LOADING

Type to search

Kelahiran Baru MOND melalui Tiga Tahap Berkarya

FEATURED SELECTION

Kelahiran Baru MOND melalui Tiga Tahap Berkarya

INCOTIVE 20/02/2020
Share

Teks oleh Janji Syahzar

Di kuartal akhir 2018, saya mendapat kesempatan menyaksikan penampilan Mondegreen secara langsung. Dalam suatu acara dengan lineup yang kebanyakan membawakan musik ‘lembut,’ Musik Mondegreen yang cenderung ‘keras’ berhasil menjadi sorotan utama malam itu. Kesempatan kedua datang pada pertengahan tahun berikutnya. Pada penampilan ini, Mondegreen terkendala listrik venue yang sempat padam beberapa kali. Terlepas dari segala masalah, mereka tetap berhasil menghangatkan suasana.

Kaulika, Farizan, Defta, Nazal dan Azar seakan bermain di dunia nya sendiri, tanpa peduli hal lain sedikitpun. Penonton tidak bisa menahan untuk ikut terseret masuk ke dalam dunia mereka. Kedua penampilan yang saya saksikan mungkin dapat terangkum dalam dua kata; ‘ekspresif’ dan ‘eksplosif.’ Sebulan kemudian, saya mendapat kabar bahwa penabuh drum Mondegreen, Azhar Fareeza Subagja telah berpulang.

Setelah empat bulan vakum, Mondegreen memperbarui diri dengan penggantian nama menjadi ‘MOND.’ Setelah melalui kehilangan besar, pada 20 Desember 2019 MOND merilis lagu “Go” yang dibuka dengan bonus track berjudul “Overture.”

“GO” bercerita tentang suatu tokoh yang tengah melepas kepergian seseorang dari hidupnya. Permainan dua gitar yang sahut-menyahut diiringi ritme bass dan drum yang kompak. MOND bereksperimen dengan menggunakan time signature 5/4, serupa dengan lagu berjudul “Take Five” oleh seorang musisi Jazz, Dave Brubeck. Pola ritme yang rumit diseimbangi dengan vokal yang ringan, membuat lagu ini tetap mudah untuk dinikmati.

Selang tiga minggu kemudian, MOND kembali dengan rilisan berjudul “20’s.” Masih menggunakan time signature 5/4 di beberapa bagian, Kaulika sebagai penulis lirik mengeksplorasi konsep self-help dalam dinamika kehidupan di usia dua puluhan. Lewat lirik yang ditulis secara populis, lagu ini memiliki nuansa personal yang mudah beresonansi dengan pendengar.

MOND lalu merilis lagu berjudul “Green” pada 31 Januari 2020. Dibanding dua lagu sebelumnya, “Green” lebih sederhana dalam konteks aransemen. Single tersebut menggunakan pola ritme 4/4 yang konventional.

Pada dua lagu awal, mereka terlihat terdengar ingin menetapkan definisi musik baru MOND. Merasa familier dengan musik Mondegreen, “Go” dan “20’s” cukup mengejutkan saya. Perbedaan tersebut menunjukkan MOND ingin mencapai ‘sesuatu’ dengan aransemen yang lebih kompleks.

MOND rasanya berusaha menyelesaikan proses kelahiran baru mereka. Lagu ketiga yang lebih sederhana kemudian membuat saya berpikir, “Ini MOND/Mondegreen yang saya kenal.” Dalam lagu ketiga, saya melihat penerimaan MOND atas masa lalunya sebagai Mondegreen.

Jika dianalogikan ke dalam lima tahap berduka Kübler-Ross, mungkin dua lagu pertama adalah tahap Denial, Anger, Bargaining, dan Depression. Sedangkan “Green” merupakan tahap terakhir, yaitu Acceptance. Saya melihat tiga rilisan ini tidak hanya sebagai berakhirnya proses duka keempat personil, tetapi juga permulaan MOND sebagai entitas musik baru.

Apapun yang mendasari penulisannya, MOND berhasil menunjukkan tingkat musikalitas yang tinggi tanpa mengorbankan kejujuran emosi personal. MOND secara apik meramu kemarahan, keraguan, dan kesedihan dengan sedikit optimisme, kasih sayang, dan persahabatan lewat “Go,” “20’s,” dan “Green.”

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *