LOADING

Type to search

Pembuktian Kualitas Film Bumi Manusia atas Skeptisme Pembaca Novel

FEATURED SELECTION

Pembuktian Kualitas Film Bumi Manusia atas Skeptisme Pembaca Novel

INCOTIVE 31/08/2019
Share

Teks oleh Husna Rahman Fauzi
Ilustrasi oleh Rafii Mulya

“Film adaptasi Bumi Manusia cukup baik. Seluruh isi cerita digambarkan cukup ringkas tanpa memotong isi dan makna cerita”

Saya beranjak pergi dari tempat saya membaca, sebuah gubuk di pojokan kampus yang saya beri nama “Gudang Sarinah”. Saat itu muka saya kusut, dada saya berdebar dan saya tak henti-hentinya menelan ludah yang mengganjal di kerongkongan.

Gambaran itulah yang saya ingat setelah saya menutup lembar terakhir tetralogi buru karya Pramoedya Ananta Toer. Itu sudah dua tahun yang lalu. Menyedihkan memang, cerita anak bangsa yang satu ini.

Bumi Manusia, buku pertama sebelum “Anak Semua Bangsa”, “Jejak Langkah” dan “Rumah Kaca”. Sejujurnya saya memiliki alasan-alasan khusus mendewakan buku ini yang membuat saya jadi amat pesimistis, bahkan jadi seorang yang brengsek serta tidak adil sejak dalam pikiran saat saya mendengar Bumi Manusia akan diangkat ke layar lebar.

Semakin buruk lagi, film tersebut akan disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Bagaimana dengan Minke, tokoh utama dalam Bumi Manusia yang akan diperankan oleh idola anak muda zaman sekarang, Iqbal? Pikiran saya semakin kalut saja.

Ternyata bukan saya sendiri yang merasa demikian. Suasana tongkrongan saya saat itu juga kalut, di tengah hisapan rokok yang terus mengepul, setiap orang berpendapat betapa akan jeleknya film tersebut.

Bagaimana mungkin Iqbal yang rupawan dapat memerankan Minke dan mendapatkan Chemistry-nya? Bagaimana dengan imajinasi tentang Annelies, perempuan keturunan Indo Belanda yang aduhai rupawan, menyenangkan, polos dan hangat yang sampai-sampai saya impikan tiga kali berturut-turut. Oh Bunga Penutup Abad, begitu malang nasibmu.

Lampu bioskop padam, layar besar menampilkan logo elang bertuliskan Falcon Pictures dan sejurus kemudian film diputar. Adegan pertama yang tampil sama persis dengan yang berada dalam novel, dan saya mulai terkagum-kagum, terutama pada setting pondokan tempat Minke tinggal.

Dominasi warna kuning dan hijau langsung mengingatkan saya pada cover buku “Bumi Manusia”. Setting-an tempat dan gambaran Surabaya pada zaman tersebut juga cukup menarik. Efek CGI yang tidak berlebihan menjadi estetika tersendiri dalam film.

Kostum yang sempat menjadi perdebatan di sosial media setelah teaser nya keluar, dapat saya maklumi. Sebenarnya poin penting karena merepresentasikan sejarah, namun saat menonton saya tidak terganggu, biarpun kostum tersebut banyak yang tidak sesuai. Biarkan masalah kostum menjadi bahan evaluasi untuk produser film selanjutnya agar lebih baik dalam membaca dan memperdalam referensi.

Saya mulai larut dan masuk pada cerita dalam film, semua yang sudah saya lupakan dipaksa keluar oleh ingatan, dan saya mulai mencoba mencocok-cocokan setiap adegan dan makna cerita serta mulai membandingkannya dengan apa yang ada dalam novel.

Film adaptasi ini cukup baik, setidaknya menurut saya yang telah membaca versi novel. Seluruh isi cerita digambarkan cukup ringkas tanpa memotong isi dan makna cerita. Cerita tentang kehidupan pribumi yang dihimpit oleh aturan kolonialisme tergambarkan dengan jelas lewat adegan-adengan kecil seperti penggunaan bahasa, dan pelarangan masuk ke sebuah tempat tanpa melepas alas kaki.

Semangat perjuangan juga digambarkan dengan jelas, setidaknya tentang keseluruhan inti cerita bahwa perjuangan bangsa Indonesia serta konflik-konflik yang menyertainya berasal dari sebuah goresan pena.

Hal ini mengingatkan saya terhadap pendapat Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus yang berkata bahwa manusia bertindak dan percaya pada tulisan dan kertas-kertas daripada kondisi objektif. Hal ini dibuktikan dalam film ini dimana masyarakat pribumi mulai bergerak karena membaca tulisan Minke dan pengadilan Eropa yang tidak mau mengakui dokumen Pengadilan Agama karena tidak sesuai dengan aturan kolonial.

Oke cukup membahas tulisan, lalu kenapa banyak orang meragukan Iqbal pada awalnya? Sosok Iqbal sama sekali tidak ada dalam bayangan setiap pembaca buku Bumi Manusia. Ya, walau akhirnya saya mengakui kekeliruan saya. Iqbal bermain cukup baik dan dapat memberikan sedikit senyuman pada wajah setiap orang yang menonton, namun benar-benar tidak memiliki pengkhayatan.

Hal ini kemudian dibuktikan pada Adegan saat Minke mengetik tulisannya. Berharap akan menjadi adegan epic seperti dalam film The Words, hasilnya justru menjadi adegan paling cringe dalam film dan sungguh sebaiknya adegan itu dihilangkan saja.

Chemistry antara Iqbal yang memerankan Minke dengan Eva de Jongh sebagai Annelies cukup membuat saya tenang. Menurut saya cukup seperti itu, karena memang pesan yang ingin disampaikan dalam Bumi Manusia adalah diskriminasi ras, kolonialisme serta stigmatisasi terhadap suatu ras yang lewat tokoh Nyai Ontosoroh alias Sanikem yang diperankan oleh Ine Febriyanti.

Saya harus memberi acungan dua jempol pada Ine yang berhasil membawa tokoh Nyai muncul di layar laca. Semua terasa sempurna membuat emosi penonton naik turun. Bagaimana Nyai tegak berdiri menghadapi pengadilan Pribumi maupun pengadilan Eropa dan bagaimana ia bangga menjadi seorang pribumi.

Terlepas dari itu semua, ada beberapa tokoh yang kurang mendapat fokus dalam film ini, yakni May, anak Jean Marais si Pelukis yang tidak diberi ruang dialog. Padahal dalam novel May adalah anak perempuan yang cerewet dan kritis. Lalu ada Sarah dan Miriam de la Croix yang semestinya melakukan diskusi berat dengan Minke.

Saya bisa mengerti keterbatasan yang berujung pemangkasan, jika film Bumi Manusia direncanakan berlanjut pada ketiga ceritanya yang lain, maka saya harus bicara bahwa akan banyak kekurangan.

Kekurangan-kekurangan dalam film ini juga fatal, salah satunya adalah tentang pertemuan Minke dengan Ayahnya yang dirubah total. Dalam film saya malah mendapatkan kesan lucu. Namun sebenarnya dalam novel adegan tersebut adalah adegan paling sentimental dalam diri Minke karena mengkritisi kebudayaan Jawa.

Pada akhir kata, saya mengerti bahwa ending scene harus menyentuh. Namun rasanya pemilihan lagu Ibu Pertiwi kurang tepat. Air mata saya yang hampir keluar dari kelopaknya, seketika masuk kembali karena lagu yang tidak nyambung.

Film dengan durasi tiga jam ini secara keseluhan cukup membuat semua orang senang. Dalam perjalanan pulang, saya mengingat sambil melantunkan kembali lirik lagu Tirto Adhi Soerjo karya Remy Sylado, inilah riwayat Tirto Adhi Soerjo~, pahlawan pers bangsa Indonesia~  hanya untuk menghangatkan kembali memori tetralogi buru dalam kepala saya.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *