LOADING

Type to search

Sepak Terjang dan Rencana Reuni Martin Scorsese

FEATURED SELECTION

Sepak Terjang dan Rencana Reuni Martin Scorsese

INCOTIVE 06/09/2019
Share

Teks oleh Husna Rahman Fauzi
Ilustrasi oleh Rafii Mulya

Musim semi tahun 1970 jalanan New York penuh sesak oleh mereka yang sedang berdemonstrasi di jalan-jalan Wall Street. Mereka membawa poster-poster bertuliskan penolakan terhadap perang Vietnam. Aksi dari mereka kaum hippies anti perang tersebut menyebar dan semakin masif ke pusat pemerintahan Amerika Serikat di Washington D.C.

Dari ratusan ribu orang dari berbagai latar belakang ras, suku dan budaya, seorang pemuda bernama Martin Scorsese, yang kala itu baru lulus dari jurusan film Tisch School of the Arts, New York University turut berjalan bersama para demostran.

Berbeda dengan orang-orang kebanyakan, Martin muda yang berambut gondrong dan penuh brewok berjalan diikuti kamera dan alat perekam, mengambil gambar dan mewawancarai demonstran yang ikut dalam aksi tersebut.

Dokumentasi tentang demonstrasi besar itu difilmkan dengan judul Street Scenes yang pada bagian akhir film direkam oleh Edward Summer di dalam ruangan hotel yang memuat perbincangan spontan antara Martin Scorsese, Harvey Keitel, Jay Cocks dan Verna Bloom dan beberapa mahasiswa film dari New York University yang frustasi akan keadaan politik Amerika.

Martin Scorsese yang lahir pada tahun 1942 adalah satu dari sebagian banyak orang keturunan Italia-Amerika yang menghuni kota berbau busuk New York yang di setiap sudut jalan Bronx, Queens, dan Brooklyn dipenuhi jalanan gelap dan ghetto-ghetto. Ia tinggal di kawasan bernama Little Italy, yang dikenal sebagai kawasan sarang kelompok besar mafia.

Semenjak kecil Martin sering sakit-sakitan. Scorsese kecil awalnya bercita-cita menjadi pendeta. Namun datanglah suatu waktu ketika kedua orang tuanya mengajaknya pergi ke bioskop. Semenjak keberangkatannya menonton film di bioskop, kecintaan Martin kecil pada film semakin menggebu-gebu.

Martin rela melakukan apa pun demi menonton film. Dari mulai menyewa gulungan di rental dekat rumahnya sampai menumpang di televisi tetangga untuk menonton karya-karya sutradara Seven Samurai, Akira Kurosawa.

Kecintaanya terhadap film harus menggerus cita-citanya menjadi pendeta. Martin yang tadinya akan membaptis anak-anak keluarga Mafia, seperti yang bisa kita lihat di film masterpiece, Godfather, malah pergi mendaftar ke jurusan film Tisch School of the Arts, New York University dan berhasil lulus pada 1966.

Meski gagal menjadi pendeta, Martin menebusnya dengan menyelesaikan film religi berjudul “The Last Temptation of Christ”. Pembuatan film yang diadaptasi dari novel Nikos Kazantzakis ini memakan waktu bertahun-tahun.

The Last Temptation of Christ berpotensi besar memicu penolakan dari kelompok agamis. Dan benar saja pada tahun perilisannya tidak sedikit orang yang menolak pemutaran film garapannya. Di samping mendapat protes, antusiasme publik akan film ini membuat bioskop-bioskop penuh berdesakan.

Bukan iman dan spiritualitas saja yang memberi Martin inspirasi terhadap karya-karyanya. Kondisi dan latar belakang kehidupan keras Little Italy serta pengaruh-pengaruh tontonan dan gaya sutradara-sutradara dunia seperti Roberto Rossellini dan Vittorio De Sica yang mengambil sensibilitas kebudayaan orang-orang Sisillia turut membentuk tema besar yang sering diceritakan oleh Martin dalam karya-karyanya.

Selain fokus, Martin adalah orang yang tidak muluk dalam memilih aktor, bahkan ia cenderung memiliki aktor andalannya sendiri. Pada tahun 1970 sampai 1990-an, Martin menjalin persahabatan dengan aktor Robert de Niro dan Joe Pesci yang menghasilkan 8 film. Film-film drama yang dihasilkannya begitu mengagumkan.

Tangan dingin Martin menghasilkan film  hitam putih berjudul Raging Bull dengan setting latar seadanya dapat memperkuat jalan cerita. Bahkan menurut kritikus film The Guardian, Peter Bradshaw, “Raging Bull is one of great method performance of modern American cinema, probably the greatest”.

Kemudian, siapa yang tidak tahu rambut Mohawk Robert de Niro yang ikonik dalam film Taxi Driver? Setiap pecinta film pasti tahu akan monolog legendaris Robert de Niro “You talkin to me? You talking to me? You talkin to me? Then who the hell else are you talkin.. you talkin to me? Well I’m the only one here. Who the fuck do you’re talking to? Oh yeah? Ok”. Taxi Driver selain sukses dan digadang sebagai magnum opus Martin Scorsese juga sebagai batu loncatan bagi Robert de Niro.

Selain kedua film di atas, Martin juga terbilang sukses menggarap film bertema sejarah. Martin membuktian sekali lagi pada dunia bahwa ia masih bisa membaptis lewat karya film. Film klasik Casino yang menceritakan tentang kota para penjudi Las Vegas berhasil menggambarkan bagaimana keterlibatan mafia pada bisnis haram tersebut.

Dilanjut dengan Goodfellas yang menceritakan perampokan Lufhtansa sukses menyabet nominasi Academy Awards dan memenangkan lima penghargaan dari British Academy of Film and Television Arts, termasuk kategori film terbaik dan sutradara terbaik. Ketika menonton Goodfellas, kita seperti dapat melihat ciri khas dan gagasan yang dibentuk oleh Martin.

Saat pagelaran Santa Barbara International Film Festival, Martin mengungkapkan apa inspirasinya dalam membuat film “we can make something really strong and a film that didn’t give a damn about it. Just started with street violence, racial violence, right in the street the actual footage”.

Selain Robert de Niro, medio 2000-an, Martin bertemu dan bekerja sama dengan aktor kondang Leonardo di Caprio dalam film Gangs of New York yang mengisahkan  sejarah  perang besar New York antara para pendatang katolik Irlandia melawan pribumi Amerika yang anti katolik plus anti imigran.

Leonardo di Caprio menjelaskan pada suatu wawancara bagaimana rasanya bekerja dengan seorang Martin Scorsese, Leonardo di Caprio menjelaskan “Martin adalah sutradara yang terbuka pada apa pun, dia selalu mencoba untuk menangkap kebiasaan-kebiasaan manusia dan menjadi petualangan baru buat dia, maksudku dia itu Martin Scorsese” dan semua orang tertawa mendengar ucapannya mengingat Martin Scorsese telah berumur 70.

Seperti halnya seorang Mafia atau wine, semakin tua, semakin baik. Hal ini dialami Martin, disenjakalah usianya ia masih memproduksi film-film yang tidak kalah bagus saat ia masih muda, film-film seperti The Departed, yang mendapatkan Oscar hingga film drama thriller epik berjudul Shutter Island.

Di umurnya yang ke 76 Martin belum kapok, rencananya tahun 2019 ini Martin akan meluncurkan film reuninya bersama Robert de Niro dan Joe Pesci berjudul The Irishman. Film tersebut akan rilis pada tanggal 27 September 2019 dan diputar di seluruh gereja bioskop-bioskop seluruh dunia.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *