LOADING

Type to search

Eksplorasi dan Proses Pendewasaan Lamebrain Melalui For C. Marlowe

FEATURED SELECTION

Eksplorasi dan Proses Pendewasaan Lamebrain Melalui For C. Marlowe

Abyan Hanif 16/08/2019
Share

“Secara garis besar Lamebrain sukses mengeksplorasi musik secara luas, tidak hanya terpaku dalam kotak genre rock-rock 70an”

Dewasa bukan lah hanya sekedar ukuran kuantitatif yang menghasilkan angka-angka semata, bukan tentang berapa lama kalian hidup di dunia ini. Dewasa memiliki makna yang lebih dalam lagi dari sekedar berapa umurmu, sudah tingkat berapa kuliahmu, dan pertanyaan sejenis lainnya.

Secara singkat, dewasa berarti menjadi matang atau sedang dalam proses menuju kematangan rohani. Semua makhluk hidup termasuk manusia pun pasti pernah mengalami fase-fase pendewasaan di dalam diri semasa hidupnya, tidak terkecuali sebuah grup band Lamebrain dengan album perdana mereka.

Sejak pertama mendengar Lamebrain sekitar 6 tahun lalu, kesan anak muda berandal berambut gondrong dengan baju dan celana compang-camping selalu muncul dalam pikiran, belum lagi musik-musik mereka yang tidak jauh dari unsur beat drum yang powerful, suara gitar melengking ala-ala rock 70an dan bassline yang seakan menjadi perekat antara drum dan gitar.

Kesan tersebut terus menempel hingga selang 4 tahun sejak mereka merilis EP pertama yang berjudul Overpower, dimana acara perilisannya saya ingat betul digelar pada 18 April 2015, dan pada 1 Juli 2019 Lamebrain resmi merilis album penuh perdana mereka, For C. Marlowe.

Perombakan pada Lamebrain sendiri bukan hanya pada segi musiknya saja, tambahan satu orang pada gitar pun dilakukan sehingga mereka yang awalnya terdiri dari Alan pada Vokal dan Gitar, Mufti pada Bass, Prama pada Drum, dan yang terbaru Aslam pada Gitar.

For C. Marlowe berdasarkan press release yang dikirimkan Lamebrain bercerita tentang C. Marlowe, seseorang yang mendapat kutukan sehingga waktu tidak berpengaruh terhadap Marlowe dan ia pun berpindah-pindah zaman dan menjadi orang yang berbeda-beda di setiap zaman.

Gambaran Lamebrain sebagai band rock keras berisikan anak muda yang susah diatur seakan langsung luntur ketika mendengarkan track pertama yang berjudul Legless Beggar, mulai dari vokal yang lebih lembut, hingga atmosfer lagunya yang menimbulkan suasana kebingungan ketika kita menjadi manusia terakhir di dunia setelah perang nuklir. Belum lagi setelah mengetahui konsep albumnya yang cukup dalam dan menarik.

Drum pada Legless Beggar tidak jauh berbeda dengan lagu-lagu Lamebrain sebelumnya, tetap keras, bertenaga, dan rapih, namun bukan berarti drum monoton menjadi nilai minus, justru meningkatkan suasana menjadi lebih intense lagi pada lagu tersebut.

“The Ancestor” di-plot untuk mengisi lagu kedua pada For C. Marlowe, bercerita tentang sebuah raja yang ingin melakukan perjalanan antar waktu untuk bertemu dengan leluhurnya, suara gitar dipadukan dengan delay yang menjadi suara pendukung pada bagian: “I’ll find the possibilities, rather I die or not” menambah kesan bunyi statis listrik ketika sedang melakukan perjalanan antar waktu seperti di film Back to The Future.

Tempo up beat sejak dua lagu pertama langsung diturunkan pada lagu ke tiga yang berjudul “1593”, dimana ‘keputusasaan’ terasa sangat kental pada lagu ini. Hal tersebut diamini oleh Lamebrain pada kanal Youtube-nya yang mengatakan bahwa “1593” bercerita tentang C.Marlowe yang merupakan manusia abadi dengan semua pertanyaan dalam otaknya.

Harmoni vokal sejak awal lagu sukses membuat kesan ‘dingin’ pada lagu ini ditambah lagi ketika bagian chorus yang simpel tapi beunang.  Sudah cukup istirahat selama tiga menit 58 detik pada “1593”, pendengar langsung dihajar lagi dengan “Bunny’s Playground” dengan tempo yang lebih cepat dari “1593”.

Secara pribadi saya kurang cocok dengan lagu ini, namun bagian solo gitar dengan drum yang kagok hingga akhir lagu merupakan pengecualian. Pada urutan ke-5 merupakan salah satu lagu favorit saya pada album ini, yaitu “Repulse”. Setiap bagian dalam “Repulse” disusun sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah lagu yang sangat menarik untuk didengarkan, ditambah lagi perpaduan antara instrumen dengan instrumen yang saling mendukung satu sama lain.

Lagu ke-6 diisi dengan “Ruby”, lagu favorit di album ini, titik. Selanjutnya merupakan “Ace Combat” yang sebelumnya dirilis sebagai hidangan utama Album ini pada 19 Januari 2019. Memasuki akhir album, pendengar semakin di-gas lagi dengan lagu ke-8 yaitu, “Commencement” dengan groove enakeun yang didorong oleh tabuhan drum.

Penutup diambil alih oleh “Demeanor” dengan gitar akustik dan suara-suara burung yang seakan berkata “dadah, sampai jumpa~” yang menandakan pendengar sudah sampai di penghujung album. Lamebrain seakan menunjukan identitas barunya melalui album penuh pertama mereka. Dengan beberapa perubahan gaya, pada materi-materi barunya yang mengingatkan saya pada Radiohead, Porcupine Tree, dan David Gilmour yang dilebur menjadi satu.

Saya ingat betul mendengar isu-isu bahwa album tersebut akan keluar pada tahun 2017, namun akhirnya mundur sampai dua tahun ke tahun 2019. Namun hasil akhir dari album tersebut sangat memuaskan, hampir dari semua aspeknya. Selain itu, metode perilisan album yang cukup unik yaitu setiap lagunya dirilis satu per satu melalui kanal Youtube Lamebrain setiap hari senin dan kamis pada pukul 7 malam yang menambah gimmick dan membuat album tersebut semakin ditunggu-tunggu.

Secara garis besar Lamebrain sukses mengeksplorasi musik secara luas, tidak hanya terpaku dalam kotak genre rock-rock 70an, penantian saya selama sekitar tiga tahun pun tidak sia-sia, menjadikan For C. Marlowe album terbaik tahun 2019 sejauh ini. Terima kasih Lamebrain, sukses selalu!

Tags:
Abyan Hanif

Lahir di kota Kembang. Penulis amatiran. Full-time nankring, Part-time kuliah. Sporty abis. Bobotoh.

  • 1

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *