LOADING

Type to search

Musik Folk Hingga Pemilihan Lirik Bersama Oscar Lolang

INTERVIEW

Musik Folk Hingga Pemilihan Lirik Bersama Oscar Lolang

Faiz Ashari 19/10/2017
Share

Sebagai musisi, Oscar hanya ingin bercerita tentang apa yang ia resahkan kepada pendengarnya. Pertanyaan mengapa liriknya memakai bahasa Inggris oleh beberapa kalangan tidak membuatnya jadi kepikiran. Ia hanya perpendapat bahwa ia nyaman menggunakan bahasa Inggris dan membuat Indonesia itu sulit kalau tidak tau cara menempatkannya.

Di tengah sebuah gelaran musik Jumat lalu bertajuk Qualitea time, kami berkesempatan berbincang dengan Oscar Lolang dari alasan mengapa memilih folks hingga menanggapi komentar Guruh Soekarno Putra dan Yockie Suryo Prayogo mengenai lagunya.

 

Alasan apa yang membuat lo ingin bermusik dan terjun ke dunia musik secara serius?

Awalnya, sih, hobi dan semenjak lagu “Eastern Man” diliris secara dan di situ aku mulai serius.

Pernah bercita-cita untuk menjadi musisi sebelumnya?

Gak pernah kepikiran, tapi ya, jalani saja.

 Alasan apa yang membuat lo memutuskan untuk berkarya di Bandung?

Pertama memang karena aku berkuliah disini. Teman-teman dan team juga berada di Bandung. Tapi kenapa aku memutuskan untuk mengidentifikasikan di Bandung. Karena aku diinisiasi disini dan mungkin kalau aku tidak pindah ke Bandung. Aku tidak akan bernyanyi.

Dari sekian banyak aliran musik kenapa memilih musik folks?

Sebenarnya pernah bermain beberapa genre lain juga, tapi menemukan klik-nya di folks.

Tapi membulatkan genre gak? Jadi saklek folks saja?

Untuk sementara aku menamakan genre yang aku mainin itu folks, tapi untuk kedepannya aku gak tau, jadi aku terbuka saja. Aku memang dari dahulu menyukai folks, Bob Dylan, dan iseng iseng juga memaikan musik folks dari berbagai negara seperti dari Rusia dan Itali. Folks secara lirik lebih “ngena” saja dari lirik dan cara bermainnya tidak muluk-muluk.

Sebutkan 1 lagu bergenre folks yang membuat lo jadi sangat tertarik dengan folks atau membuat lo memilih musik folks?

Kalau lagu sih banyak, tapi kalau album itu, album pertamanya Nick Drake dan Album Bob Dylan yang ‘Freewheelin’.

Adakah pikiran-pikiran tertentu saat karya lo mulai dikenal orang banyak (seperti takut tidak diterima) atau tidak ada sama sekali?

Sebenarnya kita tidak bisa menyalahkan pendengar karena yang deliver kan kita. Namun, takut pasti ada, karena tema-temannya. Seringkali juga aku diundang ke beberapa acara yang terkadang penontonnya sulit untuk sing along karena lirikku panjang dan memakai Bahasa Inggris. Walaupun aku tidak terlalu memikirkan. Aku mencoba jujur saja, aku suka main seperti ini.

oscar lolang qt 2

Penampilan Oscar Lolang saat acara Qualitea Time

Bicara soal penggunaan lirik berbahasa Inggris, sudah dengar komentarnya Guruh dan Yockie di Youtube? Pendapatnya apa?

Waktu aku diberitahu, aku sedang di “Wreckfest”. Aku deg-degan dan “wanjir!”. Dan soal pendapat tentang komentar mereka sih, aku lebih ke euphoria sih. Masalah lirik, aku ngerti karena mereka itu kan Indonesia banget dan lagu-lagu Guruh pun gimana carannya alunan dan liriknya se-Indonesia mungkin. Dan kalau mereka kalau menjual itu membawa Indonesianya, dan sebenarnya aku setuju-setuju saja. Namun, kadang membuat lirik berbahasa Indonesia itu tricky, jadi ntuk sementara aku lebih nyaman memakai Bahasa Inggris saja.

Kadang juga jika memakai Bahasa Indonesia stressing nya tidak pas dan diksinya tidak enak, malah terdengar kampungan. Makanya kenapa Efek Rumah Kaca bisa bagus walaupun memakai kata-kata baku dan ilmiah. Hal tersebut dikarenakan penempatannya yang pas. Sebenarnya, Aku punya lagu berbahasa Indonesia tapi who knows nanti bakal bagaimana.

Dalam album kali ini, lo bilang lo lebih marah, kasar, mengeluh dan sedih. Hal apa yang membuat lo meresakan hal-hal tersebut?

Itu kenapa albumku dinamakan “Drowning In A Shallow Water”. Aku bisa saja tidak marah atau tidak kesal, tapi, aku tetap kesal, karena seringkali hal yang aku buat itu jauh dari aku. Seperti Papua misalnya, rasanya lebih kayak pas baca, “anjir kasian banget”. Banyak hal lainnya juga, hal di sekitarku atau pengalamanku.

Pesan utama apa yang ingin lo sampaikan lewat album terbaru lo?

Aku membebaskan pendengarku akan bagaimana jadinya, karena banyak bercerita, bagaimana pemahaman mereka saja dan aku terima saja.

Atau Oscar ingin pendengar ikut peduli tentang apa yang terjadi di Papua seperti yang ada pada lagu “Eastern Man”?

Kalau bisa seperti itu Alhamdulillah. Namun, sebagai musisi, bercerita saja, karena salah satu kekuatan musisi sekarang itu menceritakan apa yang mereka rasa aneh.

Apa atau siapa yang paling mempengaruhi dalam pembuatan album terbaru lo? Seperti muse?

Ada banyak sih, dari baca-bacaan yang ku baca dan obrolan dengan teman-teman.

Vira Talisa atau Sky Sucahyo?

Wah, kalau untuk musik karena kita punya banyak kesamaan refrensi aku pilih Vira Talisa.

Intisari atau Orang tua?

Orang tua!

Apa yang paling lo takutkan dalam hidup ini?

Hidup!

 

Foto oleh Ariandi Setiawan

 

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *