LOADING

Type to search

Racauan Seorang Pengaku Nasionalis Menjelang Pemilu 2019

COLUMN FEATURED

Racauan Seorang Pengaku Nasionalis Menjelang Pemilu 2019

Naufal Malik 26/04/2019
Share

Ilustrasi oleh Rafii Mulya

Menjadi seorang mahasiswa berarti harus membuat karya ilmiah sebagai pra-syarat menjadi sarjana. Kesibukkan menyusun skripsi yang kudu ilmiah dengan segala referensi dan kebacotan para scholar nan bijaksana pun membuat gerah di selangkangan (basah keringat). Menulis asal-asalan mungkin adalah jalan keluarnya. Jadi ini lah tulisan penyegar rohani dan tidak ilmiah karena tidak ada referensi bukunya.

Masyarakat modern, oleh para pemikir di peradaban dunia yang dikuasai kapital, dianggap sudah menanggalkan ke-udik­-kannya dan bersiap menghadapi dunia baru dimana kemutakhiran IPTEK dan kecanggihan dunia maya adalah kenyataan yang baru. Tapi, akan sangat egois apabila suatu studi yang bercermin dalam peradaban sendiri dianggap pula sama dengan peradaban lain. Barangkali analoginya sama seperti kupu-kupu yang heran mengapa kawannya katak tak kunjung bisa terbang.

Kalau kata dosen hukum adat saya kira-kira begini “masyarakat Indonesia itu magis-religius” seraya beliau mengenggak minuman dalam termos di hadapan para mahasiswa yang disinyalir isi termos itu intisari. Telah dalam diri kita semacam ikatan dengan hal-hal yang metafisika. Pun berkaca pada filosofi undang-undang pokok agraria yang salah satunya adalah bahwa masyarakat Indonesia memiliki ikatan dengan tanahnya sehingga negara hanyalah menguasai tanah, tetapi peruntukan tanah tersebut sebesar-besarnya untuk kemakmuran bangsa. Tan Malaka sendiri yang mengatakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang berpikir dengan logika mistika. Kepercayaan pada kekuatan-kekuatan ghaib ini yang membikin adanya sila “Ketuhanan yang Maha Esa” dalam dasar negara.

Lalu kemudian dikatakan narasi nasionalis berperan dalam fenomena politik berbalut agama saat ini pun menimbulkan banyak pandangan. Harus dijelaskan oleh si penulis narasi tersebut nasionalis yang seperti apa dan apa maksud dari kebanggan nasional? Jika nasionalis yang artinya pro inlander anti europeanen dan vreemde oosterlingen, maka dapat dipastikan nasionalis tersebut tidak lahir dari rahim pemikiran founding parents Negara Indonesia.

Telah jelas bahwa ketika proklamasi kemerdekaan dibacakan dan UUD 1945 diundangkan, maka terhapuslah konstruksi masyarakat kolonial Hindia Belanda yang digantikan dengan pembedaan antara warga negara dan orang asing di mata republik. Ringkasnya begini, menjadi bagian dari Bangsa Indonesia atau sempitnya menjadi warga negara Indonesia tidak memerlukan syarat-syarat anda dilahirkan dalam ras apa. Selama memiliki keyakinan terhadap pancasila dan mendukung tujuan negara Indonesia sebagaimana termaktub dalam alinea ke-4 UUD 1945, maka silakan saja daftar jadi warga negara.

Sekiranya saya perlu sedikit menjelaskan apa itu Bangsa Indonesia sehingga tidak dituding anjing pemerintah oleh kubu oposisi atau PKI oleh kubu penguasa. Sekiranya banyak kalangan mengatakan bahwa Pancasila adalah pemersatu bangsa sehingga secara sadar dalam pikirannya mengamini Pancasila sebagai identitas bangsa. Kalau ingin mengulik Pancasila, maka tidak ada salahnya mengulik Bung Karno yang merupakan penggali Pancasila itu sendiri (bedakan menggali dengan membuat ya).

Pancasila, kata Bung Karno, dapat diperas menjadi Trisila yang isinya adalah Socio-Nasionalis, Socio-Demokratis, dan Ketuhanan. Nampak dalam Trisila adalah inti ajaran Marhaenisme yang menginginkan suatu tatanan masyarakat yang dalam segala hal membela kepentingan kaum Marhaen. Jika Trisila itu diperas pun akan melahirkan Ekasila, yang dalam Ekasila itu ada “Gotong Royong.” Begitulah pendapat Bung Karno ketika Rapat BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945.

Sebenar-benarnya gotong royong lah yang menjadi inti kebangsaan Indonesia. Masyarakat Indonesia memiliki ciri khas yang mudah menerima pendatang dan saling membantu tetangga. Petani Indonesia telah menerapkan sistem production sharing contract dalam kerja sama pertanian jauh sebelum sistem kontrak tersebut diberlakukan oleh penambang minyak.

Orang Indonesia telah mengetahui mekanisme penyelesaian sengketa dengan putusan dari kepala adat jauh sebelum arbitrase internasional ada. Pelaut Indonesia pun mengenal bahwa laut dan samudra adalah pemersatu dunia dan milik semua orang berabad-abad sebelum munculnya International Law of the Sea. Manusia Indonesia adalah manusia yang menghargai manusia lainnya yang merdeka dan mengecam adanya penjajahan dan memimpikan perdamaian abadi diantara umat manusia.

Kesimpulan dari tulisan ngasal di atas adalah bahwa apabila dikatakan nasionalisme Indonesia berperan dalam kejadian-kejadian menjijikkan akhir-akhir ini agar kalangan tua tersebut masih bisa enak-enakan menikmati fasilitas negara, maka saya rasa itu bukan nasionalisme Indonesia yang komunal dan menghargai kemanusiaan. Mengutip kata Mahatma Gandhi “my nationalism is humanity.”

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *