LOADING

Type to search

Perspektif Penyelarasan Seni Lukis dan Gambar Makhluk Bernyawa Bagi Choirun Sholeh

FEATURED INTERVIEW

Perspektif Penyelarasan Seni Lukis dan Gambar Makhluk Bernyawa Bagi Choirun Sholeh

INCOTIVE 22/07/2018
Share

Reporter: Aufa Yovari
Ilustrasi: Nadhif Ilyasa

Melukis, terlepas dari alirannya, objeknya, serta tentang cara mengekspresikan pengalamannya, telah menjadi cara tersendiri yang unik bahkan sampai ke tahap yang mungkin terdengar asing, aneh, dan mengganggu kenyamanan bagi banyak orang terutama para seniman saat hal itu kita lihat berada di pikiran dari seorang pelukis bernama Choirun Sholeh, ‘Abah’ nama panggilannya.

Abah yang terpampang gamblang di Facebook-nya “Pelukis Alam Tanpa Makhluk Bernyawa”, yang merupakan seorang pelukis naturalis, telah membuat lukisannya laku terjual dimana-mana. Mantan presiden SBY, Dipo Alam, dan rentetan figur publik lainnya banyak yang membeli lukisan Abah. Ia pun juga aktif untuk menggelar pelbagai macam exhibition-nya. Seni memang bukan perihal keindahan, tapi tentang nilai yang dianut dan diwujudkan oleh si perupa, tetapi, lukisannya memutlakkan keindahan visual tanpa perlu jatuh ke dalam subjektivitas perseorangan.

Dengan penampilannya yang berjenggot panjang, celananya yang gombrong di atas mata kaki, sekelibat terlihat dua aspek identitas darinya; entah anggapan inilah gaya yang katanya nyeleneh dari para seniman, atau inilah gaya seseorang yang sedang merepresentasikan sebuah tampilan ajaran agama tertentu; kelompok tertentu; yaitu kelompok Salafi.

Source: Facebook/choirun.sholeh

Bukan objek lukisannya yang memperlihatkan pesan aspek agama seperti The Last Supper atau The Descent from the Cross, bukan juga lukisan macam seni orientalis Timur Tengah. Tapi pikiran dan pandangan agamanya yang menarik untuk diusut bagi saya, terlebih pandangan ini diamini dan dipraktekkan langsung oleh seorang seniman sepertinya. Abah dan pergerakan kaum Salafi yang diikutinya memilih satu pendapat dari dua pandangan tafsir dimana ada sebuah Hadits Nabi Muhammad yang melarang seseorang untuk menggambar makhluk bernyawa; seperti manusia dan binatang, yang mana teks keagamaan tersebut–atau kebanyakannya teks keagamaan yang mempunyai hubungan dengan budaya harus dipahami secara tekstual ayatnya tanpa perlu melirik illat atau dasar rasional konteks sosial-kultural pada masa itu.

Kalau hanya sekedar permasalahan bagaimana seni berperan sebagai infrastruktur agama, maka itu adalah hal yang biasa. Maksudnya, dikotomi ini mempunyai tautan setara dalam mempengaruhi cara kerja para seniman dalam berdakwah, misalnya. Namun, Abah bukan lagi berada di dalam waduk tersebut. Abah yang juga seorang seniman lukis sudah ‘rela’ terhadap beberapa medium seni lainnya untuk dipangkas, dibatasi pergerakannya, atau ditegaskan presensinya sebagai sebuah hal yang harus ditinggalkan menurut cara beragama yang dianutnya.

Kembali ke poin di atas, jika itu adalah persepsi baru atas sensasi yang ditawarkan dan diperjuangkan oleh Choirun Sholeh–tanpa menilbulkan rasa eksklusifitas–dapat ditangkap oleh audiens, apakah kemudian gagasannya menjadi sesuatu yang penting dan bernilai besar, atau bahkan tetap tidak penting dan kecil?

Berikut tambahan wawancaranya. (Ada beberapa teks yang saya kurangi tanpa menghilangkan inti narasi dari narasumber agar tidak terlalu panjang)

AY: Mengapa tidak mau menggambar makhluk hidup? Saya ingin mengetahui jawabannya langsung dari seorang seniman lukis.

CS: Silahkan lihat hadits-hadits riwayat Bukhori dan Muslim, ancaman-ancamannya baik adzab dan neraka pun bisa di-googling jika ingin tahu.

Apakah Abah memang senang dengan lukisan alams, atau itu pada awalnya hanya sebuah alternatif dikarenakan mengenal paham Salafi?

Aku ini bisanya cuma melukis, menghidupi keluarga juga dari melukis. Objek lukisan tidak terikat dengan objek tertentu.

Sesuatu yang dilarang Allah melalui Nabinya, aku yakin pasti ada mudharatnya. Dan Abah yakin orang-orang yang bertaqwa–menaati perintahnya–tidak akan Allah telantarkan.

Bagaimana Abah dan pemahaman Salaf melihat seni seperti musik, tari, teater, patung, dll?

Seni pertunjukan seperti tari atau teater tidak bisa lepas dengan musik; dan musik itu sendiri haram bagiku. Sedangkan patung, jika ia menyerupai makhluk bernyawa ciptaan Allah, maka ia lebih parah dari lukisan makhluk bernyawa.

Apakah paham ini akan menghambat dan memberikan sekat besar ke dunia seni?

Takdir sudah ditulis, pena telah kering. Kitab diturunkan untuk menjadi petunjuk. Siapa yang mengikutinya, dia akan selamat. Dan siapa yang mengingkarinya, maka ia akan binasa. Hal-hal seperti itu tidak akan menghambat pengembangan seni, justru ia akan sangat menambah dinamika pemahaman atas rasa seni itu sendiri. Silahkan siapa saja yang mau melukis, apa yang mau dilukis, bebas.

Bahkan, seseorang mau melukis orang yang sedang berjima’ sekalipun, ya terserah. Neraka dan Surga kan urusan masing-masing?

Siapa seniman yang paling menginspirasi Abah?

Aku ini otodidak murni, kalau melihat lukisan-lukisan Abah sekarang ini dan apa saja yang telah Abah lukis, rasa-rasanya tidak ada yang menjadi panutan dalam lukisan-lukisan Abah.

Apakah masih ada dari kalangan Salafi lainnya yang berprofesi seniman juga?

Banyak, bahkan Ustadz juga ada yang jadi pelukis.

Pesan terakhir?

Aku nasehatkan hendaklah bertaqwa kepada Allah, takutlah pada hari yang engkau akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang engkau perbuat dari apa yang kalian lukis. Jangan pernah takut dengan rezeki yang telah Allah jamin, bertaqwalah karena orang bertaqwa tidak akan Allah telantarkan

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).

“Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)

Kita memohon taufik agar kita diberi kekuatan utk melangkah meninggalkan perkara yang telah Allah haramkan, dan diberi ilham ke jalan Allah yang Allah ridhoi.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *