LOADING

Type to search

Ulasan Perilisan Ulang Album Murphy Radio Bertajuk Self-title di Jepang

DAILY FEATURED

Ulasan Perilisan Ulang Album Murphy Radio Bertajuk Self-title di Jepang

Abyan Hanif 28/03/2019
Share

Pada 22 Februari lalu, Friend of Mine records merilis ulang debut album “self-title” untuk didistribusikan di negeri sakura. Lewat kabar ini saya tertarik untuk me-review album tersebut selain karena memang album-nya secara umum baik. Friend of Mine sendiri merupakan label asal Tokyo, Jepang yang terkenal dengan line-up artis nya yang tidak jauh dari Math-rock, Post-rock, dan Midwest emo.

Tidak heran rasanya saya mendengar kabar tersebut, karena Jepang memang subur dengan band-band seperti Falls, Covet, dan Toe. Kesan pertama ketika melihat cover dari album debut Murphy Radio yang berjudul “Self-title” ini adalah “Self-title” merupakan album musik soundtrack anime atau musik bergaya jepang-jepangan. Hal ini dikarena kan cover-nya yang dibuat oleh Rahesa Rahmad mengingatkan saya kepada kamar Nobita di salah satu film masa kecil favorit saya. Namun hal tersebut dipatahkan ketika saya mulai mendengarkan “No Friend No Master” yang didaulat sebagai lagu pembuka pada “self-title”.

Ternyata warna musik yang disuguhkan oleh Murphy Radio adalah musik Midwest-emo/Math-rock seperti band American Football. Sebuah gaya musik yang jarang muncul ke permukaan skena musik Indonesia akhir-akhir ini, atau mungkin kurang disorot akhir-akhir ini. Album  “self-title” ini berisikan 10 lagu yang diproduseri oleh Arie Wardhana dan diproduksi oleh label asal Singapura, An Atmos Initiative dimana hanya dua dari 10 lagu tersebut yang disuguhkan lengkap dengan vokal, sedangkan ke-8 lagu sisanya instrumental.

Karya dari Murphy Radio tersebut seakan mempertegas bahwa tidak semua  pesan yang  ingin disampaikan musisi tidak harus melalui lirik saja, namun pemilihan suasana, warna musik, dan chord progression juga dapat digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan yang ingin disampaikan Murphy Radio melalui karyanya.

Pada lagu pertama yang berjudul “No Friends No Master”, Para pendengar seakan langsung diajak berlari tanpa pemanasan lewat materi dari lagu tersebut, dengan tempo cepat dan ketukannya yang ruwet tanpa aba-aba. Dilanjutkan  dengan lagu “Sport Between Trenches” dengan gairah dan semangat yang tidak jauh berbeda dengan lagu sebelumnya, Namun dengan riff gitarnya yang lebih liar dari lagu sebelumnya.

Pada lagu “Hippo” atau lagu ketiga, Murphy Radio mulai memperkenalkan gaya vokal mereka yang menurut saya sangat baik, di-double dengan vokal bernada tinggi yang sedikit samar-samar sukses membuat suasana semakin megah dan dalam pada bagian chorus-nya, ditambah lagi dengan pemilihan kata pada lirik nya yang seakan beberapa poin pada nilai rapor Murphy Radio. Tambahan vokal pada lagu ketiga ini juga menghasilkan kesan bahagia pada “Hippo”.

Lanjut ke lagu keempat, “Blossoms And Paw” seakan menjadi jembatan yang baik sebelum masuk ke lagu kelima. Pada “Blossoms And Paw” urat semangat pendegarnya seakan diulur, agak sedikit lebih santai dari lagu-lagu sebelumnya seakan-akan lagu ini berkata “Kalem dulu boy, ulah semangat teuing”  dan benar saja, pada lagu keenam yaitu “Summertime Loneliness” pendengarnya di berikan istirahat singkat setelah di bawa bersemangat melalui keempat lagu sebelumnya. Lagu ini juga selain karena judulnya yang disematkan kata “Loneliness” memberikan kesan sedih dan terasingkan melalui gaya memainkan gitarnya yang “lemah gemulai”, rasa terasingkan dan kesepian juga seakan ditunjukan oleh Murphy Radio dengan hanya adanya suara dari satu gitar saja dengan ditemani suara dari beberapa burung.

Single terakhir mereka yang dirilis pada 10 Agustus 2018 kemarin yaitu, “Gracias” di-plot untuk mengisi track kelima pada album “Self-title” atau menjadi track paling tengah. Dilanjutkan dengan “Post Holiday” dengan warna yang tidak jauh berbeda dari track-track sebelumnya. Aura semangat kembali di ulang lagi pada lagu ini dengan tempo dan ketukan yang masih sama ribetnya.

Waktu istirahat kembali diberikan oleh Murphy Radio pada lagu “Tired Song”, Penempatan lagu ini di track ke-8 merupakan pilihan yang tepat, dimana pada tahap ini pendengar yang sudah mulai bosan sedikit diberi angin segar setelah dicekoki lagu-lagu berpikir. “Tired Song” hampir mirip dengan lagu “Summertime Loneliness”, dengan gitar sebagai instrumen satu-satunya. Namun pada lagu ini suara burung-burung digantikan dengan suara air mengalir atau mungkin lebih cocok sungai yang mengalir.

Nuansa perpisahan mulai terasa pada lagu ke-9 atau “Graduation day” dimana suasana sedih dan bahagia seakan dilebur menjadi satu sehingga lagu ini terasa bittersweet. Album menawan ini ditutup dengan “Godspeed” sebagai lagu perpisahan. Pada lagu ini lebih terasa lebih cerah dari dua lagu sebelumnya. Seperti memberikan pesan “Selamat tinggal, semoga sukses” dan ya, lagu “Godspeed” tadi menandakan bahwa selesai sudah perjalanan yang dipandu oleh Wendra (Gitar), Aldi Yamin (Bass), dan Muhammad Amrullah (Drum).

Perjalanan seseorang dalam mengarungi hidup yang penuh naik dan turun, senang dan bahagia, perjalanan dalam mencari jati diri dalam kebimbangan anak muda. Hal tersebut seakan-akan diamini oleh Murphy Radio melalui siaran pers mereka untuk album “self-title” yang mengatakan bahwa album ini bercerita tentang keseharian dari sudut pandang seorang anak perempuan yang setiap lagunya mewakili luapan emosi dari anak tersebut. Tidak jauh berbeda dari interpretasi saya ketika selesai mendengarkan satu album full yang menandakan bahwa pesan sebuah lagu tidak hanya bisa disampaikan melalui vokal dan lirik saja, tetapi bisa juga melalui emosi yang diluapkan oleh para musisi yang diterjemahkan melalui gaya dan suara yang dihasilkan alat musiknya.

Sejauh ini lagu favorit saya pada album “self-title” ini adalah “Gracias”. Selain karena menurut saya “Gracias” merupakan lagu yang paling menonjol di album ini, tembang ini juga memiliki mood yang cerah sehingga membantu pendengarnya untuk ikut terpengaruh dengan mood yang positif di lagu tersebut. Album ini juga sangat dianjurkan untuk kalian-kalian penyuka lagu-lagu bergenre math-rock/midwest emo, tetapi selain fans dari genre tersebut juga bisa menikmati “self-title” terlepas dari kesan rumit dari gaya math-rock yang kental. Meskipun terdengar tidak familiar di kuping kalian yang terbiasa mendengar lagu dengan vokal sebagai fokus utamanya, karena sebagian besar materi dalam album ini diisi oleh materi instrumental.

Tags:
Abyan Hanif

Lahir di kota Kembang. Penulis amatiran. Full-time nankring, Part-time kuliah. Sporty abis. Bobotoh.

  • 1

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *