LOADING

Type to search

Retrospeksi Kultur Film Indonesia Tahun 2017

DAILY

Retrospeksi Kultur Film Indonesia Tahun 2017

Share

Ilustrasi oleh Nadhif Ilyasa

Rasanya semua akan setuju, jika 2017 adalah tahun yang melelahkan. Dimulai dari kasus Iwan Bopeng, diskriminasi dan rasisme, kemunculan kata “kids jaman now”, drama 007 Papa Setnov, sampai suguhan atraksi apaan-sih-tapi-nggak-bisa-stop-nontonnya yang berjudul Bukti dari Virgoun. Singkat kata, banyak persitwa yang cukup menguji ketahanan mental dan hati yang terjadi sepanjang tahun 2017.

Namun, seperti kodratnya sebuah tahun, Tuhan tentu selalu berbaik hati memberikan peristiwa-peristiwa menarik yang membuat kita tersenyum jika melihat kembali hal tersebut. Selain pop-culture diatas, bagi para penikmat film di Indonesia juga banyak terjadi peristiwa unik yang tidak kalah hebatnya. Berikut adalah beberapa kejadian yang terangkum mengenai kultur penikmat film yang ada di Indonesia.

AKU INSTASTORY MAKA AKU ADA

Konon sejak dahulu kala kegiatan rekam-merekam di bioskop memang sudah menjadi budaya di Indonesia. Dulu, kegiatan ini paling banter dilakukan sama kaum-kaum elit saja, maklum handycam kan harganya lumayan. Belum lagi mereka harus menguasai teknik seribu bayangan supaya nggak ketahuan pegawai bioskop. Lagipula tujuan para perekam ini juga sangat dermawan: mendistribusikan ke lapak-lapak film terdekat agar dapat dikonsumsi publik yang tak punya uang cukup ke bioskop. Sungguh pekerjaan yang mulia.

Sekarang, hampir semua orang sudah pakai smartphone yang didalamnya ada applikasi Instagram-yang didalamnya lagi ada fitur khusus yang dibuat untuk pamer-pamer unyu, bernama Instastory. Semua orang yang ingin terlihat paling up to date akan membagikan hal yang menurut mereka menarik di Stories, salah satunya merekam adegan saat film lalu mengunggahnya ke Instagram hingga barisan updatenya menyerupai titik-titik SBM PTN.

Hey jangan senang dulu, kalian-kalian yang suka pamer di Instastories kalau lagi nonton episode terbaru dari serial Game of Thrones dan Stranger Things juga masuk ke kategori ini.

TAHUNNYA FILM HOROR

Tahun 2017 menjadi tahun yang mengejutkan ketika horor bangkit dan kembali merajai tangga box office setelah sebelumnya genre ini sempat terkena kasus “KAEPCI: Paha & Dada” sehingga banyak kehilangan kepercayaan dari penontonnya. Tidak ada yang menyangka bahwa film seperti Danur bisa masuk kederetan teratas dengan perolehan 2,7 juta penonton. Bagi kalian yang nggak sempet nonton Danur, berarti kalian telah melewatkan bagaimana Mba Prilly Latuconsina, sekuat apapun dia mencoba, tetep aja nggak bisa akting.

Formula film cinta syariah yang biasanya menjadi primadona, ternyata juga masih kalah jumlah penonton dengan film-film horor di tahun ini. Walau Surga Yang Tak Dirindukan 2 terbilang sukses dengan penonton mencapai 1,5 juta pasang mata lebih, tetap saja ia masih kalah dengan Jalangkung yang filmnya begitu tetapi sukses dengan perolehan 2,5 juta penonton.

Hal yang paling mengejutkan datang dari Pengabdi Setan. Film-film Joko Anwar sebelumnya hampir selalu gagal meraih penonton. Meskipun responnya selalu bagus. Pengabdi Setan tidak hanya menjadi film Indonesia terlaris tahun ini dengan 4,2 juta penonton. Namun, berhasil melahirkan teknik marketing baru dengan sukses mengajak penonton menciptakan ribuan meme soal “ibu”. Kabar baiknya adalah, film ini tidak hanya berhasil meraih banyak penonton, tapi ia juga bisa membuat penonton mengapresiasi bahwa genre ini bukanlah genre murahan lagi. Kalau boleh jujur, Pengabdi Setan terlihat kayak Insidious X Conjuring, tetapi sejatinya ia telah berhasil mengangkat standarisasi genre horor di Indonesia menjadi sangat tinggi.

APRESIASI BAGI FILM HIGH-CONCEPT

Sebenarnya apresiasi bagi film high-concept di dunia sinema di Indonesia, sudah sangat berkembang sejak saban hari dan bukan baru-baru ini saja. Bagi film-film arthouse seperti ini, pujiannya memang berbanding terbalik dengan jumlah penonton yang didapatkan. Seberusaha apapun sang produser mencari cara untuk membuat filmnya laku, hasil akhirnya tetap saja ada ditangan penonton.

Memang, jumlah penonton yang banyak tidak menjadi target utama bagi film-film jenis seperti ini. Tetapi, walaupun diatas kertas penontonnya tidak seberapa, berbagai reaksi mulai dari ulasan media sampai komentar-komentar positif di jagat maya bagi nama-nama seperti Posesif, The Seen and Unseen, Turah dan yang paling anyar Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak menjadi sangat menyenangkan di tahun ini ketika film-film seperti ini bisa lebih lantang terdengar dan mendapat apresiasi yang lebih luas dari penonton secara umum.

MENURUNNYA PRODUKTIFITAS LEBAH GANTENG

Siapa yang tak kenal inisial nama ini. Lebah Ganteng adalah salah satu legenda hidup didalam pembuatan subtitle berbahasa Indonesia untuk film yang sering kita tonton via streaming atau hasil mengunduh di Torrent. Bagi sebagian pecinta film di Indonesia, ia layak disebut pahlawan.  Tanpa jasanya, mungkin orang-orang yang tidak mengerti bahasa asing hanya bisa menikmati film luar dengan bahasa kalbu, atau bagi orang-orang yang sudah fasih berbahasa asing namun memiliki kemampuan listening yang kurang baik ia juga hadir membantu.

Kabar duka mewarnai jagat perfilman Nusantara, bagaimana tidak sang legenda itu tampaknya sudah jarang membuat subtitle. Dulu kala, selain selalu update subtitle film terbaru, subtitle buatan Lebah Ganteng juga luwes bahasanya. Ia tahu frasa apa yang harus diterjemahkan secara formal, frasa apa yang lebih cocok diartikan dengan bahasa slank, serta frasa mana yang tidak perlu ditranslate.

Namun, kita nampaknya tidak perlu terlalu larut dalam kesedihan. Nama-nama lain penggiat subtitle seperti Kakek Salto, Rizal Adam, dan tentunya legenda hidup lain Pein Akatsuki. Mereka-mereka ini masih rela meluangkan waktu berjam-jam, mengulang-ulang film, menerjemahkan setiap dialog pada ratusan film, agar orang lain, kita, dapat terpuaskan. Doa Incotive menyertai kalian. HOBAH!

MARI NOBAR KEMBALI FILM PENGKHIANATAN G 30 SPKI

Lengkap sudah inkar janji Pak Jokowi bagi aktivis HAM, setelah janji-janji kampanyenya mengenai penyelesaian kasus Munir dan hilangnya korban-korban ’98, hingga kasus genosida ’65 yang tak kunjung kelihatan tindaknya.

September 2017 kemarin ia menyambut baik ide Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang kita hormati, untuk membuat nobar film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI, yang penuh teror itu. Lebih-lebih pak Jokowi menyarankan untuk segera membuat “versi milenialnya”.

Di lain pihak, mereka yang kontra akan kewajiban nobar film ini, mempertanyakan faedah pemutaran film yang sarat dengan unsur kekerasan dan propaganda Orde Baru. Dikatakan propaganda karena peristiwa tersebut masih menimbulkan banyak pertanyaan, sementara film hanya  mempertontonkan alur cerita cersi pemerintah Orde Baru saja.

Akan tetapi jika dipikir-pikir kembali, sebenarnya memang benar ini ide yang luar biasa jenius dan menarik sih. Kapan lagi coba kita melihat Aidit diperankan oleh Reza Rahadian dan adegan ngerokoknya diganti jadi ngevape biar milenial banget?

BOIKOT FILM ANAK

Tahun ini memang penuh kejutan bagi dunia perfilman di Indonesia. Selain banyaknya berita positif mengenai film-film kita ada pula ribut-ribut mengenai film drama musikal anak, Naura dan Genk Juara yang dinilai kontroversi oleh masyarakat lantaran dianggap menghina agama Islam. Bahkan ajakan boikot film tersebut ramai di media sosial.

Film itu dianggap secara terang-terangan menggambarkan sosok penjahat adalah Muslim dengan tampilan penjahat yang berjenggot, selalu mengucapkan istighfar dan mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah lainnya.

Selagi Star Wars: The Last Jedi masih tayang di bioskop kesayangan kita, Incotive Institute of Mistique meramalkan akan terjadi boikot jilid dua karena film itu telah berusaha mengajarkan manusia untuk menyekutukan Tuhan demi mendapatkan ilmu ghaib seperti hipnotis dan menggerakan benda tanpa disentuh yang disebut dengan “force”.

Retrospeksi Film IG

Dari berbagai peristiwa yang terjadi bagi para penikmat film tanah air tentunya dapat kita lihat bagaimana dunia sinema di Indonesia telah berkembang sedemikian rupa. Banyak hal positif yang bisa kita ambil, seperti menurunnya kegiatan mesum di bioskop karena telah berganti menjadi kesibukan Instastory, meningkatnya standar film nasional, sampai pemboikotan film-film yang menginjak harga diri umat.

Di tahun 2018, Incotive berharap akan lebih banyak pemuda-mudi yang gemar memakai baju “Directed by Quentin Tarantino” dan menganggap jikalau Wes Anderson adalah sutradara ter e s t e t i k a sepanjang masa.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *