LOADING

Type to search

Persiapan Fat Velvet Menuju Ontologi Dedes: Meradang dan Berdamai dengan Masa Silam

EVENT

Persiapan Fat Velvet Menuju Ontologi Dedes: Meradang dan Berdamai dengan Masa Silam

INCOTIVE 26/02/2019
Share

Foto: Raka Dewangkara

“Wanita itu Dewa

Wanita itu Kehidupan

Wanita itu Perhiasan.”

—Ontologi Dedes

Pada Sabtu malam, 25 Februari 2019, Incotive berkunjung ke Jl. Buah Batu No. 22, lantai 2 Gedung Fakultas Seni Pertunjukan untuk meliput “Mentoring Fat Velvet bersama Rama Soeprapto & Tim Ruang Kreatif Djarum Foundation” dalam persiapan pertunjukan seni “Ontologi Dedes” yang akan diadakan pada tanggal 2 Maret 2019 di Galeri Indonesia Kaya.

Dalam rilis pers yang ditulis oleh Mohamad Chandra Irfan, menyatakan bahwa Ontologi Dedes adalah gambaran peristiwa masa kini. Di mana perempuan tetap berada dalam bayang-bayang kesakitan masa silamnya. Ia berusaha keluar, tapi selalu saja tertinggal dan pudar. Ia berusaha pergi dari dominasi laki-laki, tapi akhirnya ia mesti hidup dan mati berkali-kali di bawah langkah laki-laki yang kerap mencekik imajinasinya: aktualisasi diri. Sebelum akhirnya ada stigma baik dan buruk, di dalam diri Dedes keduanya saling berdampingan. Hasrat tidak lagi dibuat berkarat. Tapi bagi Dedes hasrat adalah sebuah martabat. Kemudian Ken Arok dan Tunggul Ametung muncul sebagai kapak yang akhirnya menciptakan darah yang basah. Tak ada lagi kedamaian—Dedes kemudian dibenamkan pada ujung kaki Tunggul Ametung dan Ken Arok yang mesti dibasuh dengan tangannya yang sudah lusuh.

Fat Velvet pada garapan Ontologi Dedes, mencoba menatap perempuan dengan kacamata plus sekaligus minus. Keduanya akan dipasang di atas mata yang rabun jauh dan rabun dekat. Tapi keduanya akan ditampilkan secara bersamaan dengan tanpa melakukan justifikasi antara baik dan buruk. Atau antara yang iblis dengan yang malaikat. Keduanya senantiasa tumbuh dalam diri manusia. Keduanya saling menyangga. Tidak saling menegasi.

Garapan Ontologi Dedes ini banyak menciptakan capture-capture di atas layar hitam. Pantulan capture dari ujung proyektor menyisakan banyak peristiwa. Kemudian menjadi satu tanda melajunya peristiwa. Antara masa silam dan masa kini saling berebut tempat di atas kain hitam. Dari zaman kerajaan sampai ke kaum kota urban saling bertindihan. Lewat Ontologi Dedes, kita akhirnya diajak jalan-jalan melihat kembali persoalan sebagai sebuah tabungan gagasan dan lebih jauhnya sebagai tindakan.

View this post on Instagram

“Ontologi Dedes” oleh Fat Velvet adalah karya seni performans yang mengintegrasikan disiplin teater dan tari dengan kostum, instalasi interaktif, proyeksi visual dan live music scoring. Bercerita tentang dualitas kepribadian dari sosok Ken Dedes, pertunjukkan ini merupakan bagian dari rangkaian program Ruang Seni Pertunjukkan oleh Galeri Indonesia Kaya, Garin Workshop, dan Djarum Foundation. . Pertunjukan “Ontologi Dedes” akan dilaksanakan pada Hari Sabtu, 2 Maret 2019 pukul 15:00 WIB di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, DKI Jakarta. Anda dapat melakukan reservasi melalui tautan yang tertera pada bio instagram @fatvelvet atau langsung di www.indonesiakaya.com. Petunjuk dan keterangan lebih lanjut sila cek instagram kami, atau hubungi +62 878-8612-6996 (Hanum) . . didukung oleh @ruang.seni.pertunjukan @indonesia_kaya @garinworkshop @tantrabali_ @kmt_isbibdg @exsportbags @tauziahotels @theytalkabout @fcm.indonesia @iamnotasunflower @basedclub @vearstjeans @incotivecom @manualjakarta @junksradio_ @ceritaperempuan.id @rumahkedua.media @8lightment @spektakel.id @now_jakarta www.fatvelvet.id Dukung kelanjutan proyek ini di www.kolase.com/ontologidedes. #DualitasDiri #OntologiDedes #ByFatvelvet #RuangKreatif2018

A post shared by Fat Velvet (@fatvelvet) on

 

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *