LOADING

Type to search

Merasakan Realita Pembangunan Bersama Barasuara Lewat Guna Manusia

DAILY FEATURED

Merasakan Realita Pembangunan Bersama Barasuara Lewat Guna Manusia

Adam 23/09/2018
Share

Suguhan musik yang menghentak, kata-kata yang depresif dan makna substansial yang terkandung, disajikan dengan lengkap dalam rilisan terbaru milik Barasuara bertajuk Guna Manusia. Salah satu single yang menjembatani transisi dari album pertama Barasuara, Taifun, menuju album selanjutnya yang masih dirahasiakan kelahirannya. Judul yang hampir dimispersepsikan menjadi Gunawan Usia oleh oknum yang kurang teliti telah dikoreksi oleh pihak bersangkutan demi kenyamanan bersama. Namun lelucon itu hanya menjadi angin lalu dan sama sekali tidak berpengaruh terhadap keresahan yang ingin disampaikan oleh Barasuara melalui Guna Manusia; perubahan.

Sebagai penulis lirik, Iga Massardi dan Gerald Situmorang berupaya memberikan rasa khawatir kepada pendengarnya melalui seleksi kata yang digunakan. Mereka mencoba untuk menunjukan adanya realita dalam bentuk degradasi lingkungan di sebuah lingkup masyarakat sebagai akibat dari sikap ketidak pedulian. Asumsi yang memperkuat struktur cerita dari Guna Manusia.

Pada bait pertama, Iga dan Gerald menggunakan gelar ‘Nak’ sebagai sebuah penegasan peran dan interaksi antar generasi. Penulis lirik memberikan insentif pesimis, egois, serta oportunis yang sangat menonjol untuk menambah kesan cuek dan banal. Barasuara melakukan penegasan lainnya melalui prolog yang mengidentifikasi wilayah-wilayah otentik di kawasan Jakarta yang disertakan dengan keterangan angka dalam satuan sentimeter, seperti Cengkareng Barat 26.6 cm, Pantai Mutiara 24.7 cm, Ancol 12.9 cm, Kelapa Gading 20 cm dan Kebayoran Baru 13.9 cm. Angka-angka tersebut dapat mengacu pada ketinggian genangan air dalam konteks banjir, atau hitungan permukaan tanah yang terus menyusut. Dari pondasi yang dibangun, kerangka cerita mulai terbentuk sebagai sebuah pemaparan fakta di lingkungan kota Jakarta. Pendekatan yang segar. Memudahkan pendengar untuk menginterpretasi niatan dari penulisan Guna Manusia, tidak seperti lagu Barasuara sebelumnya yang multitafsir dan menimbulkan ambiguitas.

Apakah Barasuara berupaya untuk menjadi representasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia? Atau sebagai brand ambassador dari organisasi lingkungan non-profit seperti Green Peace? Tentu tidak! Barasuara tidak akan membuang energi liarnya untuk mengkritisi instansi melalui protes-protes kebijakan milik pemerintah. Mereka ingin bercerita soal resiko dari sebuah pembangunan yang masif dan megah. Resiko yang dirasakan semua orang, di mana pun itu, tidak terbatas pada ruang lingkup tertentu seperti Jakarta. Pada kalimat “menangisi sisa lautan, memanaskan daratan,” dapat dimaknai sebagai akibat dari pembangunan tersebut. Sebut saja reklamasi teluk Jakarta, reklamasi Teluk Benoa, atau prediksi tenggelamnya pulau Jawa dalam beberapa tahun ke depan.

Asumsi yang juga memperkaya komposisi cerita dalam penciptaan Guna Manusia. Barasuara mencoba membuat kita terhentak sesak lewat musik pembukaannya. Terdengar seperti genderang perang, berdebar dan menegangkan. Suasana kompetitif kental di dalamnya. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, “mengkhawatirkan”. Setelah lelah bertarung, suasana berubah menjadi lebih reda pada bagian outro. Begini kira-kira, “Kita mencari celah untuk bertahan, mencari ruang. Kita mencari celah adaptasi. Mencari guna manusia. Tiap langkah rusak semua.” Nyatanya, ornamen kekhawatiran itu tidak hilang begitu saja. ‘Tiap langkah rusak semua,’ katanya. Gubahan musik yang diracik pada bagian akhir disajikan dengan suasana kontemplatif. Barasuara melakukan apa yang kita tidak pernah sadari lewat aransemen apiknya; mencari guna manusia.

Kesadaran diplot sebagai sasaran utama dari Guna Manusia. Menggugah perasaan, membuka cakrawala baru, dan menggelitik rasa malu pendengarnya. Jika sasaran tersebut terlalu berlebihan, maka sah-sah saja jika Barasuara hanya ingin marah-marah serta mewakili kekhawatiran kita semua lewat lagu ini. Guna Manusia dimaknai seperti dinamika kehidupan; berantakan, mengalahkan, dikalahkan dan melelahkan. Lagu Guna Manusia bisa langsung anda rasakan lewat tautan di bawah ini:

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *