LOADING

Type to search

Opini Maha Benar

COLUMN FEATURED

Opini Maha Benar

Naufal Malik 26/01/2018
Share

Ilustrasi: Nadhif Ilyasa

Sebagai catatan saja di awal, opini saya ini belum tentu benar dan sangat amat subjektif. Jadi daripada kalian membaca sesuatu yang kurang baik lebih baik menjauh saja. Adapun mengapa tulisan ini diterbitkan semata-mata agar saya terlihat kerja oleh rekan-rekan di tim redaksi. Tanggung jawab saya menjauhkan kalian dari hal yang mudharat nan munkar telah terhapus.

Belakangan ini kepala saya terasa sakit ketika melihat berbagai kolom opini dan komentar rakyat jelata kebanyakan kuota, tentunya karena saya sedang sakit flu. Jajaran pemuda-pemudi kritis yang didukung segmen demografi “young adult” berusaha mencerahkan kita-kita para penikmat teknologi kafir Amerika bernama internet. Dari kisah pilu pengemudi ojek online, tata krama “generasi millennials” yang dicap pemalas, sampai gema toleransi dengan membawa dasar falsafah negara seakan-akan mereka sohibnya Soekarno. Kejadian ini terus berlanjut yang tentunya penulisnya itu lagi dan menginspirasi yang lain untuk mengikutinya sehingga semakin lama konten-konten suplemen kebodohan tergerus dengan tulisan cerdas dan berani ini.

Saya sendiri bukan orang yang senang berpikir, lebih baik melihat persembahan Metallica untuk Iwan Fals dibanding mengamati dekadensi moral generasi penerus bangsa. Tapi sialnya konten-konten itu selalu saja tayang di layar ponsel saya. Mereka menulis dengan rasa tidak takutnya terhadap pendapat mayoritas dan penguasa untuk menegakkan keadilan, tapi mereka lupa kalau ada kaum seperti saya. Adilkah saya yang ingin bodoh untuk dicekoki tulisan kritis? Efeknya adalah beberapa teman saya yang bertipe sama sekarang menjauhi dari aplikasi umum wadah tulisan penerus Tan Malaka dan mengunduh aplikasi jejaring sosial yang terkenal di dunia om-om bejat pelanggan setia pijat ++ untuk mencari pemudi Open BO.

Setelah masturbasi sambil mandi tadi siang, saya pun merasa penasaran dengan orang-orang ini. Lagi-lagi saya malas berpikir jadi saya cari saja di internet (karena internet sumber kebenaran apalagi situs Facebook) dan kebetulan mendapat bahan untuk menjelek-jelekkan kelompok opini benar ini.

Mulai dari si orang Jerman, Nietzsche, mengatakan bahwa manusia dapat dikategorikan menjadi dua yakni “Higher Being” yaitu orang-orang yang hebat dalam pemahaman dirinya dan berpotensi untuk memajukan umat manusia di masa depan, dan “Herd” yang singkatnya adalah orang biasa. Tentunya yang dikategorikan sebagai Higher Being memiliki jumlah yang sedikit ketimbang Herd sehingga membuat mereka “unik dan berbeda” dibanding mayoritas. Sialnya Herd yang tidak memiliki kemampuan menghadapi lika-liku duniawi tidak menerima kenyataan bahwa diri mereka cuma orang biasa kemudian membenci Higher Being dengan menggunakan dua kekuatan terbesar mereka, rasa cemburu yang memaksa prinsip persamaan (equality) dan banyaknya massa yang mudah dipengaruhi. Dampaknya adalah orang-orang dalam kategori Higher Being dikucilkan dari masyarakat Herd atas nama moral bahwa tidak ada manusia yang lebih dari manusia lainnya. Mudahnya bayangkan teman kuliah anda mendapat nilai D sedangkan anda dan yang lainnya mendapat A, lantas dia menghubungi group chat angkatan menanyakan nomor dosen lalu menganggap kalau dia diperlakukan tidak adil dan berakhir menulis dengan nama anonim tentang dia yang telah belajar mati-matian kalah oleh anda yang kerjanya gossip saja setiap harinya. Oh ya, dan sebagai bumbu penutupnya si gagal ini menghibur dirinya dengan mengatakan “IPK tidak berpengaruh terhadap kesuksesan.”

Hubungannya dengan penulis-penulis kritis yang disinyalir agen Zionis Yahudi oleh beberapa kelompok masyarakat adalah mereka menjadi Higher Being karena berani bertindak (mengetik keyboard/keypad) melawan ketidakadilan mayoritas dan bersama-sama membangun gerakan yang dengan enaknya menggunakan kata ‘toleransi”. Tapi asumsi ini agak kurang meyakinkan karena dimanakah Herd sebagai musuh alaminya? Karena nyatanya setelah minum 6 butir Panadol sekaligus agar kuat menjelajahi kolom komentar yang penuh dengan display picture anime, anime berhijab, artis timur asing, dan gambar-gambar lucu yang membuat perut WARGANET sakit (karena memang tidak lucu); saya melihat mayoritas mendukung opini tersebut. Kemudian saya berpikir dua kemungkinan yaitu antara kelompok Herd yang saking gagalnya dalam hidup tidak bisa membeli paket murah kuota 4G yang ditayangkan pada papan iklan di jalan raya maupun televisi, atau, karena saya ingin menjelekkan mereka, justru si penulis ini lah agen dari kaum Herd dan berusaha menghipnotis masyarakat untuk memperjuangkan persamaan?

Temuan saya berikut adalah tentang bias, karena saya adalah pengidap bias paling bias (?). Saya membaca mengenai “Dunning-Kruger effect” yang kurang lebih disimpulkan dengan kalimat bahasa londo:

“…when people are incompetent in the strategies they adopt to achieve success and satisfaction, they suffer a dual burden: Not only do they reach erroneous conclusions and make unfortunate choices, but their incompetence robs them of the ability to realize it. Instead, …they are left with the mistaken impression that they are doing just fine.”

atau dalam bahasa saya adalah “Orang bodoh yang saking bodoh dirinya tidak sadar dia bodoh.” Bukannya saya mengatakan mereka ini bodoh, tapi lebih ke arah apakah mereka sadar kalau kebanyakan orang pun sudah mengerti dan mempraktikkannya di kehidupan sehari-hari hal-hal yang kalian kemukakan bahwa rakyat Indonesia tidak sadar? Memang benar kebanyakan dari kita kurang pendidikan sehingga dengan mudahnya terkena “Bandwagon effect”, tetapi banyak juga yang bisa dikatakan manusia modern sesuai standar masa sekarang dengan buktinya adalah semakin banyak masyarakat ekonomi kelas menengah menurut Bambang Brodjonegoro saat berorasi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Berita yang sama pada situs terpisah memuat Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional ini mengatakan kelompok kelas menengah ini sadar dan berkegiatan politik pula sehingga di masa depan politik Indonesia akan ada berada di tangan masyarakat kelas menengah ini.

Kesimpulannya adalah saya berpendapat kurang tepat bagi para penulis kritis ini untuk menyajikan karyanya kepada demografi masyarakat kelas menengah yang kebanyakan telah paham berpolitik dan berpendidikan cukup. Saya sendiri pun demikian, orang yang terlalu banyak beropini tapi bedanya saya jarang berpikir, sehingga saya menyajikannya tepat ke anak muda yang merupakan target pasar utama dari media ini. Jangan sampai kalian pemuda-pemuda kritis akhirnya menjadi sakit kritis karena mengira selain daripada kalian manusia yang tidak kritis. Sebagai penutup saya ucapkan terima kasih kepada kalian karena memberi saya inspirasi untuk menulis. Salam olahraga!

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *