LOADING

Type to search

Penegasan Eksistensi Lokatara Melalui Lokatara Music Festival

EVENT FEATURED

Penegasan Eksistensi Lokatara Melalui Lokatara Music Festival

Defta Ananta 02/12/2018
Share

Jumat, 23 November 2018 lalu Ballroom Kuningan City dibuat heboh, bukan karena adanya aksi massa atau pertemuan partai politik. Namun, di hari itu Jakarta kedatangan salah satu musisi yang sering muncul di bagian rekomendasi pada laman YouTube kalian. Tidak lain dan tidak bukan adalah Boy Pablo. Ia menjadi salah satu headliners (bersama dengan Mellow Fellow dan Yung Heazy) dalam acara Lokatara Music Festival yang diadakan oleh salah satu promotor baru dalam industri musik Indonesia, Lokatara.

Saya sengaja untuk datang lebih awal untuk bertemu teman saya yang kebetulan juga ikut mengisi rangkaian penampilan di acara tersebut. Tapi karena satu dan lain hal, acara yang rencananya dibuka pada jam 2 harus mundur hingga satu jam lamanya. Sudah tidak aneh bagi saya untuk datang ke suatu acara yang memang terpaksa mengalami kemunduran jadwal. Singkat cerita, acara pun dibuka oleh band asal Bekasi, Horse Planet Police Departement dan kemudian dilanjut oleh band yang belakangan ini menjadi ‘primadona’ di dunia internet, Dream Coterie. Walaupun saat penampilannya mereka mengalami gangguan teknis pada bagian sequencer-nya, namun di beberapa lagu terakhir mereka kembali tampil dengan baik.

Dream Coterie at Lokatara Music Festival, captured by Peter Rumondor

HPPD at Lokatara Festival, captured by Peter Rumondor

Acara ini juga turut diramaikan oleh nama – nama lain yang juga digadang-gadang sebagai pendatang baru yang menjanjikan seperti Pijar dan Barefood. Waktu pun menunjukan pukul 6 petang, penonton mulai memadati area venue. Selain panggung utama, panitia juga menyediakan beberapa aktivasi lainnya seperti panggung kecil yang secara gamblang disponsori oleh salah satu brand rokok. Ada juga food hall, karaoke box, hingga movie box. Namun, salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah adanya instalasi yang menjelaskan bagaimana Lokatara terbentuk dengan memberikan titik-titik untuk memenuhi kebutuhan konten instagram para audiens. Walaupun di dalamnya tidak memberikan instalasi kesenian yang menggugah saya untuk berkontemplasi, namun strategi perkenalan tersebut cukup menarik untuk saya highlight.

Pijar at Lokatara Festival, captured by Peter Rumondor

Barefood at Lokatara Festival, captured by Peter Rumondor

Setalah puas berkeliling saya kembali ke area panggung utama, kali ini Polka Wars mendapat kesempatan untuk menghangatkan kembali suasana dan menutup penampilannya dengan hits ‘Rangkum’. Kemudian giliran Mondo Gascaro dan Ardhito Pramono untuk melemaskan telinga para audiens. Baik Mondo atau Ardhito keduanya tampil dengan sangat memukau, Mondo tampil dengan memberikan aksen-aksen baru di dalam lagu-lagunya, saya juga melihat garda terdepan ANOMALYST, Kurosuke, yang turut membantu live set Mondo Gascaro. Sedangkan Ardhito memainkan nada-nada jazzy yang cukup untuk membuat audiens wanita meleleh dengan penampilannya. Setelah itu ada Rice Wine salah satu pengisi internasional dalam acara ini, penampilannya menutup sesi ‘santai’ Lokatara Festival. Tidak ada yang spesial dalam penampilan Rice Wine menurut saya minimnya interaksi audiens ditambah kualitas sound yang terbilang agak menurun dari penampil-penampil sebelumnya, membuat saya menyayangkan penampilan mereka.

Polka Wars at Lokatara Festival, captured by Peter Rumondor

Kurosuke playing with Mondo Gascaro at Lokatara Festival, captured by Peter Rumondor

Mondo Gascaro at Lokatara Festival, captured by Peter Rumondor

Ardhito Pramono at Lokatara Festival, captured by Peter Rumondor

Salah satu penampil yang berhasil menarik atensi saya secara penuh adalah Trees & Wild. Set atmospheric yang ditampilkan mereka bisa dibilang berhasil kembali memanaskan suasana. Walau sempat mengalami gangguan teknis, tidak mengurangi energi yang mereka beri kepada audiens. Tapi sayang, hati kecil saya mengatakan kalau saya belum puas menyaksikan mereka karena adanya keterbatasan durasi.

Rice Wine at Lokatara Festival, captured by Peter Rumondor

TTATW at Lokatara Festival, captured by Ferdin Maulana

Setelah dibuat high & dry, kali ini giliran para headliners untuk menyapa para audiens yang datang. Penampilan pertama datang dari unit garage rock asal Canada, Yung Heazy. Jujur, saya baru pertama kali mendengar musik dari Yung Heazy. Dari segi penampilan, Yung Heazy terbilang cukup eksentrik dengan banyak berinteraksi dengan audiens dan beberapa aksi panggung yang layak di-highlight, seperti bagaimana sang gitaris dengan santainya mengganti senar di tengah penampilan, kemudian Yung Heazy menggendong gitarisnya saat solo, hingga memanjat rigging panggung. Penampilan urak-urakan tersebut memberikan hiburan tersendiri bagi saya walaupun secara musikal tidak ada yang cukup spesial selain bagian solo bass dan drum di sela-sela pergantian lagu.

Mellow Fellow at Lokatara Festival, captured by Raka Heryansyah

Polo of Mellow Fellow at Lokatara Festival, captured by Raka Heryansyah

Singkat cerita akhirnya giliran Mellow Fellow untuk tampil, mereka membawakan lagu – lagu hitsnya seperti ‘How Was Your Day’, ‘Best Friend’, dan lainnya, penampilannya cukup bisa membuat audiens berdansa kecil. Kemudian tibalah saatnya menyaksikan Boy Pablo. Antusiasme penonton mulai tak terbendung, mereka mulai meneriaki Boy Pablo dan kawan-kawan untuk cepat naik ke atas panggung. Dugaan saya benar, ketika mereka mulai naik ke atas panggung akhirnya hysteria penonton pun pecah. Baru kali ini saya merasakan lantai Ballroom Kuningan City bergetar begitu kencangnya. Nomor-nomor besar seperti ‘Dance, Baby’, ‘Sick Feeling’, ‘ Losing You’ hingga ‘Everytime’ sukses membuat penonton bernyanyi bersama dan berteriak histeris. Aksi panggung yang atraktif dengan lantunan nada easy listening menjadi suguhan penutup acara Lokatara Festival.

Boy Pablo at Lokatara Festival, captured by Raka Heryansyah

Ada satu hal membuat saya bertanya mengenai pemilihan musisi/band internasional yang tampil di acara ini, mungkin hal tersebut didasarkan pada popular demand? Entahlah saya pun tidak tahu. Jika iya, alasan tersebut cukup pragmatis untuk menarik massa. Salah satu panitia Lokatara menyampaikan kepada saya, bahwa kurang lebih 2000 penonton yang dating. Venue utama pun penuh sesak, bahkan AC yang awalnya dingin menjadi seakan berada di dalam sauna raksasa. Pemilihan atau kurasi penampil internasional tersebut menurut saya tidak cukup efektif dalam memberikan referensi musik yang lebih diverse kepada audiens. Mengapa? Karena hampir semuanya memiliki warna musik yang serupa, kalau kata anak-anak tongkrongan skena sih the-so-called-youtubecore mungkin (saya pribadi kurang setuju dengan pelabelan genre ini).

The crowds at Lokatara Festival, captured by Raka Heryansyah

Pada akhirnya, apalah artinya pemberian referensi lewat festival musik, toh pada akhirnya ini semua tidak selalu harus tentang bagaimana promotor berkewajiban mengedukasi selera pasar. Nyatanya para audiens pun terlihat sangat senang malam itu. Dari mayoritas penonton yang saya tanyakan mereka memang ingin menyaksikan penampilan Mellow Fellow serta Boy Pablo. Dengan digelarnya acara ini, Lokatara pun semakin menegaskan eksistensinya sebagai salah satu pemain baru yang potensial dalam industri musik.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *