekedar beli rokok bisa terasa seperti sebuah perjalanan yang menyentuh hati. Entah itu karena suasana mati dari jalan-jalan yang biasanya ramai, atau mungkin malam itu bulan terlihat lebih indah dari biasanya. Menemukan sebuah pengalaman yang unik dan bajik di tempat yang tak disangka adalah sebuah anugerah yang terkadang kita terima dalam roller coaster kehidupan, dan apa yang bisa kita lakukan terkecuali menerimanya dengan penuh khidmat?

“Mind’s Eye”, album perdana dari band neo-psychedelia asal Bandung White Lemon Delirium, adalah contoh dari salah satu perjalanan unik itu. Lebih spesifiknya, sebuah pengembaraan ke luar angkasa yang sepertinya terinspirasi dari mahakarya sci-fi Stanley Kubrick, 2001: A Space Odyssey. Satu album ini terdengar seperti sebuah penerbangan ke bintang-bintang dengan menggunakan pesawat budget yang muncul pertama kali saat kamu membuka aplikasi pemesanan tiket, dan ini bukan sebuah olokan. Tidak ada yang salah dengan memilih sebuah penerbangan budget jika pada akhirnya pesawat itu berhasil membawa kita ke destinasi yang kita inginkan, dan “Mind’s Eye” berhasil melakukannya.

Dibuka dengan sebuah skit dimana sebuah A.I menyambut pendengarnya kedalam pesawat, mengawali perjalanan antar bintang ini. White Lemon Delirium menunjukan sisi eksperimental mereka dengan menggunakan text-to-speech untuk mengisi suara HAL 9000 DIY mereka, sebuah pilihan yang berani namun akhirnya terdengar murah. Walaupun begitu usaha mereka untuk tetap menggunakan sebuah komputer dengan tujuan konsisten kepada tema Sci-fi nya patut dihargai.

Satu hal yang paling mencolok dari album “Mind’s Eye” ini, tentunya selain tema perjalanan luar angkasa, adalah bagaimana setiap lagu mempunyai genre-genre yang variatif namun tetap terasa satu koheren yang bercampur dengan manis. “Coriolis Effect” terdengar seperti lagu rock hippie ala Black Sabbath, “Mr. Robot Time Machine Chamber” terdengar seperti soundtrack film sci-fi 70an, “Geddewei” seperti lagu pop yang cocok dimainkan di radio malam, lalu ada “Space Surfin” yang cocok untuk mereka para penelusur Youtube Recommendations dan juga “Mind Altering”, satu-satunya lagu yang terdengar seperti sebuah acid trip dalam sebuah album ‘psychedelic’. Tentu saja genre tersebut bukanlah hanya mengenai narkotika dan halusinogen, mendengar dari betapa variatif lagu-lagu di dalam album ini jelas bahwa White Lemon Delirium memahami hal tersebut.

Namun dengan variasi lagu yang sudah ada di dalam album ini, ada satu interlude yang justru paling menarik perhatian. Dengan ukuran mini nya; berdurasi hanya 2 menit dan 4 detik, “Hyperdrive Turbulent” adalah sebuah permata dalam tumpukan emas. Berawal dengan sebuah solo gitar berdistorsi fuzz yang kotor dan berat, menarik pendengarnya ke kanan dan kiri, membanting-bantingnya, dan terus memaksa agar mereka mengikutinya, hanya untuk akhirnya melempar mereka ke area tanpa gravitasi dengan lantunan jazz yang manis, mengapung dan melihat pemandangan nebula juga hal-hal luar angkasa lainnya yang menakjubkan.

Di era dimana membuat sebuah lagu psychedelic semudah memutar knob reverb ke 10, injak beberapa pedal flanger, dan melakukan arpegio dasar di gitar Stratocaster, White Lemon Delirium berhasil menunjukan kekompleksitasan yang banyak orang mungkin belum sadar dengan sebuah album yang bisa mengisi kehausan para pencari pengalaman psychedelic sesungguhnya, dan juga mereka yang berpikir bahwa “Feels Like We Only Go Backwards” adalah lagu psychedelic terbaik yang pernah mereka dengar. Megah, namun juga sederhana di bagian-bagian yang pas, “Mind’s Eye” adalah satu penerbangan menjelajah bintang-bintang yang kamu tidak akan mau ketinggalan.

babang ‘s favourite: Hyperdrive Turbulent, Geddewei

9/10

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *