LOADING

Type to search

Obsesi dan Escapism Lewat Neon Genesis Evangelion

COLUMN FEATURED

Obsesi dan Escapism Lewat Neon Genesis Evangelion

Share

Ilustrasi oleh Alif Hafizhan

Disclaimer: Ini bukan review Neon Genesis Evangelion, karena me-review Eva bisa dibilang seperti memberi review kitab suci. Tulisan ini lebih ke pengalaman personal penulis dan apa yang penulis alami setelah menonton serial tersebut.

Pada hakikatnya manusia akan selalu mencari pelarian. Mungkin kebanyakan orang akan menambah intensitas kerja, ada juga yang menggunakan kekuatan musik, bahkan tidak jarang yang menambah porsi dan frekuensi makan. Kalaupun itu belum cukup, tidak sedikit yang menenggelamkan dirinya kepada alkohol dan narkoba. Saat itu, pelarian saya adalah Anime.

Sejarah menonton anime buat saya berawal hampir setahun yang lalu, dimana saya sedang berada di dalam lubang keputusasaan yang dalam. Saat itu, bangun tidur terasa seperti buang waktu dan bernafas terasa seperti kesalahan. Banyak menyebut keadaan tersebut dengan “Depresi”, tapi saya ngga mau menggunakan istilah tersebut terlalu sering. Silahkan gunakan pemikiran dan pendapat kalian masing-masing mau menyebut keadaan itu apa, dan mungkin jika kalian benar kalian akan mendapatkan doorprize.

Anyway, saat itu anime menjadi pelarian saya dari realita. Memasuki dunia ajaib sebuah karakter anime, melihat perjuangannya mengatasi semua problematika dan drama di dalam dunia tersebut menjadi ketagihan utama saya. Dari romansa sekolah hingga drama perang, semuanya memberi waktu untuk saya beristirahat dari setan-setan yang sedang menghantui pikiran.

Hingga akhirnya suatu hari saya mencoba untuk menonton sebuah series yang banyak bilang “anime terpenting dalam sejarah”. Sinopsis singkat: anime itu tentang tiga remaja umur 13 tahun yang harus menyelamatkan dunia dari serangan monster dengan menggunakan robot-robot raksasa. Terdengar seperti cerita standar? Memang, jika kita hanya melihat sinopsisnya. Tetapi setelah melewati 26 episode serta satu film layar lebar, serial ini jauh dari kata biasa, dan kata luar biasa pun masih belum bisa menyanggupi kehebatannya.

Even fans of the sci-fi genre who avoid anime altogether have likely heard of Cowboy Bebop and Ghost in the Shell, which were each landmarks of both style and substance. But arguably the greatest and certainly most thematically dense of the three 90’s sci-fi anime masterpieces is Neon Genesis Evangelion.” – Nick Verboon, Unreality Mag (13 June 2013)

Serial ini bernama Neon Genesis Evangelion. Sebuah kisah tragedi dimana sang pemalu kesepian, Shinji Ikari, dibantu oleh Misato Katsuragi, si bocah dewasa, Rei Ayanami, si boneka hidup, dan Asuka Langley, si tsundere super-agresif, harus menyelamatkan dunia dari serangan monster raksasa bernama Angels, sembari memperbaiki hubungannya dengan ayah yang bajingan. NGE menggunakan genre “mecha” yang pada tahun 90-an sedang eksis-eksisnya, merombaknya menjadi sesuatu yang berbeda, dan membawakan cerita filosofikal yang penuh dengan simbolisme kristus, yudaisme, dan juga tema-tema psikologi seperti Hedgehog’s Dilemma karya Arthur Schopenhauer. Bahkan banyak yang setuju bahwa ketiga karakter utama adalah representasi dari teori psikoanalisis kepribadian Sigmund Freud (Asuka sebagai Id, Rei sebagai Super-ego, dan Shinji sebagai Ego yang menyeimbangkan mereka berdua namun sangat bergantung kepada kedua tersebut).

Hingga saat ini Neon Genesis Evangelion tetap menjadi kontroversi terbesar didalam sejarah anime karena sifat terlalu eksperimental-nya, apalagi di fase akhir cerita. Dua episode terakhir dari serial TV nya bisa dibilang hal terabstrak yang pernah tersiar di televisi. Ini karena terlepas dari robot, dari monster, dari organisasi misterius, dan juga dari kiamat yang menanti, NGE di dalam hati nya adalah sebuah cerita personal sang sutradara, Hideaki Anno, dan depresi yang ia alami selama 4 tahun. Saat itu Anno baru saja menyelesaikan Nadia: The Secret of Blue Water, sebuah series yang, walaupun sukses, memecahbelahkan studio Gainax dan membuat mereka rugi besar. Lalu saat itu juga Anno baru saja menyelesaikan Royal Space Force: The Wings of honnêamise yang sayangnya terkenal karena gagal di box office walaupun dipuja-puji oleh kritikus.

Inilah alasan terlahirnya karakter Shinji Ikari, seorang protagonist yang selalu gagal dalam melakukan sesuatu. Dibenci oleh banyak penonton namun sebenarnya adalah alasan terbesar NGE menjadi sebuah legenda, Shinji Ikari tidak seperti jagoan lainnya: tampilannya standar bahkan bisa dibilang culun, enggak punya kekuatan khusus, bahkan enggak ingin menyelamatkan dunia. Apa yang dia inginkan? Perhatian dan kehangatan orang-orang disekitarnya. Shinji Ikari adalah seorang bocah yang kesepian dan hanya ikutan NERV karena dia tidak punya tujuan lain. Yang dia lakukan hanyalah mengeluh, teriak, dan menangis. Bahkan saking terkenalnya teriakan tersebut (berkat voice acting yang luar biasa dari Megumi Ogata) sampai-sampai ada yang membuat video kompilasinya di youtube.

Namun, untuk kebanyakan orang yang pernah merasakan depresi, termasuk Hideaki Anno dan saya, Shinji Ikari adalah sebuah simbol. Ini adalah protagonis yang paling bisa kita hubungkan dengan diri kita secara emosional. Sejalannya cerita, kita akan melihat Shinji melawan setan-setan didalam dirinya dengan seluruh dunia menjadi tanggungannya. Ending dari cerita NERV melawan para Angels adalah sesuatu yang sebenarnya tidak penting, karena yang penting bagi Anno adalah bagaimana Shinji melawan depresinya.

Dari awal menonton saya langsung bisa mengkoneksikan diri saya kepada bocah culun ini dan merasakan apa yang dia rasakan di setiap jalannya. Bagaimana dia mengeluh, mengeluh, terus mengeluh lalu kabur dari tanggung jawabnya menaiki Eva, bagaimana dia selalu bergantung kepada Asuka sebagai objek pemuasan kesepian dan juga seksualnya, bagaimana dia sangat mendambakan kasih sayang dan akan jatuh cinta pada siapapun yang memberi dia kasih sayang tersebut, dan bagaimana dia sudah menyerah dengan semua orang disekitarnya dan juga dengan dirinya. Semua hal ceroboh yang dia lakukan terasa lebih masuk akal buat saya dibandingkan dengan protagonis utama lainnya. Saat ada adegan dimana dia berbicara dengan karakter-karakter lain di pikirannya, rasanya seperti karakter-karakter tersebut juga sedang menasihati saya dan meminta saya untuk merubah cara berpikir saya yang destruktif. Shinji Ikari adalah saya, dan saya adalah Shinji Ikari.

Itu adalah alasan terbesar obsesi saya terhadap Neon Genesis Evangelion. Itu, dan juga karena banyak alasan lain seperti sinematografi dan animasi yang luar biasa, narasi yang padat dan brilian, karakter-karakter yang berkembang dengan baik, soundtrack nya yang sekarang sudah menjadi klasik, scene Third Impact di dalam The End of Evangelion yang menurut saya scene terbaik dalam seluruh sejarah film dan animasi, dan tentunya ya… Asuka Langley Sohryu.

Membicarakan Neon Genesis Evangelion tidak ada hentinya buat saya. Ia menyentuh saya seperti seorang kekasih yang memeluk saya saat saya sedang telanjang menangis. Dengan segala ketulusan hati dan tanpa kelebayan, saya disini benar-benar menyatakan bahwa Neon Genesis Evangelion merubah hidup saya. Disaat semua orang menganggap saya hanya “malas” dan “berlebihan”, Ia menuntun saya keluar dari lubang keputusasaan yang dalam dan menunjukan bahwa lubang itu sebenarnya hanya ada di dalam pikiran saya yang rusak. Menyedihkan ya dimana sebuah animasi televisi bisa lebih memberi bantuan dibandingkan orang-orang dekat saat itu.

Eva secara tidak langsung menceritakan pengalaman saya yang gelap setahun yang lalu, hanya saja lebih estetik dan megah. Dan mungkin saja, mungkin, kenapa saya selalu mengajak teman-teman untuk ikut menonton Neon Genesis Evangelion adalah permohonan tolong saya untuk memahami diri saya dan pengalaman yang sudah saya alami.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *