LOADING

Type to search

Si Pihak Netral yang Paling Kritis dan Keren

COLUMN FEATURED

Si Pihak Netral yang Paling Kritis dan Keren

Naufal Malik 30/12/2018
Share

Ilustrasi oleh Pininta Taruli

Penghujung tahun 2018 adalah saat-saat terakhir untuk dapat menyeruput kuah mie instan sambil menghisap vicks pereda flu di hidung dengan damai, karena tahun selanjutnya pemulung dan pedangang kelontong dekat rumah akan mengenakan baju partai serta beralaskan tikar dari spanduk kampanye. Menarik sekali karena iklan fisik masih dirasa ampuh ketimbang yang tayang di layar monitor saat sedang menonton video-video YouTube.

Kemudian yang paling sialan adalah ketika bertemu teman-teman, terutama teman lama yang sebenarnya keeratan persahabatan itu telah lapuk akibat waktu. Dimulai pertanyaan sederhana mengenai angka mana yang lebih bagus, 1 atau 2? dan yang tidak berbobot seperti PKI atau ISIS? Tentunya lebih baik diam di rumah sambil memikirkan bagaimana mendapat pekerjaan dengan ilmu dan keterampilan yang pas-pasan, wahai kalian para calon sarjana dari universitas tidak jelas! Percayalah untuk menghindari obrolan-obrolan yang memicu perselisihan ini adalah dengan cara memperpendek waktu keluar kediaman.

Atau sebenarnya ada cara lain, cara yang dengan mudahnya dapat meraup simpati dari para siswa sekolah maupun kalangan tidak terpelajar, serta meningkatkan prestis kepintaran yang sebetulnya adalah ilusi belaka. Caranya adalah dengan mengatakan netral atau menjadi golput. Sungguh level kegantengan kalian langsung menyaingi Minke yang ada di Tetralogi Pulau Buru.

Rasanya dengan mengkritisi seluruh pemain politik negeri ini lalu mengkonklusikan ketika berpihakannya pada siapapun adalah jawaban tercerdas bagi para inlander, setelah mengenyam pendidikan ala Eropa di masa ini. Berterima kasihlah kalian pada Partai Liberal Belanda dan Van de Venter yang mengizinkan kalian untuk sekolah! (meskipun tujuannya adalah agar kalian menjadi buruh murah untuk pabrik-pabrik gula yang dimiliki anggota-anggota Partai Liberal Belanda). Berjayalah kalian golongan Gerakan Moral!

Pemahaman akan sejarah akan sangat penting dalam menganalisis kenyataan sekarang karena sungguh suatu akibat itu dilahirkan oleh suatu sebab. Membedah sesuatu tanpa pengetahuan dari masa lalu sama saja dengan mengubur diri di dalam ketidaktahuan, kemudian senang di dalamnya alias ignorance it’s a bliss.

Mari bercerita mengenai Gerakan Moral terlebih dahulu. Pernah ada kebijakan di masa lalu yang berjudul Normalisasi Kehidupan Kampus di era Orde Baru. Mahasiswa yang menjadi mesin utama dalam penumbangan Orde Lama seketika diharuskan steril. Artinya kegiatan-kegiatan yang berbau politik dan menentang kebijakan pemerintah harus hilang. Namun, masalah timbul karena tentunya pemuda-pemuda terpelajar Indonesia terkenal dengan semangat mudanya. Buktinya adalah yang pertama-tama berpikiran untuk mengusir Belanda dan membuat konsep Tanah Air Indonesia adalah para pemuda terpelajar yang akhirnya menjadi konkrit pada tahun 1945.

Kemerdekaan dari kolonialisme dan imperialisme adalah hadiah dari kaum pemuda terpelajar kepada bangsa sebagai bentuk anti tesis dari pendidikan Eropa yang diterapkan di Hinda-Belanda. INGAT kaum pemuda (atau yang bersemangat muda) yang terpelajar, bukan tokoh militer, bangsawan, atau pedagang.

Untuk mengisi kekosongan kegiatan pemuda tersebut, pemerintah Orde Baru kemudian membikin organisasi dan kegiatan untuk menyibukkan mahasiswa. Apabila anda merasa bangga menjadi pengurus acara kegiatan yang bernama dari bahasa Inggris serta menghasilkan untung yang banyak, maka Orde Baru pun akan sangat bangga kepada kalian! Lebih lanjut lagi, agar menumpulkan alas dan dasar perjuangan, Orde Baru membuat sifat-sifat agar kalian kaji.

Perjuangan mahasiswa hanya berlandaskan bahwa ada si jahat, sehingga mahasiswa harus menjadi si baik untuk melawannya. Bahkan sampai-sampai mahasiswa hanya bicara saja kerjaannya tanpa masuk ke sistem jahanam yang bernama politik. Bicara politik itu kotor, tapi sendirinya tidak tahu bahwa memilih jurusan yang sesuai dengan keinginannya saja sudah merupakan politik. Bicara politik itu busuk, tapi enggan untuk mengubahnya. Logika semacam itu menjadikan mahasiswa yang menjadi simbol pemuda terpelajar Indonesia, hanya bermodalkan omongan saja tanpa menyajikan suatu pembenahan maupun menghadirkan kebenaran berdasarkan metode uji ilmiah.

Antipati terhadap politik dan memilih tidak berpihak adalah pilihan yang cerdas bagi rakyat Orde Baru. Dengan begitu, rezim pemerintahan dapat berlaku seenaknya saja karena paling-paling hanya dicap jahat saja oleh mahasiswa yang sedang mengurus event-nya yang terancam defisit.

Soe Hok Gie adalah idaman bagi para mahasiswa idealis karena membela yang benar, tidak tahu bahwa dia adalah seorang anggota Gerakan Mahasiswa Sosialis yang merupakan bawahan dari Partai Sosialis Indonesia, yang saat itu dibubarkan Orde Lama sehingga dia harus anti Orde Lama. Ketika Orde Lama tumbang dan Orde Baru lahir, dia malah kebingungan sendiri, lantas kemudian juga ikut mengkritisi Orde Baru. Lihat kegiatannya apa? Hanya kritik saja terhadap rezim.

Bahkan ketika koleganya diangkat menjadi anggota DPR (yang kemudian menjadi penjilat Orde Baru), Soe Hok Gie menolaknya. Padahal dengan posisinya di pemerintahan dia dapat lebih leluasa untuk melaksanakan “keidealisannya” untuk negeri ini. Kemudian dia diangkat dalam suatu film sehingga membuat pemudi Indonesia basah hanya dengan buku Catatan Seorang Demonstran dan pemuda Indonesia menjadi berusaha puitis (yang sebenarnya bagus cuma terkadang sangat dibuat-buat). Orde Baru bangga dengan mahasiswa model seperti ini.

Jadi bagi kalian yang masih netral dan golput, jangan khawatir karena menurut mantan presiden kita yang kyai itu bahwa golput adalah pilihan. Meskipun begitu, keberpihakan adalah simbol perjuangan yang abadi. Ini adalah seperti tindakan yang sederhana untuk memilih di sisi manakah kita dalam kehidupan ini. Sisi kaum pemodal yang mengendalikan kebijakan republik ini dan sangat senang karena boneka-boneka dalam bentuk pejabat dan petugas partainya tidak diganggu oleh masyarakat, atau sisi kaum marjinal yang sepanjang sejarah manusia menjadi kekuatan utama peradaban namun tidak dianggap dan dimiskinkan oleh sistem hingga saat ini? Itu biarkan akal dan nurani anda yang memilihnya!

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *