LOADING

Type to search

One Hour Set Vol. 5, The Paps: “Reggae Gak Harus Merah Kuning Hijau!”

EVENT FEATURED

One Hour Set Vol. 5, The Paps: “Reggae Gak Harus Merah Kuning Hijau!”

Defta Ananta 21/08/2018
Share

Foto oleh Mahawar Randu

Dua hari setelah peringatan hari kemerdekaan , 19 Agustus 2018 menjadi tanggal yang dipilih oleh tim dari One Hour Set untuk menggelar hajatannya yang telah memasuki edisi kelima. Hajatan bulanan yang diadakan oleh kawan-kawan dari Lou Belle dan Junks Radio ini nampaknya telah menjadi salah satu ibadah bulanan rutin yang sayang untuk dilewatkan. Bagaimana tidak? Antusiasme tinggi penikmat musik di Bandung merespon edisi kelima One Hour Set dengan memborong habis tiket yang dijual. Masih dengan konsep yang sama dan sangat esensial yaitu menawarkan aunthentic experience dalam keintiman musisi dan audiens yang “tanpa jarak”  membuat One Hour Set menjadi entitas showcase unik yang memiliki dampak nyata terhadap bagaimana seharusnya musik dikonsumsi secara layak.

Untuk kali ini giliran The Paps yang menjadi bintang utama di edisi kelima. Unit reggae / dub kebanggaan kota Bandung kembali mengambil perhatian setelah vakum cukup lama. Untung saja saya tidak terlambat untuk menyaksikan band yang dulu lagu-lagunya selalu saya dan teman-teman nyanyikan ketika nongkrong saat masih duduk di bangku SMP hingga SMA. Sebelum The Paps menyita atensi penonton, kali ini ada Nisu yang bertugas untuk membangun ambience / mood penonton dengan memutarkan lagu-lagu disco dub.

Kalau tidak salah tak lama setelah Nisu mengajak telinga pengunjung “berkelana” di alam disco dub, The Paps langsung bersiap untuk menyapa seluruh pengunjung yang datang di hari itu. Seperti biasa sebelum konser selalu dibuka dengan sesi Tanya-jawab yang kali ini dipimpin oleh kawan kami Tomo dan Lazu dari Junks Radio. Roman-roman nostalgia mulai terasa karena jujur terakhir kali saya menyaksikan The Paps adalah saat saya masih duduk di bangku SMA (dan sekarang sudah jadi mahasiswa tingkat akhir hahaha..). Sesi Tanya-jawab pun berlanjut, saat itu ada satu statement yang terngiang di kepala saya; “Reggae gak harus merah, kuning, hijau! Itu Cuma masalah persepsi!” kurang lebih seperti itulah statement yang dilontarkan Dave. Yang menjadikan statement tersebut menarik adalah adanya suatu hal yang disiratkan oleh para personil The Paps bahwa mereka mencoba untuk mematahkan konsep identitas dan pengertian musik reggae yang tidak sesempit penggunaan warna belaka.

Setalah asik mendengarkan sesi tanya-jawab yang diselingi oleh humor, akhirnya sudah waktunya bagi The Paps untuk menyalakan api semangat para pengunjung. Penantian saya selama bertahun-tahun akhirnya akan terbayarkan. Lagu pertama pun dimainkan dan reaksi pengujung pun mulai hanyut dalam godaan untuk melakukan dansa kecil mengikuti alunan lagu. Saya masih berdiri di samping crowd utama dan masih menunggu momentum untuk terbawa hanyut dalam suasana, namun sayang momentum tersebut hanya datang di beberapa lagu saja seperti Sementara, When We Meet Again, dan Perlahan Tenang. Entah mengapa saya secara pribadi merasa kalau penampilan The Paps kali ini tidak terasa seperti penampilan mereka yang saya ingat. Walaupun jika melihat antusiasme penonton yang selalu ikut bernyanyi dari awal sampai akhir tetap saja rasanya seperti ada yang kurang.

Dari segi teknis audio suara dengungan (noise) sering terdengar dan beberapa diantaranya cukup mengganggu. Dari segi kesiapan The Paps sendiri saya merasa sepertinya mereka tidak memiliki waktu yang cukup banyak untuk mempersiapkan set untuk tampil malam itu. Walaupun saya mungkin terdengar seperti seseorang yang sok ngerti soal musik, akan tetapi perasaan yang rasakan malam itu tidak hanya dimiliki oleh saya seorang. Setidaknya ada beberapa orang yang saya tanya perihal penampilan The Paps pada malam itu, dan rata-rata mereka semua sepakat bahwa seperti ada yang kurang entah dari segi live production-nya, kesiapan para personil The Paps, atau mungkin faktor feng shui di hari itu yang kurang mendukung.

Terlepas dari kekecewaan kecil saya, secara umum saya setuju untuk mengatakan bahwa The Paps telah sukses mengobati rasa rindu para audiens yang sudah lama tidak melihat Dave dkk beraksi diatas panggung. Dan reaksi penonton yang dapat saya ingat adalah dari awal sampai berakhirnya konser tersebut, mereka tidak pernah lelah untuk ikut bernyanyi bersama dengan The Paps. Sungguh sebuah pengalaman tersendiri bagi saya. Walaupun saya tidak selalu ikut bernyanyi, namun melihat hubungan timbal balik antara musik dengan manusia yang menciptakan suatu budaya apresiasi yang organic membuat saya terpesona. Dengan hilangnya “ruang pemisah” dan nuansa keintiman yang ditawarkan dalam acara ini menurut saya masih menjadi suatu formula nan apik untuk menjembatani hubungan antara musisi dan audiens agar lebih friendly dan humanis.

Akhir kata, One Hour Set Vol: 5 enakeun shay!!

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *