LOADING

Type to search

Musik Folk Eksperimental dari Kota Ponorogo, Tuhkastura

DAILY FEATURED

Musik Folk Eksperimental dari Kota Ponorogo, Tuhkastura

Defta Ananta 27/12/2018
Share

Jujur, saya tidak tahu banyak tentang kota Ponorogo. Kota yang terletak di timur pulau Jawa ini ternyata tak hanya menjadi tempat kelahiran bentuk kesenian luhur seperti reog, namun Ia juga nampaknya memiliki pergerakan musik kontemporer yang cukup menarik. Dan salah satunya adalah lahirnya unit psychedelic folk experimental, Tuhkastura. Belum lama terbentuk, duo yang digawangi oleh Amir dan Fajar langsung mengawali kiprahnya dengan merilis single dalam format video musik berjudul “Exist In Harmony At The Center Of The Universe”. Keduanya mencoba mengeksplorasi sisi lain dari sudut-sudut kreatifitas mereka.

Saat pertama kali saya melihat artworknya, saya kira musik yang mereka sajikan lebih mengarah pada musik folk generik yang identik dengan romantisme kala senja yang terkadang membuat geli. Anggapan pertama saya dipatahkan setelah suara-suara noise yang lembut mulai terdengar dan membangun kesan atmospheric nan kelam. Secara musikal, Dominasi suara gitar yang diberi reverb serta delay menjadi unsur utama yang membangun identitas dan warna utama dalam lagu tersebut. Ditambah penggunaan white noise serta arpeggiator dari synthesizer untuk menambah kesan psikedelia.

Namun, lagu yang berdurasi 5 menit tersebut terkesan seperti belum selesai digarap dari segi aransemennya. Kesan tersebut bukanlah tanpa alasan, karena hingga di menit – menit akhir dinamika lagu tersebut tidak berubah dan pada akhirnya menimbulkan perasaan anti-klimatik. Belum lagi penggunaan lirik bahasa inggris yang pengucapannya terkesan seperti lolongan dan tidak jelas kata yang disampaikan. Dilihat dari judul, saya menduga secara gamblang jika lagu ini mengajak kita untuk bisa menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam.

Kemudian yang menarik adalah video musik yang juga dirilis oleh Tuhkastura. Di menit awal video tersebut, para penonton diajak untuk mengarungi sebuah perjalanan dari ladang tandus, hutan, hingga bukit sambil seolah-olah tengah mengonsumsi halusinogen. Saya tidak menangkap adanya suatu cerita atau makna kausal yang tersurat atau tersirat dalam penyajian visualnya. Saya sendiri pun dibuat bingung dengan storyline yang coba dibangun atau mungkin memang klip tersebut didesain hanya untuk menjadi pengantar visual bagi orang – orang yang sedang ngetrip? Entahlah. Sejauh ini ada beberapa hal yang bisa saya petik kalau klip musik tersebut cenderung terlihat seperti video promosi dari dinas pariwisata setempat.

Saya pribadi menganjurkan kalian memutar lagu tersebut, sambil menonton klip musik “Daydreaming” dari Radiohead dalam kondisi mute. Saya rasa mood yang dibangun oleh lagu tersebut akan lebih terasa.

Namun dibalik ketidaksempurnaannya. Tuhkastura berhasil menunjukan sisi eksentriknya yang mampu memberikan efek distingtif secara musikal dari unit / band yang serupa. Lagu yang dirilis bersamaan dengan hari menanam pohon nasional ini memberikan angin segar setidaknya bagi scene musik dimana mereka berasal.

Tags:
Defta Ananta

Terkadang jadi musisi dan terkadang jadi penulis di Incotive. Tapi yang pasti, masih jadi pemuda yang sering mempertanyakan banyak hal.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *