LOADING

Type to search

Review: A Copy of My Mind

DAILY

Review: A Copy of My Mind

Share

Saya bukan kritikus film web 2.0 yang suka menuliskan resensi atau ulasan film di dunia maya. Saya adalah penonton film yang sebisa mungkin mencari gratisan atau harga murah untuk menikmati keindahan gerak, drama, dan percakapan dalam sebuah film. Saya gemar menonton film dan sebisa mungkin mengikuti trend film di dunia yang sedang ramai, mungkin saya menyebut diri saya sebagai seorang penikmat film yang lebih sering menonton dengan meminta file hasil downloadan teman atau pergi ke toko dvd bajakan dan bertanya “bang ini gambarnya udah bagus?”. Sesuatu yang digambarkan dengan sempurna oleh Joko Anwar di dalam A Copy of My Mind bagi siapapun penikmat dvd bajakan.

Sebagai pengagum Kala-film bergenre noir pertama yang saya tonton yang juga membuat saya tergila-gila dengan alur cerita dan segala teka-tekinya atau Pintu Terlarang-yang membuat saya akhirnya dapat menikmati film thriller setelah sebelumnya tidak pernah suka, saya lebih berharap mas joko membuat film-film berdarah penuh teka-teki lagi karena tidak adanya film bagus seperti itu di Indonesia. Tapi sebagai fanboy dari Joko Anwar, A Copy of My Mind tetaplah menjadi suatu masterpiece yang haram untuk di lewatkan.

A Copy of My Mind bercerita tentang Sari (Tara Basro), mba-mba pekerja facial di salon murah yang bercita-cita bisa punya home theater di rumahnya dan hidupnya sangatlah monoton. Setiap pagi harus mengantri mandi sambil menggosip dengan mba-mba kosan lainnya, pergi dan pulang kerja naik kopaja, beli dvd bajakan dan nonton di kamar kosannya sambil makan mie rebus sebelum tidur. Dan Alek (Chicco Jerikho), abang-abang si pembuat subtitle dvd bajakan yang hidup sama monotonnya. Taruhan alay-alay balapan motor, lalu begadang untuk membuat subtitle, saat pagi menyerahkan hasil kerjanya kepada bos, dan menyempatkan diri ke warteg untuk membelikan makan ibu kos yang tidak di rawat keluarganya. Lalu keduanya bertemu, jatuh cinta, dan di hadapi masalah. Sesederhana itu.

Kesederhanaan yang di tawarkan A Copy of My Mind membuat film ini terasa sangat dekat, latarnya tidak asing, dialog yang apa adanya, dan kejelian Joko Anwar untuk mengajak orang-orang sekitar menjadi lawan main Sari dan Alek membuat film ini semakin dekat dengan penonton. Kedekatan yang membuat saya terbawa oleh kisah cinta yang di hadirkan A Copy of My Mind. Dialog di film ini sangatlah jujur, tidak perlu Sari dan Alek berbalas puisi seperti Zainuddin dan Hayati sampai berbusa, atau bertengkar melulu seperti Pat dan Tiffany dalam Silver Linings Playbook, pada akhirnya kita pun tau kalau Sari dan Alek sedang di mabuk cinta, dengan pembawaan yang biasa banget tapi malah membuat film ini jadi terlihat ga biasa banget.

Keberhasilan A Copy of My Mind dalam membuatnya terasa begitu otentik tidak terlepas dari kehebatan Ical Tanjung dalam memainkan kamera, sinematografer Halfworlds ini berhasil menangkap gambar dengan sangat manis. Pergerakan kameranya yang kacau mengikuti gerak tubuh malah terlihat menawan. Gambar-gambar dalam film ini sangatlah real memperlihatkan kondisi Jakarta yang berantakan, sesak, dan kotor, tetapi di perlihatkan dengan jujur apa adanya, visualnya pun tidak memakai banyak pemanis membuat film ini terasa sangat alami. Rooftop Sound Jakarta yang membuat 70 lagu untuk film ini, juga sangat sangat berhasil membawa kita masuk ke dalam suasana. Anda bisa mendengar suara dangdut remix di toko dvd Glodok, dangdut koplo yang ngiringin Alek dan Sari bermesraan, atau suara ngaji yang terdengar sampai kosan Sari saat ia baru pulang kerja. Membuat Joko Anwar benar-benar berhasil membuat time capsule kondisi Jakarta di tahun 2015.

Sebagai pecinta Jakarta dan kehidupan kelas minornya A Copy of My Mind seperti tidak memberikan jarak buat saya. Saya adalah penganut jargon Cinema ParadisoLife isn’t like in the movies, life is much harder” dan film-film Joko Anwar yang terdahulu tetap memberikan batasan bahwa yang kita tonton hanyalah sebuah film, tapi kali ini ia berhasil membuat saya seperti menonton sebuah film dokumenter sepasang kekasih dari kelas minor yang menghadapi kerasnya Jakarta dan sekalipun mereka di hadapi sebuah masalah besar, cara Joko Anwar membawa karakter Sari dan Alek dalam menghadapi masalah tersebut sangatlah brilian dan tetap menjadikan film ini terasa real.

Chicco Jerikho dan Tara Basro bermain dengan sangat mempesona, dengan chemistry yang mereka bawa membuat kita masuk dalam dunia mereka yang pada akhirnya kita akan berharap mereka akan terus bersama saat datangnya masalah.

Bagi Joko Anwar dia berhasil membuktikan bahwa dia berhasil keluar dari zona nyamannya dan tidak melulu membuat film berdarah, walaupun dia membuat film Janji Joni dan menulisArisan! dan Quickie Express. 3 film terakhirnya Kala,Pintu Terlarang dan Modus Anomalimembuatnya di labeli sebagai sutradara film berdarah.

Film ini terasa sangat sederhana di bandingkan dengan film Joko Anwar yang lainnya yang penuh dengan twist, tetapi itulah yang membuat film ini sangat istimewa dengan kejujurannya. Setidaknya menonton film ini bisa membuat saya merasakan lagi jatuh cinta kepada film Indonesia.

12Acopuy

  • Di tulis tanggal 11 Februari 2016

Foto: Muvila,imdb

Tags:
Previous Article

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *