LOADING

Type to search

Mispersepsi Pornografi Dengan Erotisme Dalam Perspektif Seni

COLUMN

Mispersepsi Pornografi Dengan Erotisme Dalam Perspektif Seni

INCOTIVE 28/11/2017
Share

Teks oleh Ekalaya
Ilustrasi oleh Marco Hanif Samudro

Pada umumnya, segala sesuatu yang bersifat seksual selalu menarik untuk dibicarakan, baik dikalangan dewasa, remaja, dan anak – anak.  Hal ini dapat teramati ketika mereka membicarakan topik tersebut tampaknya pembicaraan jadi semakin asyik, bahkan aktivitas lainnya sampai terlupakan.  Dari semua pembicaraan yang saya amati selalu terdapat dua kata yang selalu muncul (baik itu dalam obrolan sehari – hari maupun pada televisi) ketika membicarakan hal berkonteks seksual, yaitu pornografi dan erotisme. Kemunculan dua kata tersebut menimbulkan pertanyaan untuk diri saya sebenarnya apa yang membedakannya? Apakah maknanya? Atau konteks pemakaian dari kedua kata tersebut? Sebelum menjawab kegelisahan tersebut, saya teringat ketika duduk di bangku kuliah.

Pada saat itu saya diberi tugas untuk menelaah beberapa karya dari era Reinassance termasuk beberapa karya painting dari Da Vinci dan sculpture dari Bartolomeo Ammanati. Karya dari kedua seniman tersebut banyak memakai tubuh sebagai simbol dalam visualnya dan yang menariknya hampir semua kekaryaannya banyak memperlihatkan tubuh secara telanjang. Sebagian mengatakan yang semacam itu porno. Sebagian lagi melihat ini seni. Mengapa perbedaan penafsiran itu terjadi kembali? Apakah sebenarnya itu adalah bentuk erotisme sebagai seni ataukah itu pornografi? Yang jelas, keduanya menampilkan objek tubuh manusia yang telanjang.

Menurut tulisan Haryatmoko, yang saya kaitkan dengan Baudrillard, pornografi menampilkan ketelanjangan secara mentah dan mengeksplorasi hubungan seksual seterang-terangnya. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Bahkan, cenderung ada unsur manipulasi. Dalam pornografi, jelas tidak ada apa-apa yang mau disampaikan, kecuali memperlihatkan aktivitas seksual. Pembaca atau penonton tak perlu pusing-pusing menafsirkannya. Semua sudah terang dan gamblang. Hal tersebut menyebabkan tiadanya tuntutan akan kebenaran disebabkan oleh imperatif ‘semua sudah kelihatan’. Gambar sudah menampilkan semua, maka tidak perlu lagi menebak atau menafsirkan. Dengan demikian, berkurang tuntutan akan kebenaran karena pornografi menolak yang tersembunyi atau yang potensial. Proses pembodohan terjadi karena penonton atau pembaca tidak diajak berfikir atau berefleksi. Tidak ada proses mengolah, mengedepankan, apalagi pemikiran kritis. Yang diminta hanya menelan, mengkonsumsi supaya hasrat seks terangsang.

Beda halnya dengan pornografi, erotisme jika ditinjau dari produk visual seperti painting atau foto bisa dimaknai sebagai sebuah style ataupun bahasa tersendiri. Dalam erotisme, yang lebih tampak adalah pengungkapan hasrat daripada penonjolan tubuh yang telanjang. Maka, butuh keterlambatan bahkan kelambanan, toleran terhadap waktu, dan membiarkan adanya perkembangan. Pada erotisme juga terselip narasi dan pandangan yang tak terkatakan, memiliki konteks, dan menolak semua bentuk ketergesaan. Maka erotisme menolak kodifikasi dan stereotipe. Ia memahami resiko hubungan yang sampai pada hasrat manusiawi yang autentik. Keindahan dalam erotisme bukan perayaan kenikmatan diri, tetapi untuk memberi makna pada tubuh.

Hubungan manusia dengan pandangan erotisme memiliki sejarah yang panjang. Pada zaman Paleolithikum, patung – patung dibuat tanpa busana dan hiperbola terutama pada bagian dada serta pinggul. Hal ini dibuktikan dengan penemuan Venus of Willendorf. Patung tersebut para ahli simpulkan menggambarkan kewanitaan sebagai ritus terhadap dewi kesuburan. Pemikiran pada zaman Paleolithikum mempengaruhi perkembangan seni khususnya di Eropa. Kombinasi frontalitas dan simbolis sangat jelas dimanifestasikan pada karya – karya Pra Modern. Selain di Eropa, bangsa Asia juga berhasil memanifestasikan pandangan erotisme dalam karya – karya mereka. Di Jepang, misalnya, ada seni lukis yang namanya “shunga” di Abad 13 dan terus berkembang sampe Abad 19 ketika fotografi ditemukan. Sementara di Cina, seni erotis ini udah mulai dikenal sejak jaman pemerintahan Dinasti Ming. Di India, ada yang namanya Kama Sutra dan relief-nya juga ada di Candi Borobudur. Lalu pada era Modern dan Postmodern, para seniman juga banyak mengekplorasi pemikiran erotisme sebagai tema kekaryaan mereka, seperti pada karya Yves Klein dan Tracey Emin yang jelas menggunakan tubuh sebagai medium kekaryaan mereka. Lalu ada Andy Warhol yang menggunakan warna dan benda sebagai simbol untuk memanifestasikan pemikiran erotisme.

Dilihat dari uraian yang saya susun di atas, maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan pornografi dan erotisme memilik perbedaan yang mendasar dari segi makna dan konteksnya. Yang menjadi permasalahan kembali lagi bagaimana kita memaknai sesuatu. Di sebagian kebudayaan, bahkan ketelanjangan dianggap sebagai sesuatu yang normal. Kalaupun ada yang berpendapat itu pornografi,  itu lagi – lagi hanya permasalahan memaknai.

 

Catatan : (Tulisan ini diambil dari beberapa tulisan lainnya, dan memori dari beberapa obrolan dengan kawan – kawan saya. Saya sebagai penulis menganjurkan untuk membaca dan menelaah kembali)

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *