LOADING

Type to search

Liberated, Single Terbaru MURF yang Catchy Namun Tertahan

DAILY FEATURED

Liberated, Single Terbaru MURF yang Catchy Namun Tertahan

INCOTIVE 17/09/2019
Share

Teks oleh Husna Rahman Fauzi

Liberated menjadi menarik dari segi produksi sebab lagu dibuat sekaan-akan lo-fi dengan ciri khas sound yang mendem dan penuh noise”

Saya sedang nangkring dan menulis sesuatu di Fake Art Studio pada suatu malam. Sekonyong-konyong seorang teman, tiba-tiba menegur saya, “Na, lihat nih ada rapper favorit kamu, Snopp Dogg featuring band favorit aku Gorillaz”. Kala itu teman saya menunjukan video live Gorillaz yang membawakan lagu Clint Eastwood. perkataan tersebut disusul dengan pertanyaan mengambang “Na, Gorillaz tuh, genre nya apa sih? Mereka gak pernah nyebutin, kayaknya genre nya bikin sendiri”.

Pengalaman tersebut seketika teringat kembali, saat saya mendengarkan single terbaru MURF, Liberated. Setelah sukses dengan single pertamanya Man Down, MURF yang berkolaborasi dengan Quamilla dan Gamaliel, menegaskan bahwa MURF memang tidak akan menggubris ekspektasi apa pun perlihal genre yang ia kerjakan pada setiap karyanya.

Sebelum membahas lagu teranyarnya, sebaiknya kita mesti menelisik kembali terlebih dahulu single Man Down. Single pertamanya itu adalah lagu yang benar-benar menggugah, segar dan easy listening. Musiknya yang gandeng dengan permainan instrumen yang kaya terasa cocok di telinga saya yang sering mendengarkan musik hip-hop.

Apalagi di pertengahan lagu, bagian chorus dipotong-potong oleh permainan scratch Gamaliel. Bahkan seingat saya, Man Down adalah single yang membawa MURF bermain di salah satu festival musik besar, La La La Fest dan ketika Liberated dirilis, ekspektasi saya benar-benar tinggi pada musisi yang satu ini.

Saya sedikit tertegun mengetahui bahwa single Liberated adalah single yang digarap oleh kreasi MURF sendiri. Mulai dari vokal, penulisan lirik, semua instrumen, teknis produksi sampai mixing dan mastering semua dikerjakan secara mandiri.

Saat hari dimana single tersebut dirilis, mata saya langsung terganggu oleh cover single yang benar-benar jelek, cover generik album-album hip-hop. Cover single yang terlihat adalah foto MURF sendiri dengan mata sayu, serta pada keningnya tertulis kata LIBERATED yang ditulis secara manual pakai spidol. Ini adalah sebuah penghinaan sebab Liberated adalah kata yang identik dengan semangat “Liberté, Egalité, Fraternité”. Slogan pembebasan manusia saat revolusi Prancis meletus.

Secara keseluruhan, musik yang dibawakan oleh MURF menggunakan beberapa instrumen. Dalam single ini MURF menggunakan Synthesizer, drum, bass dan hasil sampling tanpa gitar. Lagu dibuka dengan bassline yang dominan, disusul oleh suara drum yang menggunakan efek dan membawa vibes elektronik. Harmoni bass dan drum diikuti oleh sample vocal sebagai backsound.

Bless your day for compromise, it ain’t my fuckin way” menjadi lirik pembuka vokal pada Liberated. Suara vokal sepanjang lagu yang diberi efek membuat artikulasi sedikit tertahan dan tidak jelas. Ceracau vokal MURF dengan teknik bernyanyi yang biasa saja membuat setiap lirik menjadi bergumam seperti cara bernyanyi mumble rapper kekinian.

Akan tetapi suara vokal terselamatkan oleh sound dari setiap bridging menuju verse. MURF menyelipkan sample dari intro lagu Daffodils milik Mark Ronson dan Kevin Parker. Bridging ini membuat saya nyaman karena masuk dengan pas. Saya langsung teringat pada lagu Kanye West featuring PartyNextDoor berjudul Ghost Town yang bridging Chorusnya menggunakan konsep yang hampir setipe.

Liberated menjadi menarik dari segi produksi sebab lagu dibuat sekaan-akan lo-fi dengan ciri khas sound yang mendem dan penuh noise ala musik-musik yang sering nongol di akun Youtube Chilledcow. Noise ini dipertahankan dari awal hingga akhir untuk kepentingan estetika.

Untuk musik yang catchy, saya kira MURF sebenarnya tinggal memperbaiki sedikit artikulasi dan teknik bernyanyi untuk menyampaikan pesan dalam lagu. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, jika vokal terus dipertahankan seperti pada track ini, alih-alih menjadi ciri khas, malah membuat lagu ini sulit relate.

Terakhir, MURF mengeksekusi outro lagu dengan sempurna. MURF memperbanyak noise ala lagu-lagu grunge, hal ini membuat kesan pada kepala saya bahwa MURF ingin menutup lagu layaknya serial TV HBO. Dengan rilisnya single ini, MURF setidaknya memperkaya skena musik Indonesia sekaligus menegaskan dirinya layak untuk disimak.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *