LOADING

Type to search

Moral Dalam Masyarakat Apakah Hanya Hiasan?

COLUMN

Moral Dalam Masyarakat Apakah Hanya Hiasan?

Defta Ananta 11/11/2017
Share

Suatu sore setelah ditempa oleh hiruk pikuk dunia perkuliahan. Saya mendatangi salah satu warung yang terletak tak jauh dari tempat saya berkuliah. Tepat di depan warung tersebut, terdapat sekelompok orang yang usianya tidak jauh berbeda dengan saya, lalu saya pun memutuskan untuk beristirahat sebentar di dekat warung tersebut sambil ikut duduk tak jauh dari mereka dan menikmati kopi instan yang baru saya pesan.

Sayup-sayup terdengar percakapan mereka yang sedang asyik membicarakan sebuah video viral yang dibuat oleh salah satu mahasiswi universitas ternama (hayo pasti udah pada tau lah video apa yang saya bicarakan hahaha). Walaupun awalnya saya berlagak tidak acuh, namun lama-kelamaan saya pun jadi memperhatikan substansi pembicaraan mereka mengenai moralitas sang pemeran dalam video tersebut (disini saya tidak memposisikan diri saya untuk menghakimi perilaku mereka yaa). Pada akhirnya saya merasa sedikit geli mendengarnya karena mereka menghakimi habis-habisan sang pemeran dalam video itu. Kemudian, ada hal yang tiba-tiba muncul di kepala saya dan menggiring saya untuk bertanya pada diri saya sendiri perihal moralitas yang ada di dalam masyarakat.

Singkat cerita setelah saya pergi meninggalkan warung tersebut, pertanyaan saya perihal moralitas terus muncul di kepala saya. Dimanakah letak sumber orientasi dari moralitas? Apakah orientasinya terletak pada level publik (masyarakat) sehingga seolah-olah publik memiliki semacam hak untuk turut ikut campur untuk mempertanyakan atau mengurusi moralitas seseorang? Atau terletak pada level individual yang akhirnya membebaskan seseorang untuk bertingkah sesuka yang ia mau asalkan ia masih menganggap hal tersebut sebagai suatu tindakan yang bermoral? Kurang lebih dalam masyarakat kita ada suatu kecenderungan untuk menggunakan bahasa “moral” hanya sebatas “penghias” atas perasaan kita terhadap persetujuan atau ketidaksetujuan kita terhadap suatu tindakan manusiawi? Entahlah, karena jika kita terus meperdebatkan hal ini saya sendiri pun dibuat pusing olehnya.

Mengutip perkataan dari Julian Baggini untuk memperjelas apa arti  dari moralitas;

moralitas sendiri adalah suatu bagian dari etika yang berupa seperangkat peraturan – peraturan yang menentukan bagaimana cara seorang manusia seharusnya bertingkah laku dengan konsekuensi bahwa dengan melakukan hal yang sebaliknya merupakan hal yang dianggap salah.

Apabila kita membicarakan orientasi dari moralitas itu sendiri serta kaitannya dengan isu – isu atau fenomena yang berbau sexual tentu dibutuhkan suatu batasan antara ranah publik dengan privat. Pembatasan antara ranah publik dan privat tersebut mungkin akan sedikit menimbulkan permasalahan apabila kita membicarakan seorang tokoh yang tersohor dan terlibat dalam skandal yang berbau sexual. Dapat dipastikan seorah tokoh tersebut akan mendapatkan ruang lingkup yang kecil untuk kehidupan privasinya dibandingkan dengan warga biasa.

Namun sejauh apapun batasan yang ada, tentu akan timbul kecenderungan untuk mempertimbangkan aspek – aspek kehidupan seseorang sebagai urusan pribadi belaka dan yang lainnya sebagai urusan publik yang bersifat sah. Dengan ramainya penggunaan internet dan media sosial, tentu kita sedikit dipermudah dalam menentukan batasan, karena setiap informasi yang masuk ke dalamnya secara otomatis telah berubah menjadi ranah publik. Sekarang permasalahannya akan lebih mendalam lagi karena apakah informasi privasi yang telah masuk menjadi ranah publik tersebut telah mendapatkan consent dari sang pemiliknya? Jika belum maka tentu ada pelanggaran yang berujung pada kerugian.

Secara tidak sadar apa yang kita ketegorikan sebagai ranah “privasi” secara langsung akan berpengaruh terhadap orang lain diluar ruang lingkup privasi kita. Mengapa bisa demikian? Sebagai contoh, jika saya mendatangi tempat lokalisasi / prostitusi, mungkin sebagian orang akan beranggapan bahwa saya “memakai” orang lain dengan cara yang tidak manusiawi atau mungkin beranggapan bahwa saya membantu keberlangsungan manipulasi para mucikari jahat terhadap perempuan yang lemah dan rentan. Dalam contoh kasus tersebut tidaklah semata-mata merupakan persoalan pribadi namun juga melibatkan orang – orang diluar wilayah privasi saya.

Kembali ke pertanyaan diawal tulisan ini, sejauh apapun kita memberi pembenaran dalam meletakan batasan untuk menentukan orientasi moralitas atas perilaku pribadi maupun orang lain, baik dengan menjadikan perilaku itu publik atau dengan menghukum mereka, apakah dengan meng-illegal-kan segala sesuatu yang kita anggap salah secara moral membuat kita berpikir bahwa kita benar – benar memiliki hak untuk campur tangan jika kerugian atas orang lain? Terlebih apabila menyangkut isu – isu yang berbau sexual. Jika demikian, seberapa serius kerugiannya, sebab hal tersebut harus lebih dari sekedar pelanggaran. Namun yang pasti adalah ruang lingkup privasi tidak dapat selalu dengan mudahnya dipisahkan dari ruang lingkup publik. Maka dari itu hal tersebut tentu akan membuat sumber orientasi dari moralitas menjadi sangat fleksibel dan mungkin hal inilah yang membuat adanya perbedaan pandangan.

Permasalahan mengenai moralitas tentu akan selalu menemui perbedaan pendapat karena moralitas akan selalu berkaitan dengan perbedaan etika yang diyakini baik dalam level individu maupun masyarakat. Dan sebenarnya tidak ada suatu hukum / teori  yang bisa benar – benar menyelesaikan permasalahan moralitas dan etika, yang ada hanya sebatas perspektif normatif yang biasa kita gunakan untuk menilai tindakan manusia.

Di Indonesia sendiri yang mayoritas masyarakatnya beragama muslim maka kita cenderung menggunakan perspektif agamis yang sangat normatif dalam menilai, dan terkadang bertolak belakang atau bahkan tidak sesuai dengan kondisi masyarakat yang pada dasarnya pluralis. Di negara lainnya tidak jauh berbeda permasalahannya, namun yang membedakan adalah penggunaan perspektif normatif untuk menilai, seperti di belahan dunia barat yang kental dengan liberalisme serta sekularismenya dan terkadang kedua perspektif tersebut juga tidak bisa menyelesaikan permasalahan mengenai moralitas secara menyeluruh.

Sebagai penutup tulisan ini yang rasanya paling penting adalah kita harus lebih mempertimbangkan tindakan kita serta akibatnya terhadap orang – orang diluar ruang lingkup privasi kita. Karena mungkin yang menjadi akar permasalahan moralitas ini ada pada lemahnya pembentukan prinsip – prinsip dasar yang seharusnya digunakan oleh manusia dalam bertindak.

 

Ilustrasi oleh Nadhif Ilyasa

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *