LOADING

Type to search

Retrospeksi Peristiwa dan Pop-Culture Indonesia Tahun 2017

DAILY

Retrospeksi Peristiwa dan Pop-Culture Indonesia Tahun 2017

Ferdin Maulana 12/12/2017
Share

Ilustrasi oleh Nadhif Ilyasa

Tahun ini Indonesia dapat digambarkan seperti roller coaster. Kadang anda dibawa tinggi keatas lalu dihantam ke bawah, pokoknya tidak menentu. Banyaknya peristiwa dan variatifnya pop-culture di Indonesia, mulai dari tren kamera analog, lagu akad, rusa dicekokin anggur merah, hingga “kids jaman now” membuat tahun 2017 ini sangat menarik untuk kita telaah kembali. Tentunya dapat juga menjadi bahan retrospeksi kita untuk tahun-tahun berikutnya. Berikut adalah beberapa dari banyaknya peristiwa dan pop-culture tahun 2017 di Indonesia.

Setya Novanto

Korupsi dari tahun ke tahun selalu menjadi masalah dalam perekonomian dan politik di Indonesia. Setya Novanto a.k.a Papa, sosok yang menjadi public enemy ini nampaknya menjadi hal yang penting untuk retrospeksi tahun 2017. Mulai dari kasus E-KTP, drama rumah sakit, kasus meme, hingga cederanya tiang listrik telah menambah warna-warni dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Prihatin rasanya dimana seseorang yang terkena musibah justru dihina, ditertawakan, dan membuat sukacita untuk banyak orang. Namun, harus rasanya melihat suatu hal positif dari setiap kejadian. Setya Novanto telah menjadi Sasuke Uchiha bagi Indonesia, banyak masyarakat Indonesia yang bersatu tanpa melihat agama, ras, suku, dan bani-banian oleh karenanya. Belum genap sebulan sejak Setya Novanto ditetapkan sebagai tersangka muncul kembali seorang antihero, Frederich Yunadi, Robin Hood bagi orang-orang kaya yang mengajarkan kita betapa indahnya kemewahan dan tas Hermes.

Demo Cantik

Salah satu komunitas go internasional di Indonesia melakukan sebuah aksi demonstrasi. Agar ramai, maka diadakan pada tanggal-tanggal cantik supaya lebih enak disebarluaskan. Demo maha dahsyat, yang sampai-sampai Raja Arab Saudi datang untuk bertemu sang pimpinan komunitas ini, ternyata diikuti oleh 7 juta, bukan, tapi 100 juta orang dari seluruh penjuru dunia. Keberhasilan event ini membuat EO-nya ketagihan hingga membuat volume atau edisi berikutnya. Antusias dari masyarakat juga meningkat hingga kemarin perayaan satu tahun demo besar tersebut dihadiri satu miliar manusia.

Thrift Shop dan 35mm

Design Bisnis Latah 2

Banyak orang yang bilang kalau trend itu akan mengulang dengan sendirinya. Tahun ini giliran jajan di thirft shop dan kamera analog yang kembali menjadi trend generasi muda Indonesia. Hal ini diawali dengan ramainya feed instagram dengan hashtag 35mm atau film is not dead dan akun-akun toko online yang menjual kamera film serta barang-barang vintage yang “dikurasi” dari Pasar Senen, Pasar Baroe, dan pasar-pasar lainnya. Dampaknya kamera analog dan roll fim bila kita amati dengan teori ekonomi dimana kelangkaan membuat harga komoditas menjadi sangat mahal telah teratasi dengan trend ini. Pada tahun 2011 harga roll film mencapai harga 65 ribu turun menjadi 50 ribu berkat popkalcer 2017 ini. Sayangnya demand yang semakin tinggi membuat harga kamera analog kini menjadi sangat mahal.

Di lain sisi munculnya toko thirftshop online membuat banyak pedagang tradisional mengalami kerugian. Banyak penjual toko online yang menawar rendah harga di pasar namun dijual kembali dengan harga berkali-kali lipat. Kalo kata om Marx ini sih kapitalisme. Sejak kejadian ini pasar-pasar tradisional mulai pintar dan menaikan harga-harga pakaian contohnya di Gedebage, Bandung. Semoga ini tidak menyulitkan para konsumen yang benar-benar kurang mampu ya. Trend selalu berputar mungkin nanti thrift shop dan kamera analog akan tenggelam dengan sendirinya seperti yang sudah-sudah.

Mendadak Sastra

Bila kita mengamati sosial media seperti Instagram, anda mungkin sering melihat banyak teman anda yang memfoto langit dengan caption puitis seperti “Bila senjamu akan pudar, maka aku akan tenggelam bersama hujan”. Fenomena ini cukup menarik dimana akhirnya puisi kembali menjadi konsumsi anak-anak muda Indonesia. Chairil Anwar, Sapardi, dan Aan Mansyur pasti senang dengan banyaknya jumlah anak muda yang mulai membuat dan mengapresiasi seni sastra. Dengan ilmu cocoklogi ala Incotive kami meyakini bahwa trend ini kembali muncul sejak keluarnya film AADC 2 dan lagu-lagu folk tanah air yang berisi lirik-lirik “senja” yang sedang ramai diminati sobat indie.

Lagu Akad dan Kawin Muda

Lagu karya Payung Teduh bertajuk “Akad” yang meledak tahun 2017 ini sebanding dengan Surat Cinta Untuk Starla, Asal Kau Bahagia, dan Despacito. Akad merupakan lagu yang sering kita jumpai dari cafe hingga warung mie tabrak. Sejak pertama kali didengar lagu ini langsung masuk ke dalam otak dan sering tanpa sadar kita nyanyikan meski tidak hafal liriknya.

Perempuan mana yang tidak meleleh bila pacarnya meng-cover lagu ini di Instagram? Meledaknya lagu akad karya Payung Teduh ini telah membuat banyak orang tidak sabar melepas status lajangnya. Apa lagi lagu ini sangat cocok untuk dijadikan backsound perkawinan.

Selain itu faktor signifikan yang mempengaruhi banyak generasi muda ingin nikah muda di tahun ini adalah influencer-influencer atau selebgram muda yang mengumbar pernikahannya bagai putri kerajaan dalam film Disney, membuat rasanya gejolak muda ini tidak sabar lagi untuk segera mencinta sehidup semati. Indahnya masa muda..

Kebangkitan Pemuda-Pemuda Kiri

Design Berdikaribook

Tahun ini rasanya tidak sedikit anak muda yang haus akan ilmu pengetahuan. Hingga ilmu yang sering di cap sebagai aliran kiri oleh masyarakat ini tidak luput dari kehausan mereka. Om Marx dan mas Tan Malaka contohnya, sangat digemari anak muda akhir-akhir ini.

Fenomena ini dapat kita temui langsung dijalanan seperti kaos-kaos bersablon wajah Munir, Widji Thukul, Che Guevara yang dipakai anak-anak muda. Lagu mas Jason Ranti “Bahaya Komunis” tidak lupa dianggap sebagai lagu yang jenius. Penjualan buku-buku aliran kiri mulai dari basement Blok M hingga online juga laris manis belum lagi sering terjadi debat kusir di kolom komen. Pokoknya kapitalisme dan korporat jahat deh.

Masyarakat Prejudis

Masyarakat Indonesia sejak dulu memang dikenal sangat prejudis. Baru baca berita di grup Whatsapp langsung bawaannya panas aja, apalagi tahun ini. Di LBH ada acara pelurusan sejarah pasti PKI, Indonesia banyak utang pasti salah Jokowi, SNSD mau tampil di Jakarta pasti ingin menghancurkan moral bangsa. Pokoknya ini adalah ajaran monyet Darwin, Jokowi yang salah dan PKI harus dibasmi, lho emang masih ada ya..?

Gender dan seksualitas

1510580843776

Tahun ini di negara-negara maju banyak sekali isu mengenai gender. Bahwa gender banyak jumlahnya dan laki-laki dan perempuan adalah perkara jenis kelamin. Di Indonesia juga ramai soal isu gender terutama di sosial media. Isu ini menjadi menarik terutama di Indonesia yang kental dengan budaya patriarki dan religius. Masih banyak masyarakat yang tidak memahami dengan betul apa peran kesetaraan gender dan masih berpikir perempuan harus lebih hebat dari laki-laki atau sebaliknya.

Seringnya terjadinya cat calling dan banyaknya kejadian pemerkosaan di tahun ini juga sangat memprihatinkan. Edukasi seks yang dianggap tabu, dan edukasi soal gender yang masih dianggap sepele berperan penting dalam masalah ini. Sebelum mulai membahas agender, demi-boy dan lainnya alangkah baiknya kita mulai dari hal yang paling sederhana yaitu laki-laki dan perempuan mencoba saling menghormati dan tidak merendahkan.

Anggur Merah

Indonesia sedang mengalami krisis hiburan. Contohnya di Taman Safari, aktifitas yang stagnan membuat pengunjung bosan dan bertindak ekstrem demi mendapat kesenangan. Mencekoki hewan-hewan kebun binatang dengan anggur merah adalah solusinya. Insiden ini tentu saja memprihatinkan, betapa masih banyak pemuda kita yang tak paham etika dan kepantasan dalam bersikap. Jika saja pihak Taman Safari lebih rajin mengadakan aktivitas unik seperti hewan-hewan yang justru mencekoki anggur merah pada manusia sambil berteriak “JACKPOT!” pasti insiden ini tidak akan terjadi.

KIDS JAMAN NOW

Yang terakhir penghargaan kalimat ter-overused jatuh kepada “Kids Jaman Now”. Kalimat ini merupakan suatu ekspresi saat melihat kelakuan anak kecil dan remaja yang bikin geleng-geleng kepala, atau sering dikatakan “kebanyakan makan mecin”. Hal ini juga ramai sejak akun-akun kak Seto palsu bertebaran di media sosial. Pokoknya anak kecil dan remaja bego dikit harus ngeluh, komen, atau bilang “Kids Jaman Now”. Kenapa tidak “Anak jaman sekarang”? KARENA PERSETAN KBBI POKOKNYA KIDS JAMAN NOW!!!

issue-introspeksi-ig

Dari beberapa peristiwa dan tren 2017 yang telah diretrospeksi dapat menjadi bahan renungan kita tahun ini. Dimana dapat kita lihat masih banyak masalah-masalah sosial yang terjadi disekitar kita, mulai dari wakil rakyat yang tidak bertanggung jawab, anak muda yang masih tidak memahami etika yang baik, sampai edukasi seks dan gender yang masih dianggap tabu.

Namun, tidak dapat disangkal masih banyaknya hal positif yang kita temukan. Misalnya seni sastra yang makin berkembang, lagu Akad yang membuat antusiasme pernikahan tinggi sehingga mengurangi resiko seks bebas, dan Komunitas Supreme Magelang. Di tahun 2018, Incotive berharap dapat menemukan titik terang untuk permasalahan tahun ini dan meningkatnya variasi tren-tren yang selalu berputar.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *