LOADING

Type to search

Siapa Yang Kampungan? Musiknya, Pendengarnya, atau Kita Semua?

COLUMN FEATURED

Siapa Yang Kampungan? Musiknya, Pendengarnya, atau Kita Semua?

Abyan Hanif 02/02/2019
Share

Ilustrasi oleh penulis juga (multi-tasking)

Jam dinding menunjukan pukul 9 lewat 10 menit ketika teman saya, sebut saja dia Dimas memanggil kami bertiga yang sedang duduk ngaso di pinggiran jalan, persisnya di depan rumah semi-modern daerah perumahan dosen ITB. Tidak sebesar rumah-rumah di sekitarnya, namun rumah itu terasa lebih nyaman untuk menjadi tempat tinggal. Dimas memaggil kami dengan lambaian tangannya yang menandakan bahwa mobilnya sudah siap kami gunakan, untuk piknik ke ibu kota.

Kami bertiga pun langsung mematikan rokok kami yang sebenarnya masih tersisa setengah batang, namun karena pertimbangan waktu yang sudah semakin ngaret, kami pun dengan berat hati langsung memasuki mobil. Sekitar 15 menit sejak mobil meluncur melewati jalanan yang macet, Dimas melupakan sesuatu yang sangat krusial pada sebuah perjalanan panjang. Ya! Kabel aux. Dengan penuh sesal, kami berempat terpaksa mendengarkan lagu ala-ala global top 50-nya spotify (baca: lagu populer) yang selalu diputar oleh stasiun-stasiun radio.

Tidak sampai 15 menit, saya pun mengganti frekuensi radio tersebut menjadi frekuensi dari radio KLCBS, dimana lagu-lagu yang sering diputar di sana lebih cocok untuk dikonsumsi oleh saya dan teman-teman, karena kami memiliki selera musik yang relatif sama. Belum sampai di channel KLCBS, channel Dahlia FM yang notabene merupakan radio dangdut lewat dan saya berhenti di channel tersebut. Kebetulan lagu yang sedang dimainkan adalah lagu dari Nella Karisma yang berjudul “Bojo Galak”.

Sengaja saya setel agar bisa melihat respon teman-teman, yang saya tahu pasti akan protes dan meminta untuk segera mengganti channel tersebut. Ternyata benar saja, mereka yang awalnya hampir tertidur langsung terbangun segar bugar untuk sekedar berkomentar dari mulai komentar santai seperti “Ganti plis, geli banget”, sampai komentar negatif seperti “Ganti ga anjing!, kampungan!”, “Dasar norak” dan anehnya dari 3 orang yang berkomentar di dalam mobil tersebut tidak ada satu pun yang berkomentar positif atau bahkan netral sekali pun. Barangkali hanya saya yang ada di posisi biasa saja saat itu, walaupun saya sebenarnya setuju dengan penyebutan kata norak pada lagu tersebut.

Kejadian tersebut lah yang membuat saya bertanya-tanya, “ada apa sih dengan dangdut dan musik-musik ‘kelas menengah’ lainya? seburuk itu kah musik-musik aliran tersebut?” Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut akhirnya saya memutuskan untuk menulis tulisan ini. Sebelum masuk ke pembahasan, saya ingin berterima kasih dahulu kepada Idhar Resmadi karena karya-karya kang Idhar seperti buku “Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya” dan artikel “Kampungan vs Gedongan: Bagaimana Selera Musik Kelas Menengah di Indonesia Terbentuk” yang di muat di Pophariini menjadi sumber utama di balik tulisan saya ini.

Apa itu selera dan bagaimana stigma pada musik terbentuk?

Sebenarnya faktor suka atau tidak sukanya seseorang pada sebuah gaya musik tertentu itu disebabkan oleh selera pada masing-masing individu itu sendiri dan selera tersebut, contohnya orang-orang yang terbiasa untuk mendengarkan musik yang “laki” banget seperti musik-musik dengan riff gitar melengking, dengan tempo cepat yang bisa disebut sebagai patron-nya anak muda, cenderung sulit untuk menerima atau mendengarkan musik-musik yang populer, galau, dll karena musik tersebut sangat jauh berbeda, dan mungkin akan malu jika orang lain mengetahui bahwa seorang metal-head menyukai lagu-lagu sadboi ala-ala playlist “Generasi Galau” di spotify.

Kalau suka pun ia akan berusaha maksimal untuk tidak mendengarkannya di ruang publik. Perdebatan antara dua genre musik yang berbeda sebenarnya bukan lah lagu lama, pada dekade 70-an sudah muncul dua perdebatan yang disebut dengan kampungan vs gedongan, dimana fans dari tipe musik yang berbeda, yaitu musik rock yang mewakili kaum gedongan yang memiliki citra positif dan terdidik dengan musik dangdut yang mewakili kaum ‘kampungan’ karena diisi oleh orang-orang kelas menengah kebawah.

Hal yang paling memorable pada masa itu adalah ketika Benny Soebardja dari The Giant Step mengatakan musik dangdut sebagai “musik tai anjing” dan dibalas oleh Rhoma Irama dengan sebutan “musik terompet setan” untuk musik rock. Selera dapat menentukan pandangan seseorang terhadap musik tersebut, apakah musik itu jelek atau bagus. Terlalu subjektif memang, tapi ya memang begitulah adanya, dan saya pun sangat setuju bahwa penilaian terhadap musik tidak akan melipir jauh dari yang namanya subjektifitas. Faktor selera di sini juga sedikit menjawab pertanyaan saya mengapa banyak orang yang terlihat begitu membenci dangdut dan saya pun mengerti. Orang-orang yang biasa ‘dicekoki’ oleh musik berbahasa inggris yang dianggapnya keren dan berpendidikan sekali nya dikasih lagu melayu pasti melontarkan komentar-komentar olokan seperti kampungan lah, norak lah, dan lain sebagainya.

Sebenarnya banyak sekali faktor pembentuk selera pada musik seperti lingkungan, pengalaman hidup, dan kelas sosial. Faktor-faktor tersebut lah yang dapat menentukan kecenderungan seseorang untuk mendengarkan musik yang seperti apa. Musik indie yang dianggap lebih elegan kah atau mungkin mendengarkan musik keluaran label besar yang dianggap tidak memiliki nilai estetik sekali pun. Jadi secara garis besar pembentukan selera musik pada setiap orang pasti dipengaruhi oleh faktor eksternal yang menyebabkan kecenderungan seseorang untuk mendengarkan genre musik tertentu, dan juga mempertegas bahwa penilaian seseorang terhadap musik pasti akan bersifat subjektif, sebagai manifestasi dari faktor-faktor pembentuk selera yang sudah disebutkan tadi.

Siapa yang berhak menilai sebuah musik?

“Untuk membedakan musik bagus atau jelek cukup sulit. Karena musik adalah suatu bentuk ekspresi manusia, secara esensi musik memiliki keindahannya masing-masing. Dalam proses pelabelan musik bagus atau jelek, sebenarnya berdasar pada penilaian subjektif yang berakar dari selera dan preferensi masing-masing yang terkonstruksi oleh pengetahuan estetik yang dimiliki”

Jika ditanya siapa yang paling berhak untuk menilai musik, saya akan sangat setuju jika jawabannya adalah semua orang. Ya! Semua berhak menilai musik terlepas dari apakah musik tersebut adalah musik yang baik atau buruk. Mengapa? Karena saya yakin bahwa setiap manusia merupakan seorang pengkritik dan sifat mengkritik tersebut sudah menjadi sifat inheren manusia semenjak terlahir di bumi ini. Manusia juga terlahir untuk memiliki jiwa seni dan bisa menentukan juga mana yang ia suka dan tidak.

Setidaknya menurut saya sih terlepas dari benar atau tidaknya. Poin dimana manusia memiliki kemampuan mengkritik dan memahami seni mana yang menurutnya kampung, mana yang tidak, dan itu lah yang membuat saya bisa mengatakan bahwa semua orang yang mendengar musik, memiliki hak untuk menilai musik. Tidak memandang apakah orang itu kaya-miskin, laki-perempuan, semua memiliki hak yang sama dan tidak ada yang salah dalam menilai musik, toh hampir sebagian besar musik memang diciptakan untuk diinterpretasi-kan oleh masing-masing pendengarnya.

Sebetulnya menilai sebuah musik bukan hanya masalah selera, suka tidak suka, tetapi menilai musik yang baik adalah memahami fungsi dari musik itu sendiri, latar belakang dari artis  tersebut,  dan  juga untuk siapa musik tersebut ditujukan. Ketiga faktor utama tersebutlah yang membuat penilaian terhadap suatu musik tertentu tidak lah semudah membalikan telapak tangan. Menilai musik yang ideal merupakan sesuatu yang cukup rumit. Yang jadi masalah di sini adalah kapasitas seseorang dalam menilai musik tersebut atau sebesar apakah dampak penilaian musik orang tersebut terhadap selera musik seseorang, atau sikap dan cara pandang seseorang terhadap musik itu sendiri.

Seperti contoh berikut yang saya dapatkan dari bukunya kang Idhar, ketika Rolling Stone Indonesia yang membahas fenomena pop-melayu pada edisi bulan Maret 2009. Walaupun ketika itu pop-melayu memiliki kesuksesan komersil yang sangat besar, Rolling Stone Indonesia tetap menganggapnya sebagai musik dengan estetika yang ‘nol besar’ dan dianggap sebagai kemunduran industri musik Indonesia.

Berbeda ketika mereka ‘mengagung-agungkan’ grup band Sore dan Efek Rumah Kaca yang bisa menyelamatkan industri musik Indonesia dari dekadensi. Dengan besarnya nama Rolling Stone dengan pembacanya, yang masif dan banyak jurnalis-jurnalisnya yang juga merupakan sosok besar dalam industri musik Indonesia, akan semakin membuat yakin para pembacanya bahwa musik melayu merupakan musik pembawa ‘petaka’ untuk industri musik. Dalam teori komunikasi, fenomena tersebut yang dikatakan McLuhan sebagai “The medium is the message”.

Jadi  sebenarnya sah-sah saja orang-orang menilai sebuah musik atau selera seseorang dengan istilah ‘kampungan’, ‘jelek’, ‘musik autis’, dan sebutan negatif lain. Namun, alangkah lebih baik lagi jika kalian menilai sebuah musik setelah melihat jauh kedalam musik tersebut dengan berbagai sudut pandang, karena setiap penilaian kalian terhadap sebuah musik terlepas dari baik atau buruk nya musik tersebut terpatri dalam pikiran orang-orang yang mendengar kritikan kalian tersebut. Lalu, tidak menutup kemungkinan untuk menggiring opini orang-orang tersebut untuk mengatakan penilaian yang sama dengan kalian.

Nah, setelah membaca tulisan ini coba anda pikirkan kembali, siapa nih yang kampungan? Pendengarnya, musiknya, atau kita semua? Selain itu, coba kalian nilai jika saya mengatakan bahwa saya suka lagu “Suara Ku Berharap” ciptaan Hijau Daun, padahal saya juga dibesarkan dengan lagu-lagu ‘keren’ seperti The Beatles, Led Zeppelin, The Beach Boys, The Kinks, maka apakah selera saya tersebut kampungan atau keren?

Tags:
Abyan Hanif

Lahir di kota Kembang. Penulis amatiran. Full-time nankring, Part-time kuliah. Sporty abis. Bobotoh.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *