LOADING

Type to search

Musik Sebagai Sarana Refleksi dan Pengembangan Diri

COLUMN FEATURED

Musik Sebagai Sarana Refleksi dan Pengembangan Diri

INCOTIVE 06/10/2018
Share

Teks oleh Shaquille Noorman
Ilustrasi oleh Nadhif Ilyasa

Ada sebuah fase dalam kehidupan individu yang disebut sebagai “Mirror Phase”, sebuah istilah yang dicetuskan oleh seorang psikoanalis Jacques Lacan untuk menggambarkan bagaimana bayi berusia enam bulan  bercermin dan dapat memahami bahwa yang ia lihat di cermin tersebut adalah pantulan citra dirinya sendiri.

Pada mulanya Lacan menganggap bahwa Mirror Phase dialami oleh bayi sejak usia enam bulan hingga delapan belas bulan, ketika bayi tersebut memahami konstruksi fisik akan dirinya dari pantulan citranya di cermin, dalam proses tersebut terpercik sebuah konflik antara sisi intrinsik sang bayi dan representasi ekstrinsik yang ia lihat, tampilan visual yang sang bayi tatap sangat terbatas untuk menggambarkan dirinya secara menyeluruh. Lalu gagasan Mirror Phase tersebut Lacan gunakan sebagai dasar dari konsep Ideal Ego, dimana seorang individu dapat menatap langsung terhadap cerminan subjektif dirinya yang paling ideal dan memahami dirinya secara menyeluruh, sehingga dapat membuat seseorang tersebut berkembang, sebuah pengalaman akan subjektifitas diri yang konstan.

Tentu saja setiap individu memiliki proses dan jalurnya masing-masing untuk mencapai pemahaman akan dirinya sendiri secara hakikat. Dalam kasus yang saya alami, musik memiliki andil yang sangat besar dalam proses tersebut. Musik tidak secara tiba-tiba menjadi unsur yang sangat berpengaruh dalam hidup saya, namun ada sebuah perjalanan yang ditempuh, sebuah progresi dimana saya perlahan membuka diri pada spektrum pikiran, perasaan, dan pengalaman yang luas sebagai manusia.

***

Kurang lebih satu dekade silam, saat itu usia saya 13 tahun, bermula dari laman-laman akun Friendster yang saya jelajahi di lab komputer sekolah, banyak dari akun-akun tersebut mencantumkan nama-nama band atau penyanyi yang mereka sukai. Diantaranya nama-nama band metal kawakan seperti Behemoth, Slayer, Suffocation dan lainnya, saat itu muda-mudi di Kota Bandung dan sekitarnya sedang dilanda demam musik metal, saya yang pada saat itu menetap di Tasikmalaya – sebuah kota yang cukup terpengaruh oleh trend dari Bandung – merasakan daya tarik dari citra yang dipancarkan dalam persona metalhead. Nama-nama band yang dicantumkan dalam akun-akun Friendster tersebut terdengar keren dan menyimpan nuansa yang gelap, di luar kosakata Bahasa Inggris yang dipelajari di sekolah. Sontak saja saya mencari tahu lebih banyak tentang musik metal dan mengooptasi simbol-simbol dalam musik metal tersebut dalam mengkonstruksi identitas saya saat itu.

Foto oleh Shaquille Noorman

Selang beberapa bulan sejak itu, saya mulai berkenalan dengan kawan-kawan yang berkutat dalam scene musik bawah tanah, dari satu tempat tongkrongan berupa toko merch yang menjual pernak-pernik punk dan metal, hingga ke rumah tempat berkumpul penggiat musik bawah tanah yang sudah bermusik lebih dari satu dekade saat itu.

Sloki berisi minuman beralkohol lokal fermentasi anggur berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain, sekawanan pemuda berbaju hitam duduk melingkar bercengkrama, seiring dengan mata-mata yang semakin sayu dan rona wajah yang memerah, guyonan dan obrolan serius sesekali terselip di antara gemuruh musik metal yang mengalun dari speaker, menuju tengah malam topik obrolan merambah pada obrolan politik hingga filsafat, tentang musisi hingga tuhan, tentang Nietzsche hingga diktator Soeharto. Menjadi yang paling muda dalam ruangan itu, saya lebih banyak mengamati interaksi yang sedang berlangsung.

Saya mencoba memahami dan mengikuti permainan dan rambu etiket yang berlaku, saya mulai membeli merch kaus-kaus band, hingga isi lemari pakaian saya hitam semua, saya juga diberi pinjam buku komik yang merangkum isi Das Kapital-nya Marx, walaupun pada saat itu sebenarnya saya tak begitu paham akan semua itu. Tentu saja timbul reaksi dari ayah dan ibu yang tidak suka melihat perubahan pada penampilan saya dan mendapati ada buku yang mereka anggap haram untuk dibaca tergeletak di atas meja belajar saya.

Adanya pertentangan tersebut justru seakan memantapkan pendirian saya, ketika saya mengooptasi unsur-unsur yang terkandung dalam musik bawah tanah dan hal lain terkait, terbersit perasaan serupa us vs. them, antara kami-kami yang berbaju hitam ini dan mereka-mereka yang membosankan. Saat itu saya merasakan sebuah prestise tersendiri untuk mengenakan seragam identitas tersebut, rasanya seakan saya mendapatkan jawaban akan siapa diri saya dan dimana tempat saya di masyarakat. Walaupun saya hanya bisa menangkap gambaran yang kabur mengenai gagasan terkait filsafat, attitude dalam scene, dan nilai-nilai perlawanan yang terlalu gamang untuk saya pahami saat itu. Tentu saja perasaan yang saya rasakan tersebut tak dapat mewakili bagaimana cara pandang dan perasaan kawan-kawan metalhead pada umumnya, melainkan hanya sebuah proses yang pernah saya lalui dalam perjalanan untuk memahami diri sendiri.

Ketika saya kilas balik ke pengalaman-pengalaman tersebut, mungkin dahulu saya hanya menganggap bahwa musik hanyalah atribut, sekedar pelengkap yang digunakan dalam proses pengukuhan identitas, interaksi saya dengan musik lebih dominan didorong oleh peer-pressure dan hasrat untuk diterima, motif yang ekstrinsik dan cenderung egosentris. Supaya diterima oleh kawanan, saya merasa saya harus berpakaian serupa dan hanya mendengarkan musik serupa, begitulah attitude militan yang saya anggap ideal pada saat itu.

Saat itu saya jarang mendengarkan musik selain musik ekstrim bawah tanah, walaupun terkadang saya mendengarkan juga musik lain, tapi tak begitu saya tunjukkan karena saya anggap tidak sesuai dengan narasi identitas yang saya usung. Jika ada musik bawah tanah baru yang sedikit trendy pun tak mau saya dengarkan karena bagi saya saat itu, musik bawah tanah itu haruslah militan, haruslah gelap, distorsi dan hasil mixing suaranya haruslah kasar, sebagaimana musik-musik bawah tanah yang sudah ada sebelumnya dan begitulah seharusnya untuk selamanya.

Foto oleh Shaquille Noorman

Bukan berarti hubungan saya dengan musik di masa lalu yang saya alami sepenuhnya tidak otentik dan pretensius, justru sebagai permulaan dari proses panjang dalam mencari kepingan refleksi diri, proses tersebut sangat berarti untuk membantu saya hingga saat ini dalam menyusun kepingan-kepingan itu. Saat saya melihat kembali hubungan saya dengan musik di masa lalu, saya dapat memahami bagaimana hubungan tersebut merefleksikan diri saya di saat itu. Persis seperti seorang individu yang pertama kali menyadari kontradiksi antara sisi internalnya yang asbtrak, luas, dan dinamis dan tampilan eksternalnya yang solid, terbatas, dan stabil di hadapan cermin. Sebelum seorang individu dapat menatap Ideal Ego-nya, seseorang harus lebih dulu menatap pantulan citra dirinya dengan rasa kalut dan bingung.

***

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menentukan yang mana pendekatan seseorang terhadap musik yang benar dan yang mana yang salah, namun lebih kepada ketika seseorang terkungkung dalam satu kerangka identitas yang kaku, secara tidak langsung ia membatasi dirinya untuk mengakses spektrum perasaan, pikiran, dan pengalaman yang luas, dimana ia mungkin dapat menemukan kepingan dirinya yang ada disana.

Manusia dapat belajar banyak tentang dirinya sendiri melalui berbagai medium, sebut saja literatur, lukisan, patung, film, instalasi, musik, hingga pengalaman hidup. Musik – seperti medium penyaluran ekspresi lainnya – dapat digunakan sebagai medium untuk menyalurkan ekspresi secara otentik dan jujur, dimana cerminan diri sang empunya karya tercurah dalam hasil karyanya.

Sebagian besar hal yang kita lihat dan kita alami sehari-hari seperti misalnya orang-orang yang berlalu lalang di jalan, interaksi kita dengan pramuniaga mini market, atau interaksi kita dengan kawan-kawan, mungkin belum bisa memberikan representasi yang memadai mengenai bagaimana kondisi internal manusia yang abstrak dan terkadang sulit dibahasakan. Namun dengan adanya musik kita dapat mengalami berbagai macam manifestasi dari sisi internal manusia dan kita bisa ikut berkaca disana.

***

Hari itu matahari sudah lengser dari tahtanya, saya dan beberapa kawan menyusuri jalanan kota Tasikmalaya dengan mobil minivan setelah sebelumnya menyantap jamur Psilocybin yang pada saat itu status hukumnya masih gamang. Selang waktu sekitar 40 menit, saya merasakan sesuatu yang tidak biasa, sensibilitas indera saya menajam. Saya melihat warna-warna yang sebelumnya tidak saya ketahui keberadaanya, pendengaran saya pun demikian. Sementara kawan-kawan yang lain asik bersenda gurau, saya memasang earphone dan menyalakan album Dark Side of The Moon milik Pink Floyd, ketika itu pula efek suara di awal album berupa degupan jantung saya rasakan bersinergi dengan detak jantung saya, lalu diikuti dengan bunyi serupa suara mesin, kemudian suara tawa, dan lengkingan, hingga saat irama gitar, drum, dan bass pada permulaan lagu Breathe dimulai, untuk pertama kalinya saya merasakan kemegahan suara dan kedalaman emosional yang dapat dihantarkan oleh musik, terhitung sejak saat itu, musik menempati peran yang lebih integral dalam hidup saya.

Ketika saya menjelajahi berbagai macam musik, layaknya medan asing yang saya telusuri petak demi petaknya, setiap lagu menghantarkan saya kepada sisi terdalam dari musisi yang menciptanya, ada warna yang hanya dimiliki oleh Sun Ra, adapula warna yang hanya dimiliki oleh Aphex Twin. Banyak perasaan yang sebelumnya tidak saya ketahui keberadaanya dan pada akhirnya dapat terwakili oleh nada atau suara tertentu, dalam hal itu musik dapat menjembatani hal yang tak berwujud, abstrak, dan immaterial kedalam bentuk yang konkrit dan dapat diakses menggunakan indera yang kita miliki sebagai manusia. Karena itulah musik dapat diibaratkan sebagai cermin dimana kita dapat melihat refleksi dari sisi internal manusia.

Mungkin seseorang dapat bercermin pada liukan gitar Jimi Hendrix yang ia dengarkan dibawah pengaruh LSD, atau pada dentingan piano Thelonious Monk yang ia dengarkan ketika dirinya sulit terlelap di malam hari, atau pada irama dansa Frankie Knuckles yang diputar oleh DJ di klab malam, atau pada sepenggal verse Kanye West yang ia dengarkan ketika mengemudi sepulang ia bekerja, tidak ada yang tahu dimana saja kepingan diri seseorang tercecer. Dalam momentum-momentum yang sublim itulah seseorang dapat bertatapan dengan bagian dari dirinya yang sebelumnya tidak pernah ia lihat.

Musik sudah menjadi bagian dari peradaban manusia sejak jaman pra-sejarah, sebuah artefak berupa alat musik tiup serupa seruling yang terbuat dari tulang ditemukan di sebuah guha di Jerman, artefak tersebut diperkirakan berusia 42.000 – 43.000 tahun. Mungkin hari pertama diciptakannya musik oleh manusia jauh lebih tua dari 42.000 tahun. Dengan bervariasinya motif manusia untuk menciptakan dan memainkan musik, mulai dari musik purbakala, nyanyian pepujian yang dilantunkan untuk mengiringi ritual atau upacara tertentu, sayatan cello dalam komposisi musik klasik, hingga dentum kickdrum 808 yang mampu membuat manusia-manusia modern berdansa semalam suntuk di klab, yang dapat digaris bawahi adalah musik dapat mewakili pengalaman intrinsik dari dalam individu dan mengomunikasikannya ke individu yang lain, itulah mengapa musik diperlukan manusia dan selalu ada di sepanjang peradaban.

Foto oleh Shaquille Noorman

Musik dapat merepresentasikan bagian dari ruang intrinsik manusia yang abstrak, representasi itu menyusun sebuah refleksi manusia yang dapat dilihat secara makro tanpa medium seni dan literatur sulit untuk dilihat secara gamblang. Spektrum kesadaran kolektif yang luas mendapatkan representasi dari musik yang dinyanyikan pengamen di ruas jalan kota, hingga musik top 40 yang tanpa henti dikumandangkan di radio arus utama.

Setiap aliran musik memiliki pendengar dan pengikutnya masing-masing, dengan melihat betapa banyaknya musik yang pernah diciptakan sepanjang peradaban manusia, mungkin sebanyak itupula kita dapat turut mengamati bagaimana sisi internal manusia yang sebelumnya tidak terlihat, jika setiap kata dalam bahasa memikul maknanya masing-masing, sebuah irama musik dapat mengandung cerminan sisi internal manusia yang melampaui keterbatasan bahasa karena dapat mengartikulasikan rentang perasaan dan pengalaman yang luas.

Tags:

You Might also Like

1 Comments

  1. Rahmatgunadi 09/10/2018

    Lingkar hitam sindikat kil 😜

    Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *