LOADING

Type to search

Pendewasaan Oscar Lolang dari Perspektif Seseorang yang Jatuh Cinta Pada “Bila”

DAILY FEATURED

Pendewasaan Oscar Lolang dari Perspektif Seseorang yang Jatuh Cinta Pada “Bila”

Ferdin Maulana 08/03/2019
Share

Pada sekitar akhir tahun 2015 silam, dimana spotify masih harus dijamah dengan vpn, saya berselancar mencari musik-musik baru untuk menemani saya yang sedang dalam fase transisi young adult. 8tracks, Last.fm, dan Soundcloud menjadi platform untuk memenuhi kehausan saya akan kebutuhan musik baru kala itu. Melalui platform musik tersebut saya menemukan Banda Neira, dimana duo epitome musik bernuansa hujan yaitu Rara Sekar dan Ananda Badudu ternyata satu almamater dengan saya. Setelah mendengarkan beberapa lagu lembut nan sendu tersebut, autoplay soundcloud mempertemukan saya dengan Oscar Lolang. Lagu “Bila” yang terputar saat itu membuat nama Oscar Lolang terus mendengung dalam benak saya.

“Bila” bagi saya hanyalah salah satu dari banyak lagu generik folk dengan sentuhan ballad yang berangkat dari kecintaan seorang musisi pada Bob Dylan, manis dan penuh cinta. Akan tetapi, kali pertama saya mendengar “Bila”, yang diproduksi sangat sederhana lewat self-recording ala mahasiswa di kosan yang berkhayal ingin menjadi musisi itu, tidak membuat saya berhenti menekan tombol replay. Pagi tiba, putar lagu “Bila”. Matahari seperempat tenggelam, putar “Bila”. Malam sebelum tidur, putar “Bila”, sampai overdosis. “Bila” adalah satu materi musik yang bisa diciptakan siapapun. Mr. Sonjaya misalnya, sangat mungkin jadi penemu lagu seperti “Bila”, tapi tentu tidak akan sama jika bukan Oscar yang jadi sang pembawa pesan. Saat Oscar yang menciptakannya, ada suatu spektrum warna yang berdampak pada psikologi saya, saya merasa tenang. Entah pembawaan karakter vokal Oscar yang khas atau karena lirikal cheesy dengan rima yang earworming.

“Bila mentari yang mega

Jatuh di ribaan ku

Bila itu kan ku sampaikan,

Namun tak pantas kerna kau terlalu indah”

Menyusul “Bila”, Eastern man dan Little sunny girl rilis beberapa tahun kemudian, dengan produksi mixing dan mastering yang mulai digandrungi secara matang. Perasaan yang saya dapatkan hampir sama dengan saat mendengar “Bila”. Pesan dan makna yang disampaikan terasa powerful dalam kedua single tersebut, lewat lirik dan melodi yang sinkron memainkan emosi para pendengar. Memasuki tahun 2017, Oscar merilis album perdana Drowning in a Shallow Water. Meskipun materi yang diciptakan semakin dinamis dan kaya akan referensi, dengan teknis produksi yang sangat matang pula, ditambah Eastern man teraduk di dalamnya, hadirnya album ini membuat saya merasa kehilangan. Saya rasa Oscar bukan lagi Oscar yang saya kenal lewat “Bila”, ia menjadi kurang jujur. Oscar yang tadinya adalah ahli pembuat teh Camomile dan Earl Grey panas dalam cangkir kecil yang cantik, berusaha ingin menjadi Cowboy luar angkasa.

Hari Rabu, tepatnya 27 Februari lalu, saya senang bukan kepalang saat Oscar mengumumkan lewat Instagram, bahwa ia telah merilis ulang “Bila” dengan kemasan baru yang ia bungkus bersama The High Temples. Saya merasa sangat nostalgia dan tanpa banyak pikir langsung meng-klik link yang disematkan dalam bio Instagram. Benar saja, hormon serotonin saya mengalir deras. “Bila” versi baru tidak kehilangan nyawanya meski dikemas ulang. Justru terdengar adanya proses pendewasaan yang saya rasakan. “Bila” yang sebelumnya terasa kesepian dengan kocokan gitar akustik dan violin minimalis, kini jadi lebih segar dan megah dengan tambahan instrumen bass, drum, backing vocal dan violin yang selalu setia dibawakan Estu Hning.

Lewat rilis pers, Oscar menyampaikan “Aku merasa nuansa lagu ini kembali relevan dengan kondisiku sekarang,”. “Dulu, lagu ini memang kubuat dan kutujukan untuk seseorang yang kukagumi. Sesederhana itu. Empat tahun berselang, aku telah mengalami banyak hal yang pastinya berpengaruh pada kehidupanku. Beberapa ada yang membuatku marah, sinis, atau kecewa, namun aku selalu bersyukur bertemu orang-orang yang membantuku untuk lebih dewasa. Lalu di satu kesempatan ketika aku kembali benar-benar mendengarkan lagu ini, aku merasa maknanya meluas. Saat itulah aku ingin memberi nafas baru pada ‘Bila’”.

“Ada yang pernah bilang langsung ke aku bahwa mereka suka lagu ‘Bila’. Ada juga musisi yang membawakan ulang di atas panggung. Jujur, aku senang sekali. Padahal ‘Bila’ ini hanya kuunggah di akun Soundcloud pribadi, bahkan sebelum era Eastern Man. Mudah-mudahan, versi baru ini dapat menghibur lebih banyak orang,” sahut Oscar. Betul saja, saya sangat terhibur. Saya ingat pada suatu malam di tahun 2017, saya bertemu dengan Oscar dalam suatu gigs di daerah Setiabudi, Bandung. Di tempat itu menjadi kali pertama saya berbicara langsung dengan Oscar. Hal yang pertama kali saya katakan kepada beliau adalah saya jatuh cinta dengan lagu “Bila” sejak tiga tahun yang lalu, hingga kini masih menjadi favorit saya.

Foto ilustrasi “Bila” karya Dimas Adipraseto yang ditata oleh Dhiwangkara Seta Rachmat, seakan memberi penegasan bahwa adanya pendewasaan dalam perilisan ulang lagu ini. Layang-layang kaya warna yang mengapung di langit kosong yang pudar, saya interpretasikan sebagai perspektif orang dewasa melihat masa lalunya, yang tadinya penuh kesenangan namun kini terasa sepi dan perlahan pudar.

“Bila” versi baru dari Oscar Lolang kini dapat didengarkan di kanal YouTube Microgram Entertainment serta berbagai layanan streaming musik lain-nya. Terima kasih Oscar! Bagi para pembaca, selamat mendengarkan!

 

Tags:
Ferdin Maulana

Penulis dan Ketua Geng Incotive. Suka ngurusin isu eksternal di PVL Records, dan Manager dari band Dream Coterie.

  • 1

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *