LOADING

Type to search

Penerimaan Diri yang Personal dan Emosional dari Oscar Lolang, “Melodies”

DAILY FEATURED

Penerimaan Diri yang Personal dan Emosional dari Oscar Lolang, “Melodies”

Share

Bayangkan kamu sedang berbaring di kasurmu, menatap langit-langit kosong yang terasa begitu berjarak. Perasaanmu campur aduk dan tanpa sadar hari sudah kembali sore tanpa kamu melakukan apapun. Waktu lagi-lagi telah mendahului kesadaranmu sehingga saat kamu berkaca di cermin, rupamu sudah jauh berubah sejak 10 tahun lalu ketika kamu bercermin sebelum pergi sekolah.

Kamu berjalan menuju tumpukkan barang-barang usangmu di ujung kamar dan menemukan album foto yang sudah berdebu karena tidak disentuh selama bertahun-tahun. Dalam album tersebut, kamu menemukan foto masa kecilmu bersama saudara-saudara dan orang tuamu yang sedang asyik bermain di pekarangan rumah. Air mata perlahan mengalir di pipimu, bukan karena kamu sedih, bukan pula karena kamu bahagia. Kamu akhirnya menghela nafas sembari menutup album foto dan tersenyum.

Narasi di atas adalah visualisasi dari perasaan saya ketika mendengarkan single terbaru dari Oscar Lolang bersama The High Temples berjudul “Melodies” yang dirilis pada 20 April kemarin. Lagu dimulai dengan dentuman drum yang lembut diiringi petikan gitar yang manis. Seperempat lagu berlalu, alunan biola dari Estu Hning masuk menambah kesan dramatis dan emosional.

Pada tiga perempat lagu, musikalitas dan vokal Oscar menjadi lebih intens. Backing vokal yang kemudian lantang bergema melantunkan “Don’t stop the melodies” membuat lagu terasa kian megah dan klimaks. Dinamika musikalitas yang disajikan dalam lagu ini membuat kesan suatu pengalaman utuh dari perjalanan yang memuaskan.

Dibanding album “Drowning in a Shallow Water”, saya sama sekali tidak menemukan sisi pretensius atau upaya trying so hard. “Melodies” layaknya single “Bila” terasa jujur dan sepenuh hati. Lirik retrospektif yang sangat personal diambil dari kisah perjalanan hidup seorang Oscar Lolang justru terasa begitu intim dan relatable tanpa harus alih-alih mencoba merangkul pendengarnya dengan pemilihan diksi yang umum.

Dalam segi lirikal, Oscar membawa narasi penerimaan diri menuju spektrum yang berbeda. Ia tidak perlu menjadi Kunto Aji yang seolah menjadi kakak yang pengertian, atau Baskara (Hindia) yang seakan menjadi teman sedihmu. Oscar hanya perlu menjadi Oscar yang bernyanyi tentang Oscar untuk menyentuh hati para pendengarnya. “Melodies” menjadi secercah cahaya di tengah kegelapan masa pandemik ini. Good work Bung Oscar dan rekan-rekan The High Temples, don’t stop the melodies!

Tags:
Ferdin Maulana Ichsan

Penulis dan Editor Incotive sejak 2016. Manager dari band Dream Coterie. Pernah berkontribusi dalam Spasial, Norrm, Whiteboard Journal, dan PVL Records.

  • 1

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *