LOADING

Type to search

Perjalanan Hidup Saya Mendewakan Dewa 19

COLUMN FEATURED

Perjalanan Hidup Saya Mendewakan Dewa 19

INCOTIVE 08/04/2019
Share

Teks oleh Ilham Shidqi Nurrahmadi
Ilustrasi oleh Rafii Mulya

Setiap orang cenderung memiliki sekumpulan lagu yang dapat mewakili masa kecil mereka. Sering kali lagu-lagu tersebut merupakan lagu yang kerap diputar saat masa kecil sehingga membekas di memori hingga kini. Tidak jarang pula lagu-lagu yang membekas tersebut tidak memiliki korelasi apapun dengan hidup kita di masa kecil, bahkan tak jarang lagu-lagu tersebut baru bisa dimengerti maknanya setelah kita beranjak dewasa.

Bagi saya sendiri, sekumpulan lagu yang saya maksud di awal tulisan merujuk pada lagu-lagu Dewa 19. Ya, anda tidak salah baca, Dewa 19. Mungkin saya termasuk ke dalam golongan anak-anak yang berpotensi terganggu kondisi psikisnya karena mendengarkan lagu orang dewasa, atau mungkin juga saya termasuk ke dalam golongan anak-anak yang menjadi sasaran empuk untuk dicibir oleh generasi-generasi yang lebih tua daripada saya.

Duh Miris ya liat anak-anak zaman sekarang dengernya lagu orang dewasa yang liriknya cinta-cintaan. Dulu sih gua dengernya Trio Wek Wek”. Mungkin seperti itu cibirannya, persis seperti penghakiman yang kerap kita berikan kepada tingkah laku orang-orang di bawah generasi kita. Namun seperti judul salah satu lagu Dewa 19 dalam album Laskar Cinta, Aku Tetaplah AkuAku tetaplah aku, begini!

Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, hingga detik ini juga saya tidak pernah melakukan hal yang “aneh” meskipun pada masa kecil saya mendengar lagu Dewa 19, bukan Trio Wek Wek. Tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikiran saya untuk mendeklarasikan secara terang-terangan bahwa saya ingin bercinta, seperti yang Dewa 19 lakukan, ataupun mengancam untuk membunuh seseorang yang mendekati lawan jenis yang saya sukai, yang sayangnya juga mereka lakukan.

Hanya satu pengecualian, seperti yang dituturkan Ibu serta beberapa tetangga saya karena saya pun agak lupa. Saya pernah dengan gegap gempitanya menyanyikan lagu Arjuna pada fashion show di acara 17 Agustus-an yang digelar di pemukiman rumah saya. Kalau tidak salah peristiwa itu terjadi pada periode 2003-2004, saya pun tidak dapat mengingatnya secara jelas, namun saya yakin hal tersebut benar terjadi karena pada waktu kecil saya sangat menggilai lagu tersebut.

Sebuah pengalaman membanggakan sekaligus memalukan. Membanggakan karena di umur yang sangat dini saya telah mencapai tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi untuk meniru vokal Once yang luar biasa dalam lagu tersebut. Memalukan karena saya yakin saya tidak mampu mencapai suara Once.

Jika pada malam bersejarah tersebut saya berhasil meniru suara Once, saat ini nama saya telah masuk ke dalam daftar bintang program Idola Cilik yang kian terlupakan seiring beranjak dewasa. Dunia hiburan memang kejam. Saya pun tidak begitu paham mengapa saya bisa suka Dewa 19. Pada masa itu Dewa 19 merupakan ‘pemain besar’ dalam konstelasi musik Tanah Air, yang artinya bahwa hampir mustahil untuk tidak mengenali lagu-lagu Dewa 19 pada masa itu.

Dewa 19 —kemudian menjadi ‘Dewa’ saja pada tahun 2000 sebelum kembali menjadi ‘Dewa 19’ pada tahun 2006 —terbentuk pada tahun 1986 oleh empat orang siswa SMP Negeri 6 Surabaya yakni Dhani Ahmad (keyboard, vokal), Erwin Prasetya (bass), Wawan Juniarso (drum) dan Andra Junaidi (gitar). Huruf depan dari nama mereka akhirnya membentuk akronim Dewa dan angka 19 yang tertera merupakan representasi dari umur mereka pada saat mereka mulai menapaki jalur bermusik secara serius. Pada kurun waktu 1992 hingga 1997, Dewa 19 berhasil menelurkan empat album yang sukses terjual ratusan ribu keping dan mengganjar mereka dengan berbagai penghargaan.

Pada tahun 1998, kebergantunganya dengan narkoba membuat Ari Lasso hengkang dari Dewa 19. Erwin yang juga terkena masalah narkoba ikut vakum sementara untuk rehabilitasi. Kondisi tersebut membuat Dewa 19 mencari vokalis baru dan akhirnya menjatuhkan pilihannya kepada Once, yang kemudian mengajak rekannya Tio untuk mengisi posisi drum yang kebetulan sedang kosong juga.

Akhirnya terbentuk formasi Once (vocal, keyboard), Andra (gitar), Dhani (keyboard, gitar, vocal), Tio Nugros (drum) serta Erwin (bass). Menurut saya formasi tersebut merupakan formasi Dewa 19 terbaik sepanjang sejarahnya. Pada tahun 2000, mereka merilis album Bintang Lima yang berhasil terjual sekitar 1,8 juta keping, rekor tertinggi mereka sekaligus membuktikan bahwa mereka tetap bisa eksis tanpa Ari Lasso dan Wong Aksan. Bintang Lima juga selalu menjadi jawaban saya atas pertanyaan “Album Dewa 19 favorit lu apa?” yang kerap ditanyakan pedagang-pedagang toko musik yang saya sambangi.

Tidak seperti Benjamin Button, seiring bertumbuh dewasa kualitas Dewa 19 justru semakin mandek. Musik yang mereka mainkan terutama pada album Laskar Cinta dan Republik Cinta dinilai tidak sekaya dulu dan jujur saja malah terdengar norak. Tak ayal, dua album tersebut sering dicap sebagai dua album terburuk Dewa 19. Selain itu, segudang kontroversi di atas dan di bawah panggung juga sama sekali tidak membantu mereka.

Puncaknya pada tahun 2011, setelah merilis empat album beserta satu album kompilasi bersama Dewa 19, Once memutuskan untuk keluar dan praktis Ahmad Dhani sebagai pionir Dewa 19 memutuskan untuk membubarkan band ini setelah 25 tahun, hingga jangka waktu yang tidak ditentukan.

Setidaknya 25 tahun karir mereka tidak sia-sia, Dewa 19 (juga Ahmad Dhani) telah mencatatkan namanya sebagai salah satu dari 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa versi (almarhum) majalah Rolling Stone Indonesia. Majalah Rolling Stone Indonesia melabeli 25 artis tersebut sebagai ‘The Immortals’. Nama Dewa yang tadinya hanya sekedar akronim dari empat remaja asal Surabaya telah menjelma mendekati arti dari nama yang mereka bentuk, bahkan melebihi ekspektasi yang pernah mereka bayangkan.

Dewa 19 merupakan bagian integral dari kehidupan masa kecil saya, musik mereka merupakan bagian dari pengalaman senang, sedih atau bahkan memalukan sekalipun. Saya tidak akan pernah lupa perasaan menyenangkan saat orang tua saya membelikan kaset pita Cintailah Cinta ataupun momen sewaktu SD di mana saya dengan bangganya membawa CD Dewa 19 dengan maksud memperkenalkan Dewa 19 kepada teman-teman saya di mobil antar-jemput sekolah saya yang ternyata tidak memiliki CD player. Dengan penuh kekecewaan akhirnya saya hanya bisa menggumamkan lagu-lagu Dewa 19 tersebut sepanjang perjalanan.

Terlepas dari segala kontroversi dan musik mereka yang belakangan norak —yang anehnya tetap saya nikmati. Dewa 19 tetap entitas yang selalu saya dewakan bahkan hingga detik ini. Mereka tidak hanya ‘Dewa’ dalam bermusik, namun lebih dari itu mereka juga ‘Dewa’ yang mampu memberikan dinamika dan warna-warni indah ke dalam perjalanan hidup saya.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *